M.A.M.A -> Yang Nggak Akan Pernah Terganti

Pagi ini seperti biasa, saya dan mama berada di rumah. Ketika Iwan, adikku, belajar di IPB nan jauh dari Sumatera, Sadi yang masih SMP lagi asyiknya belajar di SMP N 17 Jambi, dan papaku yang bekerja di Sabak, hanya kami berdua lah penghuni rumah di komplek Permata Kenali pagi ini. Saya selalu seperti ini setiap pagi, kadang kami mengobrol, saling bantu, dan juga kadang bersalah paham.

Saya dilahirkan oleh mama saya dengan sempurna. Tepatnya di RS Charitas Palembang, pada siang hari yang waktu itu tercatat pada 2 Mei 1990 (Hari Pendidikan Nasional), saya lahir ke dunia. Kalo dibayangin ya, aku nggak habis pikir gimana saya bisa meluncur ke dunia ini? Mama pasti berkorban besar untuk saya, nggak tanggung-tanggung sedari saya masih di kandungan saya sudah diajarkan sesuatu hal yang positif untuk diri saya kelak. Mama saya berharap Bella Moulina bisa jadi anak yang baik. Sepertinya itu yang saya tangkap hingga saat ini.

Mama bagi saya orang pertama yang selalu ada di hati ini. Dia rela mengorbankan waktu dan tenaga serta ketulusannya dalam merawat saya dan kedua adik laki-laki saya sedari kecil hingga kami beranjak dewasa. Bahkan mama saya diboyong ke sebuah desa setelah saya berumur ± 4 tahun. Ya waktu itu papa bertugas di Nipah Panjang, Muara Sabak. Mau nggak mau mama ikut toh? Tapi mama berusaha survive di tempat itu. Saya juga mendapat cerita kalau dulu mama berniat mengajar di Nipah Panjang (menjadi guru tepatnya), tapi papa tidak mengizinkan karena saya dan adik laki-laki saya (Iwan) harus dijaga. Mama saya pun ngikut ama kata suami. Hmm, saya pun harus mengikuti kata suami kalau udah berkeluarga bukan? Mama saya ihlas sampai sekarang berada di rumah dan menjaga anak-anaknya. Ia bukan tipe mama yang sangat protektif, tapi ia memberikan amanah-amanah yang membuat kami harus selalu mengingantnya. Beliau selalu memberikan kontribusi positif terhadap apa yang saya dan kedua adik saya lakukan, sepanjang itu membuat kami lebih baik dari sebelumnya.

Meski saya jarang curhat dengan mama, kadang saya suka mengobrol dengan beliau. Apa saja, tentang hal yang ada di sekitar kami, tapi nggak jarang pula obrolan itu disertai ketidaksesuaian ide, hehe.. Biasa lah berbeda pendapat, saya pun nggak mau berlarut-larut kalau hal ini terjadi, biasanya setelah beberapa jam akur lagi.

Yang membuat saya salut dengan mama adalah pengorbanannya untuk keluarga ini. Cita-citanya menjadi guru harus ia kubur karena harus mendidik kami, membuat kami merangkak lebih baik dalam menata hidup. Hal itu pula yang mungkin ia tanamkan kepada saya agar hidup sederhana. Beberapa diantarantaranya kami memiliki kesamaan, tapi ada satu hal yang kami tidak sama, mama orangnya kurang berani, kalau saya berani, hehe..

Tulisan ini saya tujukan untuk mama saya, wanita hebat di keluarga kami. Yang selalu berdoa dan berusaha untuk anak-anaknya lebih dari dirinya. Agar anak-anaknya bisa membahagiakan siapapun di hidupnya. Dia lah mamaku, yang nggak akan pernah terganti oleh apapun. Saya cuma bisa berharap agar Allah SWT memberikan umur yang panjang kepada beliau agar kami selalu bercengkrama setiap saat. Mungkin saya masih banyak salah kepadanya, tapi saya cinta mama. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s