Tiga Kali Gagal Tidak Membuat Saya Menyerah

“Orang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya tidak akan pernah merasakan keadaan stuck dan kemudian bangkit melawan kegagalan itu. Yang terpenting jangan berlarut-larut dalam meratapi kesedihan karena gagal, tapi pahamilah jika kegagalan adalah puncak dimana kita akan mendapatkan apa yang sudah lama kita inginkan.”
Dalam kurun waktu Agustus 2009-Agustus 2010, saya melihat kalo gagal itu emang pengalaman paling menyakitkan di dalam hidup ini. Siapa sih yang nggak mo unggul dalam berkompetisi? Siapa pula yang mo jadi urutan belakang ketika tahu nama kita nggak tercantum dalam daftar pengumuman yang menduduki peringkat teratas? Di antara kurun waktu itu pula lah, saya merasakan tiga kali gagal dalam mencapai apa yang saya inginkan. Semuanya saya ikuti dengan baik, sesuai prosedur, nggak takut, dan pantang menyerah. But Allah SWT didn’t give me a chance to win the competition. I know that Allah SWT gives me chance in another way, bukan memberi keberhasilan dalam kurun waktu gagal tersebut.
Ini sekelumit cerita saya ketika saya gagal sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu tahun. Pertama, pada bulan Agustus 2009 (kalo nggak lupa waktunya, hehe) saya mengikuti program beasiswa sebuah perusahaan rokok ternama di Indonesia. Cukup bergengsi dan nggak sembarang orang bisa dapat beasiswa ini (pendapat ini saya ambil dari cerita senior yang sudah berhasil mendapatkan beasiswa serupa di tahun sebelumnya). Well, saya tertantang aja buat ikut, meski saya bukan termasuk anak aktivitis (cuma aktif di pers kampus, TROTOAR), tapi saya punya keinginan besar untuk mencapai sesuatu yang bisa bikin hidup saya lebih berkembang dan memiliki pengalaman. Akhirnya ikut lah saya bersama beberapa teman di program studi saya, FKIP Bahasa Inggris. Kami sepakat untuk berkompetisi secara sehat, siapapun yang terpilih nanti adalah rejeki dia.
Setelah mengikuti prosedur, bolak-balik ke tempat seleksi beasiswa yang jauhnya minta ampun…kabar pengumuman yang lolos beasiswa pun merebak. Pikir saya, mungkinkah saya diberikan kesempatan olehNya? Apa saya layak menyandang predikat beasiswa tersebut? Hmm, nothing to lose actually, tapi dalam hati lumayan harap-harap cemas, hehe… And…jreng, jreng, jreng! Pengumuman yang lolos beasiswa pun tidak membuat saya berharap banyak, in fact my name wasn’t there. Cukup membuat saya bertanya-tanya kala itu, apa yang membuat saya tidak lolos? *saya selalu mengevaluasi diri ketika gagal*
Anyway, it was embarassing moment when I knew that I had not passed it. Saya pun menghibur diri dengan kegiatan lain. Sampai suatu ketika saya melamar untuk menjadi delegasi Jambi dalam Indonesian Youth Conference (IYC), sebuah wadah bagi anak Indonesia untuk berkumpul membicarakan problematika di Indonesia, mencari solusi, dan menggerakkan perubahan sekembalinya mereka ke provinsi masing-masing (IYC diikuti oleh anak muda di 33 provinsi). This program was conducted by Alanda Kariza, seorang cewek muda yang sangat concern dengan Indonesia, dan tentunya udah melakukan banyak perubahan bagi anak muda untuk berpikir maju dan mengembangkan indonesia. IYC pun membangkitkan semangat saya untuk mendaftar. Tanpa pikir panjang lagi, I applied through email and waited for a month to know who is delegation from Jambi and other 32 provinces.
Gossshhhh, menunggu sekian lama itu emang nggak enak, kalo seminggu sih nggak apa-apa, tapi rasanya menunggu hari dimana nama kita tercantum di website ato nggak pastilah bikin deg-degan. Saya menaruh harapan pada program ini, karena niat tulus saya adalah menggerakkan perubahan di Jambi (as much as I can). Bahkan ketika pihak panitia mengundur pengumuman beberapa waktu pun membuat saya tambah TAKUT! Lolos ato nggak ya?
Lagi-lagi saya dihadapkan pada kenyataan kalo saya nggak lolos. Fase pada Februari 2010 ini bikin saya tambah bingung, apa ya salah saya? Apa waktu mengisi formulir saya salah persepsi? Apa yang membuat Puji Rahayu, delegasi Jambi, cewek yang berasal dari Merangin ini terpilih dalam IYC? Waktu itu saya emang belum tahu dan nggak mo mikir lama karena kegagalan, saya pikir toh percuma meratapi nasib karena gagal tanpa mencoba kompetisi lain. Finally, setelah IYC selesai dan Puji balik ke Jambi, saya lantas menghubungi dia, menanyakan apakah dia bersedia menjadi narasumber saya untuk saya masukkan di koran Xpresi Jambi Ekspres? Alhamdulillah dia bersedia kala itu. Saya menganggap dia istimewa, jarang sekali anak daerah bisa lolos menuju kompetisi nasional (two thumbs up for her!), makanya saya ingin tahu apa ide dia untuk membuat perubahan di Jambi, apa isi formulir yang ia kirimkan, apa saja pengalaman yang ia dapatkan selama di Salihara, Jakarta? Setelah berjanji untuk bertemu di LSM KKI Warsi (LSM lingkungan), saya pun ngobrol ama Puji, dan saya pun nggak melewatkan pertanyaan: “Puji, perubahan seperti apa yang kamu tulis dalam IYC kemarin?” Dia pun bilang kalo masalah lingkungan menjadi perhatian paling utama untuk menggerakkan perubahan di Jambi. And you know what, she is concern in one case, whereas my writing isn’t concern in one topic! Ya, saya sadar kalo perubahan yang saya maksudkan di dalam formulir tidak fokus pada satu hal dan yang paling mendesak di provinsi saya, atas dasar itulah saya jadi tahu dimana letak kesalahan saya. *kalo mo kirim lamaran, inget harus fokus pada satu hal*
Next story was happened when I was joined Youth Exchange program which held by Dispora Jambi. Yup, terhitung saya sudah dua kali mengikuti program pertukaran pemuda ke luar negeri ini. Dan pada Maret-April 2010 kemarin saya ikut bersama teman-teman satu prodi (kira-kira ada 5-7 orang dari prodi saya) dan semua yang ikut cewek! Hehe, nggak heran sih karena negara yang dituju Kanada, meminta delegasi perempuan dari Jambi. Jadilah saya ikuti prosedurnya, tes TOEFL, tes kemampuan pengetahuan daerah Jambi dan Indonesia, harapan sebagai pemuda Jambi, pengenalan budaya Jambi, tes fisik (menurut saya ini paling berrraaaaatttttt!), dan lainnya. Optimisme saya cukup besar sejak dua kali gagal (bukan malah down ya? Hehe…). Saya berusaha dan berdoa pada Allah SWT untuk memberikan hasil yang terbaik pada kompetisi ketiga ini. But unfortunately, kegagalan harus menghampiri saya lagi. Ya, mungkin ikut Youth Exchange ini nggak cukup satu kali ya? Jadi mesti gagal beberapa kali, hehe…just kidding!
Ketiga pengalaman gagal di atas kadang membuat saya sebal, apa yang harus saya benahi lagi? Tapi terkadang bikin saya senyum dan memaknai hidup, Tuhan pasti punya rencana lain di balik kegagalan yang terus menghampiri saya. I know Allah SWT loves me, and other chances is waiting for me! Itu adalah cara saya menyikapi dan tersenyum atas kegagalan. Pokoknya jangan sampai patah arang buat mengeksplor kemampuan diri.
Suddenly, pada bulan Juli lalu, saya nggak sengaja buka akun Twitter Titi Kamal (kalian tahu cewek ini kan? ^_^), di timeline-nya tertulis info mengenai jalan-jalan keliling Indonesia dalam rangka menyebarkan rasa semangat cinta Indonesia! Dan itu semuanya GRATIS! Dalam hati saya berkata, ini kompetisi benar-benar saya banget, saya mencintai negara ini melebihi apapun, saya ingin semua orang juga tergerak melakukan perubahan dan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Pada akhirnya saya memberanikan diri mendaftar dan melamar di antara 60.000 orang yang turut melamar via online tersebut. Setelah mengikuti beberapa proses (jawab pertanyaan, buat video, isi formulir, bikin tulisan, dan sampai pertanyaan paling gelegar “BAGAIMANA CARA KAMU UNTUK MENYEBARKAN RASA SEMANGAT CINTA INDONESIA?”), dan masuk ke dalam finalis 1000 besar, 500 besar, dan akhirnya 66 PETUALANG AKU CINTA INDONESIA DETIK.COM! Alhamdulillah, Allah SWT memberikan saya kesempatan untuk meraih impian setelah sekian lama gagal meraih apa yang saya inginkan. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan saya, saya bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia, mengeksplor indahnya pariwisata dan budaya Indonesia, melakukan perjalanan pertama kalinya tanpa didampingi orangtua, dan yang terpenting misi saya agar makin banyak orang yang cinta negeri ini melalui tulisan saya pun terwujud. Ya, saya yang termasuk dalam kloter 2 (berangkat pada 4 Oktober) sangat antusias mengikutinya, begitu pula rekan perjalanan saya yang cukup gokil (anak Jakarte sih), hehe…Kak Atre, membuat saya nggak putus asa melakukan eksplorasi negeri bahari ini. I thank you to Allah SWT, saya merasakan kembali semangat saya berkobar karena impian saya terwujud. Apa yang saya idam-idamkan selama ini dikabulkan olehNya, Ia membuat saya percaya pada pepatah “Berakit kita ke hulu, berenang kita ke tepian.”
Nah guys, kalo kamu sekarang ngerasa gagal dan nggak percaya diri lagi karena keseringan gagal, nggak usah takut buat mencoba ya. Saya bisa melalui kegagalan itu dengan hati yang lapang dan berserah diri kepadaNya, jadi kamu juga bisa dong? Allah SWT pasti menginginkan yang terbaik untuk kita, seperti kamu menginginkan yang terbaik untuk hidupmu. Tapi semuanya kita kembalikan kepadaNya agar hidup ini nggak stuck pada satu hal. Kamu boleh nangis dan marah atas gagalnya peristiwa di hidupmu, tapi KAMU NGGAK BOLEH MERATAPI NASIB DAN MEMAKI KEGAGALAN SEHINGGA MEMBUATMU LARUT DALAM KESEDIHAN DAN NGGAK MO BERUSAHA LAGI. Ada saat dimana kita berada di atas, dan terkadang kita menjadi roda yang berada di bawah. So take it easy! Selagi kamu tahu dimana kesalahanmu dan kamu bisa memperbaikinya di masa depan, it’s oke kok. Tapi yang nggak boleh kamu lupakan adalah, suatu saat Allah SWT pasti mengabulkan impianmu, mungkin dengan jalan lain, waktu lain, dan program berbeda. Selalu semangat dan jangan pernah takut gagal! (bellamoulina)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s