A Letter for My Teacher

“Catatan Kecil Sang Penerang Jiwaku”

Selamat pagi guruku, bagaimana kabarmu hari ini? Tentunya aku berharap yang terbaik untukmu. Semoga kau senantiasa diberi kesehatan olehNya, agar kau bisa mengajar dan mendidik murid-muridmu, amin…
Wahai guru yang ku hormati,
Apa kau sudah terima surat-suratku sebelumnya? Apa kau sempat membacanya di tengah-tengah kesibukanmu dalam mengajar? Apa mungkin kau menyentuh suratku ya? Akh, aku rasa tidak masalah jika kau tidak membacanya. Yang penting, surat ke-9 ini sudah ada di tanganmu, dan ku harap engkau sudi membaca tulisan tanganku yang semrawut ini ya, karena ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu.
Memori itu terkenang kembali di kepalaku tadi malam ketika aku menulis surat ini untukmu. Aku ingat akan jasa-jasamu ketika menerangkan pelajaran yang sama sekali tak ku mengerti. Kau bersedia mengulangnya kembali, menjelaskan kembali apa yang telah kau katakan hingga aku dan teman-temanku dapat mengerti sepenuhnya. Bahkan ketika kau bertanya apa masih ada pertanyaan, tangan kananku dengan sendirinya terangkat, menanyakan hal-hal sepele yang mungkin kau sudah bosan menjawabnya. Maaf ya guruku…
Guru yang ku cintai…
Apa kau masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika aku masih kelas 6 SD? Hmm, aku pikir aku bodoh sekali waktu itu. Aku benar-benar tidak mengindahkan perkataanmu. Kau bilang: “Jangan bermain di atas meja, Bella sayang,”. Lalu apa jawabku? Aku tak menagcuhkannya, aku terus asyik berlompatan kesana kemari dari satu bangku ke bangku lainnya demi mengejar pena yang direbut oleh temanku. Kau sudah berkali-kali memperingatkan, tetapi aku tak peduli. Samapai akhirnya aku terjerambab dan tersandung kursi. Sakitnya bukan main, guru, terlebih lagi aku malu kepda diriku sendiri, mengapa aku tidak mengindahkan perkataanmu. Dan kau hanya tersenyum melihat tingkah laku gadis cilik ini, serta membantuku berdiri kembali. Sekali lagi maafkan aku karena sudah menyusahkanmu.
Kasih sayang guru tak pernah bertepi kepada murid-muridnya. Cinta guru seluas samudera, dan begitu pula harapanmu kepada kami teramat besar. Berharap anak didiknya kelak berguna bagi nusa dan bangsa, menjadi pribadi berkarakter dan pemberani.
Ya, keberanian itu muncul ketika aku masih SMA. Mungkin kau masih ingat betapa beraninya aku mengajukan dii ke depan kelas hanya untuk menjelaskan teks descriptive kepada teman-temanku. Mungkin kau masih ingat betapa antusiasnya aku belajar bahasa inggris sebagai reporter dan pembaca berita. Kau berikan aku stimulus, kau berikan aku semangat, kau yakinkan bahwa aku bisa, dan kau membuat aku berani untuk tampil di depan orang banyak, sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti.
Teruntuk mereka yang menerangi jalanku ketika aku tesesat…
Aku tidak bisa menyebutkan hanya satu nama yang menghiasi hatiku akan terpsonanya sosok sang guru. Di hidupku, aku temui lebih dari 100 guru yang mengajar, mendidik, dan mengayomi diriku dari TK hingga saat ini. Karena itu, aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, yang mungkin luput ku ucapkan ketika kita masih bercengkrama.
Guruku yang tak ku tahu apa kau masih mengingatku atau tidak…
Aku ingin menyampaikan rasa kagumku terhadapmu, rasa rinduku akan sentuhan hatimu, rasa iba akan perjuanganmu, dan rasa hormatku yang teramat besar kepada kalian, semua guru-guru yang telah menyentuh pribadi ini menjadi tegar dan kuat.
Teruntuk guru-guruku, mereka yang selalu ada ketika aku haus akan ilmu…
Tanpa kalian, aku takkan pernah tahu siapa seorang Bella Moulina itu sebenarnya.
Tanpa kalian, aku takkan pernah mengerti mengapa hanya bumi yang dapat kita tinggali.
Tanpa kalian, aku takan pernah tahu bagaimana nikmatnya membaca, menulis, dan berhitung.
Tanpa kalian, aku takkan pernah tahu apa yang harus aku lakukan ketika aku besar nanti.
Tanpa kalian, aku takkan bisa memompa semangat untuk terus belajar hingga akhir hayat.
Tanpa kalian, aku takkan penah menjadi seorang Bella Moulina yang utuh, yang berdiri di podium ini untuk bernyanyi walau hanya sepenggal kalimat, atas rasa cinta dan hormatku yang teramat indah untuk dilukiskan.
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa…

“Terima kasih guru-guruku, jasa kalian akan terus ku kenang sepanjang hayatku. Semoga surat ke-9 ini kan selalu kau simpan di hatimu”

9 Desember 2009
Anakmu yang mencintaimu

Bella Moulina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s