My mind, my thought (sorry for Mrs. Ella)

Guys, sebenarnya tulisanku ini sudah ditulis sekitar 2 minggu yang lalu, tapi aku baru post sekarang, hehe…met menikmati.

Men’s best successes come after their disappointments.
Henry Ward Beecher.

Pagi ini aku bangun jam berapa ya? Hmm, yang pasti jam 6-an gitu. Bangun pagi langsung buka facebook dan twitter. Lihat notification dan update status pastinya. This is my habit when i wake up in the afternoon.
You know, waktu mo update status di facebook dan twitter, aku menulis tentang Material Design and Development. Saking aku cinta ama pelajaran ini, aku bikin status update yang bilang kalo:

“Dan aku menanti MDD pagi ini.. Semoga Bu Ella masuk, amin..”

Aku menulisnya dengan segenp hatiku. Aku menulisnya karena memang, jujur, aku termotivasi oleh Bu Ella akan cara dia mengajar kami. Menurutku Bu Ella membuat kami semangat belajar. Memotivasi kami untuk mengajar dengan lebih baik. Membuat perubahan dalam mengajar dan mengambil ilmu baru untuk diaplikasikan ke pengajaran Bahasa Inggris.
Honestly, i can say that Mrs. Ella is one of the motivational teacher beside Mr. Yanto. Aku tahu Bu Ella ingin kami berubah. Aku yakin beliau memiliki harapan yang tinggi untuk kami. Ya, aku tahu itu. Intinya, aku senang kalo beliau mengajar kelasku, kelas A Bahasa Inggris 2007 semester 6.
Walaupun badanku pegel-pegel, tapi aku tetap semangat berangkat kuliah. Sebelum berangkat, aku sudah mengirimkan sms kepada dua orang temanku, eka dan kak nur. Aku beritahukan kepada eka, tolong bawa laptop yang transferan software encarta ditransfer ke laptopnya. Serta aku juga sms kak nur, aku mo minta tolong pinjam flashdisknya supaya bisa transfer ke laptop ato flashdisk temen-temen di kelas.
Sampai di kelas, aku telat 15 menit-an, dan Bu Ella belum masuk. Aku memilih untuk duduk di depan. Sambil harap-harap cemas apakah ibu datang ato nggak. Sembari menunggu beliau, aku tanyakan kepada kedua temanku, apakah mereka membawa pesananku? Eka jawab, “Nggak Bel, berat aku bawa laptop,” dan kak nur jawab “Ya Bel, kak bawa, tapi flashdisknya nanti dibersihkan dulu ya.” Wussh, heran deh aku kenapa sih sedikit banget yang mo berkorban bawa laptop untuk ditransfer ke temen-temen lain? Sumpah, ada ya orang kayak gitu? Ya untuk meminimalisir kekecewaanku, akhirnya aku berinisiatif agar flashdisk kak nur dibawa ke rumah eka untuk ditransfer disana.

Sebenarnya aku pengin melihat respon temen-temen terhadap hasil transferan tersebut. Ada nggak kira-kira yang punya inisiatif duluan untuk meng-copy? Tenyata nggak ada! Waduh! Sudah dikasih kemudahan, kenapa nggak dimanfaatkan toh? Padahal setelah aku meng-copy encarta minggu kemarin di laptop eka, aku sudah kasih tahu melalui temen-temen di depan kelas. Aku bilang, “Siapa yang mo copy encarta, ambil ama eka aja ya, karena software-nya ada disana.” Dan aku berharap temen-temenku punya inisiatif sendiri untuk bertanya dan meng-copy.

Tunggu ditunggu, Bu Ella akhirnya masuk kelas. Langsung bicara dan nanya, “Apa sudah ada yang copy encarta?” Lalu kami menjawab, “Belum sempat bu,”. Dan kamu tahu apa reaksi Bu Ella saat mendengar pengakuan polos tapi gila itu?
“Kalian ini sudah kayak lebih sibuk daripada ibu. Padahal saya tahu kalo saya lebih sibuk dari kalian. Kesannya tuh kalian nggak peduli dengan alat software berteknologi seperti ini, dan cenderung mengabaikan ilmu pengetahuan. Ibu kecewa dengan kalian.”
Glek,,,aku takut banget saat Bu Ella marah. Entah kenapa aku merasa bersalah banget. Kayaknya tatapan mata Bu Ella mengarah kepadaku. Padahal jujur bu, aku sudah kasih tahu ke temen-temen sejak seminggu yang lalu. Aku juga sudah kasih tahu ke eka dan kak nur kalo aku minta tolong mereka membawa peralatannya untuk meng-copy encarta. Sungguh Bu, saya minta maaf, saya nggak bermaksud seperti itu.
Selanjutnya Bu Ella menanyakan kepada kami sudah berapa yang meng-copy. Namun hanya eka lah yang sudah meng-copy, sedangkan aku dan teman-teman lainnya belum ada, dengan alasan nggak sempat, nggak punya laptop, dan nggak punya flashdisk!
Oke lah alasan bisa diterima, tapi apa salahnya sih nanya ke temen-temen siapa yang punya flashdisk 4GB untuk menampung encarta yang berkapasitas hampir 3GB itu? Aku benar-benar nggak habis pikir dengan mereka. Segitu cueknya! *SIGH*
Dengan perasaan kacau balau, aku menyesali tindakan temen-temen yang nggak inisiatif dengan perkembangan terbaru dan memiliki seribu alasan untuk menghindar, dan segitu cueknya dan tetap ketawa-ketiwi setelah Bu Ella memutuskan untuk nggak mengajar pagi itu. Sampai jumpa minggu depan, begitu kata Bu Ella.
Masih terngiang-ngiang di telingaku saat Bu Ella mengucapkan:
“Kalo belajar kalian seperti ini, mau jadi apa di masa depan? Mau jadi PNS yang kerjanya Cuma menyogok lewat uang?”
“Kalian seperti anak kampung saja!”
Bu Ella, maafkan kami……………

Bella’s bedroom
3th june 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s