12 km Untuk Ilmu  

20140414_134752[1]

“Ibu benar mau naik oto bareng katong?”, tanya anak saya suatu hari.

                “Iya, nanti tunggu ibu sebentar ya. Ibu mau beres-beres dulu, nyiapin pakaian untuk berangkat,” jawab saya yakin.

Begitulah pembicaraan saya dan siswa kelas 3 yang tinggal di Leli beberapa waktu lalu. Saya memutuskan untuk merasakan sensasi menumpang oto (dalam bahasa Rote artinya mobil) atau motor yang lewat di depan sekolah saya. Yup, di 3 bulan terakhir ini saya malah ingin terus naik truk, nebeng dengan kendaraan yang lewat, yang bersedia menumpangi saya dan anak-anak.

Leli, adalah daerah tempat tinggal siswa saya yang letaknya jauh dari sekolah. Ya sekitar 6 km, jika mereka pulang pergi maka mereka menghabiskan 12 km. Di Leli terdapat lebih dari 10 siswa, itu sudah termasuk siswa kelas I hingga kelas VI. Mereka terbiasa bangun pagi agar bisa menunggu oto atau motor yang lewat di tepi jalan, yang sudi berbaik hati mnumpangi mereka.

Tapi ada kalanya mereka harus rela berjalan kaki setiap pagi sejauh 6 km. Sayangnya mereka sering terlambat ke sekolah karena lama berjalan. Ini kadang bikin saya berada di dua sisi berbeda, antara sedih dan kesal. Sedih karena mereka tidak mendapatkan tumpangan dan membuat mereka harus jalan kaki. Kesal karena mereka terlalu asyik menunggu dan ketika matahari sudah naik, mereka baru berjalan dari tempat tersebut ke sekolah, yang membuat mereka tidak datang tepat waktu.

Untuk apa mereka rela melakukan itu? Untuk mencari ilmu dari guru, suatu bekal di masa depan yang kelak akan berguna bagi mereka. Pernah saya bertanya kepada siswa saya apa tidak capek melakukan aktivitas seperti itu setiap hari, jawabnya: “Katong pung mimpi harus tercapai dengan giat belajar. Katong harus belajar di sekolah dengan bapak ibu guru.”

Atau pertanyaan lain seperti ini: “Kenapa bosong telat terus na? Ibu sedih sekaligus kesal melihat bosong terus yang telat.” Jawaban mereka membuat helaan nafas panjang pada diri saya, “Sonde dapat oto, Ibu.” Ditambah lagi muka anak-anak yang menjawab lugu dan jujur makinlah bikin hati saya luluh.

Maka dari itu, sejak pertengahan Maret lalu saya memutuskan untuk naik oto bareng siswa setiap saya ingin pergi ke ibukota kabupaten. Meski jarak daerah penempatan dan ibukota kabupaten hanya 15 menit, tapi saya ingin merasakan hidup anak-anak saya yang berjuang 12 km setiap harinya untuk mencari ilmu. Jadi sungguh saya menikmati pengalaman baru ini.

Menunggu oto lewat di depan sekolah sama seperti menunggu seseorang di masa depan. Tidak pasti kapan datangnya. Supaya tidak ketinggalan oto, saya harus bergegas beres-beres di rumah, lalu sholat Dzuhur dan berjalan ke depan sekolah, kemudian bergabung dengan anak-anak sambil melambaikan tangan kepada oto yang lewat. Aktivitas itu pula yang saya lakukan kemarin siang.

Kemarin siang saya bersama Windy, Kesya, Fera, dan Martha menunggu oto. Ada pula siswa kelas V dan VI yang masih belum beranjak dari sekolah, pada akhirnya bergabung bersama kami. Kami menunggu hampir 2 jam lamanya. Ini membuat saya tidak enak dengan anak-anak saya, karena mereka menunggu saya sebelum pulang. Dalam penantian oto tersebut, kami bercerita dan bermain.

Tepuk Ampar-ampar Pisang dan permainan Inji-injit Semut jadi idola anak-anak ketika menunggu oto. Saya diajak, dan saya tertawa bersama mereka. Sungguh kebahagiaan bagi saya melihat mereka tertawa ceria di usia anak-anak yang memang seharusnya mereka rasakan. Terkadang saya meneriaki mereka berkali-kali untuk tidak duduk di tepi jalan. Karena oto atau motor sering lewat di depan sekolah (sekolah saya terletak di tepi jalan) dengan kecepatan tinggi, dan anak-anak malah duduk di tepi jalan.

Setelah hampir 2 jam mengisi aktivitas menunggu oto, akhirnya oto yang dinantikan datang juga. Kloter pertama adalah Kesya dan Fera. Saya menyuruh mereka dahulu agar saya dan beberapa anak lainnya dapat menyusul di oto yang masih lengang penumpangnya. Di sisi lain mereka juga harus mencari telur paskah pada jam 2. Beberapa menit kemudian akhirnya oto lewat lagi, saya, Windy, dan Martha naik. Kami duduk di belakang bersama barang-barang di oto yang berisikan sayuran dan bahan makanan. Diketahui oto tersebut akan berangkat menuju Rote Barat Laut siang tadi. Untuk ke kecamatan itu harus melewati ibukota kabupaten, jadi saya pun bisa menumpang.

Perjalanan 15 menit terasa begitu cepat. Pemandangan di tepi jalan juga indah. Laut biru, langit bersih dengan awan putih, bukit nan hijau dengan pepohonan damar dan lontar, sungguh perpaduan sempurna ciptaanNya. Suatu pemandangan yang akan sangat jarang saya temukan jika masa tugas sebagai pengajar muda ini akan berakhir 2 bulan sejak sekarang.

Kini, makna 12 km itu membuat saya lebih mengerti. Mereka rela menunggu oto atau berjalan kaki demi ilmu. Sungguh tidak ada alasan bagi kita yang tinggal di perkotaan untuk bermalas-malasan berangkat ke sekolah atau kampus dalam menuntut ilmu. Belajarlah dari siswa saya. Jarak 12 km untuk ilmu bukan jadi penghalang.

Pelita Rote di Tengah Kegelapan                  

               sw Kiranya saya tak terlalu muluk membuat judul di atas sebagai gambaran bahwa Sherwin Meynard Robinson Ufi adalah sang pelita yang memancarkan cahayanya saat gelap menerpa. Penerima beasiswa Australia Award Scholarship ini adalah sosok yang menginspirasi bagi pemuda di Rote.

Sebuah ide lahir dari pemikirannya. Pada tanggal 2 Juli 2011, sebuah komunitas bernama Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao lahir dari keresahannya dan teman-temannya. Bertepatan dengan pembentukan komunitas itu pula, ia dan teman-temannya menggalang Gerakan 1000 Buku. Ia dan teman-temannya bermimpi akan hadir satu taman baca di setiap kampung yang ada di Rote Ndao.

Lahir dan besar di pulau terselatan di Indonesia membuatnya memiliki rasa memiliki cukup tinggi. Dari rasa itu tumbuhlah keinginan untuk berbagi kepada anak-anak yang haus ilmu pengetahuan. Lewat Gerakan 1000 Buku, impian tersebut tercapai. Kini telah hadir 9 taman baca di 4 kecamatan di Pulau Rote. Menyusul akan dibentuknya taman baca di kecamatan lain yang dikelola oleh masyarakat daerah setempat.

Alumni pelatihan Forum Indonesia Muda ini adalah seorang PNS yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao. Di sela-sela aktivitas seorang pegawai dan suami dari istrinya, Kak Sherwin menjadi sosok yang patut diteladani. Kesibukan bukan menjadi penghalang baginya untuk berbagi. Baginya, melakukan sesuatu yang berdampak positif bagi lingkungan adalah keharusan bagi pemuda.

Kak Sherwin adalah contoh pemuda masa kini yang tak hanya banyak bicara. Ia justru melihat potensi dan perubahan positif yang harus dikerjakan di daerahnya, tanpa harus menunggu orang lain bergerak. Justru secara tidak langsung ia telah menggerakkan orang lain untuk berkontribusi bagi Rote. Sifatnya yang mau belajar dan rendah hati membuat ia selalu ingin mengembangkan diri, baik untuknya sendiri maupun untuk komunitasnya. Tidak heran kalau dedikasinya ini membuat penghargaan Pelita Nusantara 2014 kategori pendidikan yang mewakili Nusa Tenggara Timur tersemat dalam daftar prestasinya.

Lewat Cita, Ia Berkarya

ensri              “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu.”

Kalimat di atas bukan sembarang kalimat. Sakti dan ampuh, jika kita mau berusaha. Tuhan akan memeluk mimpi setiap umatnya jika kita mau bersungguh-sungguh. Ini pula yang saya yakini sebagai motto hidup saya. Tak heran ketika saya bertemu dengan berbagai orang yang memiliki mimpi, saya selalu semangat. Ada aura positif yang terpancar kepada saya bahwa saya pun juga harus meraih mimpi saya.

Salah satu orang yang saya temui ketika berbincang soal mimpi adalah Ibu Ensri Pellokila Adu. Beliau adalah seorang guru bagi siswa kelas V SD Inpres Onatali, Rote Tengah. Ia juga seorang guru bagi keenam anak-anaknya, menjadi panutan seorang ibu di keluarganya. Kami berbincang-bincang mengenai mimpi setelah beberapa bulan saya ditempatkan di Onatali. Waktu itu saya salut dengan keberanian Ibu Ensri, di sela-sela aktivitasnya yang padat sebagai seorang ibu dan guru, ia mengemukakan pendapatnya soal mimpi.

“Ibu Bella, saya itu orangnya aktif ketika masih remaja. Saya juga tidak bisa diam, selalu ada yang ingin saya kerjakan. Bahkan sampai sekarang saya punya mimpi untuk memiliki taman baca di rumah. Taman baca ini saya harap dapat berguna bagi anak-anak di lingkungan sekitar saya. Saya ingin memberika sesuatu kepada mereka, ya setidaknya mereka tidak hanya bermain ketika sore hari,” ujar wanita yang bersuamikan seorang polisi ini dengan berapi-api.

Saya mendengar penuturan beliau menjadi lebih bersemangat. Keinginan itu timbul dari lubuk hati beliau sendiri. Mimpi beliau melahirkan sebuah ide tulus bagi pendidikan anak-anak di Onatali. Sejujurnya ia bisa saja hidup nyaman dengan apa yang ia peroleh searang, tapi hidup Ibu Ensri tidak lengkap jika tanpa dibarengi mimpi. Bermula dari percakapan sederhana itulah, saya terus mendorong Ibu Ensri untuk segera mewujudkan mimpinya menjadi nyata.

Adalah Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao, yang membuat saya yakin bahwa impian Ibu Ensri akan menjadi nyata. Saya lantas mengajak beliau untuk bertemu dengan punggawa KAMU ROTE NDAO untuk saling berbagi ide dan mimpi. Setelah dua kali pertemuan, akhirnya Ibu Ensri mantap mewujudkan mimpinya. Ibu Ensri bekerja sama dengan KAMU ROTE NDAO untuk mewujudkan taman baca di rumahnya. Namun sebelum itu terlaksana, ia diminta untuk membuat struktur organisasi kepengurusan taman baca.

Hingga suatu hari, Ibu Ensri meminta saya datang ke rumahnya pada malam hari untuk ikut berdiskusi dengan masyarakat di rumahnya. Ya, Ibu Ensri mengajak masyarakat untuk bersama-sama merealisasikan mimpinya. Diskusi apik berselang tiga jam tersebut melahirkan sebuah ide. Struktur organisasi dan sebuah nama bagi taman baca telah lahir. Tamahena, bahasa Rote yang berarti harapan kita. Nama itu merupakan pemberian dari Opa Edo, seorang Maneleo (kepala suku dari beberapa marga di Rote) yang turut hadir dalam diskusi pada malam itu. Sinar harapan terpancar dari taman baca yang dibangun Ibu Ensri lewat cita-citanya.

Pada 5 November 2013, impian itu terwujud. Jika Agnes Monica berkata Dream, Believe, and Make it Happen, Ibu Ensri sudah melaksanakan poin ketiga. Pada saat cita-citanya terwujud itu, beberapa siswa SD Inpres Onatali, masyarakat sekitar, dan punggawa dari KAMU ROTE NDAO hadir disana. Sejak itulah, Ibu Ensri terus belajar dan mengembangkan taman bacanya agar selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak. Saya dan Ibu Ensri kerap melakukan kegiatan di taman baca setiap hari Jum’at (selain hari Selasa, dimana kedua hari tersebut Ibu Ensri membuka taman bacanya). Berbagai permainan edukatif dan menyenangkan dan les bahasa Inggris adalah contoh kegiatan yang diadakan di Taman Baca Tamahena.

Kita bisa saja mengecam kegelapan atas pendidikan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun Ibu Ensri telah lebih dahulu membuktikan bahwa ia menepis itu dengan melakukan sesuatu bagi daerahnya. Ia berkarya di daerah kelahirannya, membangun mimpi dan cita bersama anak-anak Onatali.

Ibu Ensri pernah berkata seperti ini kepada saya, “Saya ingin taman baca ini berkembang lebih baik. Saya kira menolong orang dalam hal positif adalah kebagiaan saya, jadi tidak ada keraguan dalam diri  untuk berhenti berkarya. Pijakan awal ini telah menggapai cita-cita saya.”

Ya, lewat cita, Ibu Ensri berkarya untuk Indonesia.

Nasi Kosong dan Rival

20140403_170211[1]                Kemarin adalah hari yang membuat saya tak berdaya atas apa yang saya lihat. Saya selalu menyarankan siswa saya untuk selalu makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Saya juga selalu meminta mereka untuk membawa makanan dan minuman atau melebihkan uang jajan ketika les sekolah berlangsung pada siang harinya. Intinya adalah, saya menanamkan kepada mereka bahwa otak yang diisi pengetahuan harus seimbang dengan asupan gizi yang diperoleh.

Kemarin pula saya menyaksikan apa yang saya katakan tidak berjalan dengan baik. Sebenarnya sudah beberapa kali saya melihat kasus ini, namun kemarin saya dengan cermat bertanya kepada siswa saya. Siswa saya itu adalah seorang anak dengan kemampuan linguistik cukup tinggi. Ia hobi menulis, pintar merangkai kata dan kalimat menjadi satu kesatuan yang indah. Meski ia harus berjuang lebih keras lagi di kelas 3 ini, terbukti dengan tekun belajar ia berhasil masuk peringkat 3 besar semester 1 lalu.

Sayangnya pengetahuan yang ia dapat tidak seimbang dengan gizi yang diperoleh. Ia sakit kemarin. Setiap anak yang sakit, saya selalu bertanya kepada mereka: “Apa kamu tidak istirahat?”, “Apa kamu tidak makan?”, dan lainnya. Begitu pula ketika siswa saya itu sakit, saya menanyakan itu. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui ia hanya makan nasi kosong. It means that, disini nasi kosong hanya terdiri dari nasi dan garam, nasi dan cabe, atau nasi saja.

Ia juga berkata bahwa makan nasi kosong sudah beberapa hari terakhir ini. Lebih ibanya lagi bahwa ia hanya makan ikan setiap hari selasa dan minggu, pun tidak ada lauk pauk atau sayuran lain di meja makannya. Mendengar itu saya miris, negara ini belum sejahtera. Di saat pesta demokrasi telah berlangsung dua hari lalu, republik ini masih menyisakan ratapan dari anak bangsanya. Mereka belum merdeka sepenuhnya. Bahkan asupan gizi belum terpenuhi dengan baik bagi penerus bangsa.

Akhirnya saya memutuskan untuk menyuruhnya pulang sekolah saja. Namun ketika meminta izin kepada bapak kepala sekolah, beliau menyarankan bawa ke puskesmas saja untuk berobat. Beruntung hari Kamis kemarin, ada dokter yang selalu datang dari ibukota kabupaten. Saya lega. Setidaknya ia mampu memutuskan obat apa yang sesuai untuk anak didik saya itu. Alhamdulillah setelah hasil tes darah diperoleh, anak saya tidak terkena malaria. Meski begitu, ia tetap diberikan obat agar ia pulih kembali.

Kenyataan ini membuat saya belajar bahwa Indonesia punya catatan khusus agar penerus bangsanya mampu meneruskan cita-cita perjuangan. Keluarga Rival yang sangat sederhana itu telah mengupayakan sebaik mereka untuk keberlangsungan hidup anaknya. Ayahnya yang seorang nelayan dan pekerja buruh di pembangkit listrik dekat rumahnya, dan ibunya yang seorang pemikul pasir berjarak 3 km dari rumahnya, membuat anak didik saya tersebut tidak banyak menuntut apa yang orangtuanya berikan kepadanya.

Bahkan pada saat saya bertanya apakah ia suka dengan nasi kosong, jawabnya: “Iya, Bu.”

Nasi kosong saja bisa membuat Rival, anak didik saya itu, mampu masuk peringkat 3 besar. Apalagi jika ia makan makanan bergizi, pastilah cita-cita guru diraihnya.

Senyuman Atas Perubahan Entitas Perilaku

Saya ingat betul bahwa tiga aspek penilaian siswa tertera jelas di rapor hasil belajar saya ketika masih SMA. Adalah koginitif, psikomotorik, dan afektif, tertulis di rapor dan saya diberikan penilaian berupa angka dan huruf. Tak ubahnya anak SD yang gembira diberi angka 10 pada nilai tugasnya, saya pun bahagia jika guru memberi nilai tinggi di beberapa mata pelajaran sesuai aspek kognitif. Namun selepas SMA, kenyataan berbanding terbalik. Saya melihat banyaknya tawuran pelajar dan perbuatan siswa yang melenceng dari yang seharusnya membuat saya malu. Sudahkah nilai kognitif saya lebih baik daripada afektif (sikap) saya?

Selain kecerdasan majemuk yang saya nilai dari pribadi siswa, satu aspek yang tak kalah pentingnya yang membuat hati ini risau adalah afektif. Perilaku, menurut saya, harus ditanamkan dengan baik sejak kita masih kecil. Entah kenapa, saya selalu khawatir dengan kondisi perilaku peserta didik yang sangat jauh dari nilai-nilai pancasila. Saya ingin aspek perilaku justru lebih diutamakan. Pendidikan karakter lah jawabannya.

Ditugaskan di Onatali, sebuah kelurahan di kecamatan Rote Tengah membuat saya bersyukur. Fasilitas cukup memadai bagi saya. Ditambah lagi SD Inpres Onatali, yang kata teman-teman dan kakak-kakak pengajar muda lainnya adalah sekolah pengajar muda yang bagus, saya semakin bersyukur. Kenapa? Karena keinginan menjadi guru terfasilitasi pula dengan kondisi sekolah yang baik.

Hingga suatu hari saya menemukan kondisi siswa saya yang jauh dari harapan saya dari segi aspek afektif. Saya sangat shock dan sempat kecewa beberapa bulan di awal mengajar. Saya melihat bahwa anak-anak saya masih berperilaku tidak baik. Jika dirunut, mungkin memang paling enak melihat kejelekan, namun saya beruntung karena dibantu oleh bapak ibu guru dalam mengubah entitas perilaku anak didik saya. Dikarenakan mereka paling mengetahui kondisi psikologis dan lingkungan tempat tinggal, akhirnya saya melihat bahwa sikap mereka berangsur baik.

Tiga bulan saat awal mengajar bukan kognitif anak yang saya risaukan, tapi afektifnya lah yang paling membuat saya risau. Terkadang sedih, mengeluh, tidak percaya diri, dan rasa negatif lainnya hinggap di dalam hati. Saya melihat anak-anak masih suka memaki teman, memukul dengan keras, memberikan sesuatu dengan tangan kiri,  malas mengerjakan pekerjaan rumah yang saya berikan, kebersihan kuku dan badan yang kurang, dan tidak disiplin di dalam kelas. Kenyataan itu membuat saya berpikir keras bagaimana caranya sikap tersebut dapat berubah.

Selain bekerja sama dengan bapak ibu guru di sekolah, saya juga menerapkan peraturan kelas yang efektif. Saya juga berulang kali mengingatkan mereka setiap kali mereka melakukan sesuatu yang tidak baik. Bahkan ketika ada anak yang memberikan buku kepada saya menggunakan tangan kiri, saya lantas berkata: “Ambil lagi bukunya ya, kasih ke Ibu pakai tangan kanan, tangan yang baik.” Di sisi lain, anak-anak mulai menghargai teman-temannya dengan mengurangi berbicara keras dan memukul teman.

Anak-anak juga sudah rajin mengerjakan tugas (meski masih ada satu atau dua anak yang beralasan lupa mengerjakan tugas), disiplin di kelas dan memberikan perhatian yang baik ketika guru atau teman berbicara (saya menggunakan sinyal disiplin ataupun tanda senyum), dan kini kuku tangan dan kebersihan badan berangsur baik. Alhasil peraturan kelas yang saya buat, ucapan berupa nasehat berulang-ulang, dan kerjasama dengan pihak sekolah, membuat entitas perilaku siswa perlahan berubah lebih baik. Dalam tiga bulan terakhir ini saya melihat perubahan entitas perilaku naik drastis.

Usaha disertai doa lah yang mampu membuat perubahan terjadi. Ini bukan hanya kerja saya saja, tapi juga kerja kolektif antara saya, pihak sekolah, siswa, dan orang tua siswa. Tanpa mereka, apalah arti afektif, kognitif, dan psikomotorik. Saya berharap sikap yang baik dan berbudi pekerti luhur berlandaskan pancasila ini terus mereka laksanakan meski saya sudah tidak mengajar mereka lagi. Kelak, saya akan tersenyum jika suatu hari mereka melepon saya dan berkata:

20130920_093313“Ibu Bella, be su raih cita-cita nah. Be ju dipuji teman-teman karena selalu mengucapkan terima kasih jika be su dibantu mereka. Be ju selalu mendengarkan orang yang berbicara di depan beta. Terima kasih su ajar sikap yang baik kepada beta, ibu guru.”

Optimalisasi Kecerdasan Melalui Kelas Menulis  

IMG_20140330_212059[1]                “Setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing. Sejatinya ia dapat berkembang lebih baik jika ia mampu mengoptimalkan kecerdasannya. Pemilik kecerdasan dan pendorong kecerdasan sangat berperan dalam hal ini.”

Kamis, adalah hari yang paling dinantikan siswa kelas menulis. Saya membuat les menulis kepada 8 siswa kelas 3 saya. Tak mudah untuk menemukan anak-anak yang hobi menulis. Pengamatan ini bahkan berlangsung sejak saya menginjakkan kaki di kelas 3, dalam pelajaran bahasa Indonesia, hingga mengamati tulisan mereka dalam beberapa kesempatan. Alhasil saya memutuskan untuk menjadi pendorong kecerdasan mereka agar lebih optimal.

Mereka adalah Carlos, Agung, Oan, Rival, Windy, Fera, Kesya, dan Imel. Mereka adalah siswa/i saya yang memiliki kecerdasan linguistik lebih tinggi daripada teman-temannya. Khususnya menulis, saya mengamati ketika saya meminta mereka membuat tugas menulis, mereka lebih mudah mengembangkan imajinasinya dalam merangkai kata-kata. Meski tulisan mereka belum sebagus Chairil Anwar atau NH Dini, tetapi saya yakin suatu saat mereka bisa melampaui itu.

Pertemuan dengan anak-anak kelas menulis sudah 2x. Pertemuan pertama kami diadakan di sekolah. Waktu itu saya membuka inspirasi menulis dengan kalimat: “Apa syarat agar bisa terus menulis?”

Anak-anak menjawab pertanyaan saya beragam. Namun saya menekankan bahwa kunci menulis itu ada 3, pertama melihat, kedua merasakan, dan ketiga mendengar. Anak-anak harus melihat objek yang ingin mereka tulis. Mereka juga harus mampu merasakan sendiri tulisan yang akan dibuat. Terakhir, saya menyarankan anak-anak jangan bosan mendengar, kenapa? Karena ketika kita mendengar suatu cerita, dari sanalah inspirasi menulis datang.

Sebagai tugas dari pertemuan pertama, saya meminta mereka untuk menulis puisi dengan memakai tema berbeda. Kamis berikutnya, ketika saya meminta mereka untuk mendeklmasikan puisi di tepi pantai Batu Hun, mereka membaca puisi dengan sungguh-sungguh. Puisi favorit saya adalah puisi milik Rival yang berjudul Bulan. Anak itu meski sering makan nasi kosong, tapi imajinasinya untuk menulis selalu di atas rata-rata. Pun tulisannya rapi.

Selesai mereka membacakan puisi, mereka lalu berkonsultasi dengan saya. Saya menamakannya klinik menulis. Setiap anak yang sudah membaca puisinya akan saya perbaiki, baik dari segi penulisan maupun pembacaan puisi. Disini saya juga berpesan kepada mereka bahwa menulis itu setiap saat. Mereka harus menulis jika ide tiba-tiba datang. Maka dari itu, sebuah pena dan buku adalah sahabat mereka ketika inspirasi itu datang.

Petang menjelang. Sebelum matahari beranjak kepada peraduannya, kami menutup kelas menulis tersebut dengan menyanyikan lagu berikut:

“Siapa suka menulis, tunjuk tangan.. 2x

                Siapa suka menulis, diriku dan dirimu..

                Siapa suka menulis, teriak saya.. saya!”

Semesta Mendukungmu, Nak!

100_8872
Suatu pagi di hari Jum’at, sekembalinya saya mengajar setelah menjalani site visit dari Indonesia Mengajar, saya begitu rindu dengan anak murid saya di kelas 3 SD Inpres Onatali. Saya seperti biasa mengajar kembali, dan pagi itu saya mengajar IPA, tepatnya Energi dan Kegunaannya. Namun suatu kabar yang membuat saya terharu baru saja diterima. Saya jadi ingat dua kata: Semesta Mendukung. Layaknya dua kata itu, saya seperti berada pada titik bahwa semesta ternyata mendukung apa yang telah dikerjakan.
“Ibu, ada surat untuk ibu nah,” ujar Cindy sesaat saya menempel peraturan baru di dinding kelas.
“Dari siapa ko?” tanya saya.
“Dari Elis dan Mario, Bu. Mereka su kasih surat ke kak Yuniar. Suratnya su kasih sejak Sabtu kemarin, Bu,” kata Carlos menanggapi.
Saya bergegas membuka laci meja, mencari sepucuk surat cinta dari Elis dan Mario. Elis dan Mario adalah dua murid saya yang pindah sekolah ke SD di kecamatan sebelah, Pantai Baru. Di mata saya, Elis dan Mario memiliki sifat seperti langit dan bumi. Jauh sekali sifat mereka. Elis anaknya pemalu dan tidak banyak bicara, namun selalu rajin mengerjakan pekerjaan rumah dan tulisannya rapi. Sedangkan Mario suka bicara, berkepala plontos, dan selalu menawarkan bantuan: “Ada yang bisa saya bantu ko, Bu?” saat saya membereskan meja di kelas.
Akhirnya surat itu sampai di tangan saya. Amplop putih bertuliskan: Dari Elisabeth Killa dan Mario Killa untuk Ibu Bella tertera di halaman belakang amplop. Saya membuka amplop yang sepertinya sudah lusuh karena sepertinya sudah terlebih dahulu dibaca anak-anak. Hati saya deg-degan. Sudah lama tidak menerima surat dari anak-anak, dan tepat di hari Valentine, hari kasih sayang ini, saya menjadi begitu berdebar menerima surat tersebut.
Perlahan saya membukanya. Ada dua surat. Pertama cerita dari mereka, kedua puisi yang mereka tulis. Kira-kira begini lah isi surat mereka.
“Sabtu, 8 Januari 2014
Halo Ibu…
Apa kabar? Kami disini baik-baik saja. Ibu, maafin kami ya, jika kami berdua telah membuat ibu jengkel pada waktu ibu mengajar kami semua. Ibu kalau mengajar jangan ingat kami lagi ya. Walaupun kami sudah berpisah dengan ibu tetapi kami selalu mengingat ibu terus dan kata-kata ibu selalu kami ingat. Dan buat kawan semua katakan kepada mereka supaya jangan ingat kami terus ya. Pasti lain kali kita bisa bertemu kembali kok. Mungkin hanya ini yang kami sampaikan. Dada… Ibu, kami tunggu balasannya ya.”
Saya jadi ingat Elis dan Mario lagi setelah membaca surat itu. Ada beberapa kejadian yang tak dapat dilupakan bersama mereka. Mario tinggal di rumah Elis, mereka bersaudara sepupu. Mario sebenarnya masih memiliki ayah, namun ibu nya lebih dahulu meninggalkannya ke dunia yang berbeda dengannya. Tapi entah kenapa, Mario memilih tinggal dengan orang tua Elis. Pernah suatu kali saya bertanya soal ini, kenapa ia tidak tinggal dengan ayahnya. Tak ada jawaban lain yang ia lontarkan selain kediamannya. Mario pernah pula saya pergoki mengecat rambut dan membuat gaya rambut seperti kuda. Bagian kanan kiri diplontos, sedangkan bagian tengahnya sengajar disisakan. Waktu itu saya sempat kesal dengan gaya seperti itu. Bukannya membatasi seni, tapi untuk ukuran anak kecil seperti itu dan di lingkungan sekolah pula, saya lantas meminta Mario mengguntingnya, meski pada akhirnya saya juga yang memotong rambutnya karena ia tak jua mendengarkan himbauan gurunya ini.
Lain halnya dengan Elis. Pada awal pelajaran, ia sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Berkali-kali saya mengingatkan dia, berkali-kali pula saya kecewa bahwa ia belum berubah. Tersiar kabar pula bahwa ia dan Mario sering menonton televisi pada malam hari di rumah tetangga. Sejak itu, saya mulai menyadari bahwa pekerjaan rumah tidak dilaksanakan gara-gara menonton televisi hingga larut malam. Akhirnya saya memanggil mereka berdua ke depan meja di kelas.
“Nak, ibu tidak melarang kalian untuk menonton televisi. Tapi tolong sebelum menonton televisi kerjakan dulu pekerjaan rumah yang sudah ibu tugaskan. Bosong mau ko cita-cita tercapai? Kalau mau, rajin belajar su, jangan banyak nonton televisi.”
Sejak itulah perubahan positif sedikit demi sedikit berada dalam diri mereka berdua. Elis bahkan paling rajin mengerjakan PR, sedangkan Mario meski sempat tertatih-tatih dalam belajar tak kehilangan semangat di kelas untuk belajar. Namun, Elis masih saja pemalu. Jika saya memujinya atau memanggilnya, kepala selalu ia tundukkan. Seolah-olah ia tidak mampu membalas apa yang telah saya katakan.
Delapan bulan terlewati sudah di bumi nusa lontar ini. Pulau Rote memberikan pemahaman yang lebih bagi saya untuk bukan hanya sekedar memahami orang lain, tapi juga pribadi diri sendiri. Alam pun sejenak mengamini bahwa apa yang dilakukan ini akan mendukung bagi kehidupan kedepannya. Surat semangat yang biasanya mereka tulis ke anak-anak atau kakak-kakak di luar Rote kini justru Elis dan Mario tetap praktekkan, meski mereka sudah tidak bersama saya lagi di sekolah saya. Ya, semesta mendukungmu, Nak! Kelak apapun ilmu terbaik yang kalian peroleh akan bermanfaat. Tak ada yang sia-sia. Seperti penggalan puisi yang mereka berdua berikan kepada saya ini:
“Terima kasih telah mengajar kami,
Ibu, kami tidak bisa membalas jasamu,
Ibu, kami cuma bisa mengirim doa”

Lebih Baik di 5 Tahun Kedepan

Lebih Baik di 5 Tahun Kedepan

Sabtu, 8 Februari 2014 lalu, ada pemandangan berbeda di kawasan pemerintahan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Pada pagi harinya, saya melihat kalangan ekspatriat mengenakan jas hitam, terlihat parlente dengan dasi yang pas di tubuh mereka. Kalangan wanitanya, memakai kebaya dan pakaian khas adat Rote, dengan make up senada pakaian yang mereka kenakan. Hari itu, memang tidak biasa.

Komplek perkantoran pemerintahan di Rote Ndao itu bahkan diawasi ketat oleh aparat keamanan. Mengapa? Karena banyaknya orang penting yang hadir 2 minggu lalu disana. Sebut saja, perwakilan dari provinsi Nusa Tenggara Timur, termasuk Gubernur dan jajarannya ikut hadir, budayawan Rote, hingga perwakilan dari berbagai instansi di Rote Ndao turut menginjakkan kaki disana. Kami, 9 pengajar muda dan 1 site visitor dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar pun diundang oleh Kepala Dinas PPO, Pak Jonas Selly.

Pemandangan itu semakin terlihat jelas ketika memasuki area gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rote Ndao. Kami bergegas mempercepat langkah agar tidak telat datang ke acara penting kabupaten nusa lontar itu. Ya, acara penting itu adalah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao yang terpilih untuk periode 2014/2019. Helatan politik pemilihan bupati dan wakil bupati memang telah lama usai sejak Agustus 2013 lalu, namun pelantikannya baru dilaksanakan 2 minggu lalu.

Acara dimulai pada pukul 09.30 WITA. Kedatangan Gubernur NTT membuka acara dengan hikmat. Sambutan oleh beberapa pihak pemerintah menjadi prosesi acara. Terlebih lagi sumpah jabatan yang diamini oleh Pak Drs. Leonard Haning, MM selaku bupati dan Pak Jonas Cornelius Lun, S.Pd selaku wakil bupati membuat mereka telah sah memimpin Rote Ndao selama 5 tahun kedepan. Mengenakan pakaian kebesaran berwarna putih dan lencana di saku putih tersebut, masyarakat yang hadir di gedung DPRD terpesona dengan sosok pemimpin mereka yang baru.

Syukuran atas pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih dilaksanakan pada sore harinya, terpisah dari acara pelantikan itu sendiri. Pengajar Muda pun diundang untuk menghadiri acara tersebut bersama masyarakat Rote Ndao lainnya. Acara sore menjelang malam itu menghadirkan para pejabat pemerintah, dari level nasional, provinsi, hingga lokal. Semua tumpah ruah. Menyaksikan kata sambutan dan penampilan budaya Rote adalah sesi malam harinya. Selepas acara, masyarakat diajak menikmati suguhan makanan syukuran. Hingga akhir acara, masyarakat bahkan masih ada yang bertahan di tempat tersebut. Sekedar bercakap-cakap dengan pemimpin barunya, hingga mengucapkan selamat atas pelantikan, adalah pemandangan yang saya lihat malam itu.

Dua hari setelah itu, tepatnya Senin, 10 Februari 2014, diadakan upacara adat dan syukuran atas kerja keras wakil bupati periode 2009/2014 . Acara ini juga mengundang kalangan pejabat pemerintah, ia diadakan di kediaman rumah beliau di Metina. Prosesi budaya sebelum tiba di rumahnya sangat hikmat. Bahasa dan budaya Rote dipadu alunan musik menyambut wakil bupati pada periode lalu itu di tengah jalan menuju Rote Tengah itu. Masyarakat sekitar tumpah ruah. Menyaksikan pemimpin mereka yang sudah 5 tahun berlalu kembali ke tempat dimana ia dibesarkan. Sejatinya proses ini adalah sebuah penghormatan bagi mereka yang telah purna tugas di Rote.
20140208_081828
Berlangsungnya acara dalam beberapa hari ini membuat masyarakat menaruh harapan kepada bupati dan wakil bupati terpilih. Oleh karena itu, dalam beberapa hari ini diadakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang diadakan di setiap kecamatan, untuk menampung aspirasi masyarakat dalam percepatan pembangunan di Rote Ndao. Lebih baik untuk 5 tahun kedepan.

Menjenguk Teman, Berbagi Suka Cita

IMG_20140215_231542

“Anak-anak, hari ini siapa son masuk na?” tanya saya ke anak-anak.
“Imel, Bu. Imel su son masuk seminggu nah. Dia demam tinggi, Bu. Kemarin Imel pung mama sampaikan ke katong, waktu itu Ibu son mengajar katong.”
Imel, murid saya di kelas 3 tidak biasanya sakit sudah selama ini. Imel adalah murid kelas 3 tahun lalu yang harus mengulang kembali tahun pelajaran ini bersama saya. Imel saya tempatkan duduk di depan, di tengah Eldath dan Mardi. Anaknya pendiam, selalu memperhatikan saya saat berbicara di depan kelas, dan penurut. Melihat Imel membuat saya teringat mama saya, persis sekali sifatnya :’)
Ketidakhadiran Imel dalam kurun waktu lama itu membuat saya berinisiatif menjenguknya bersama anak-anak. Maka, kamis kemarin saya mengajak anak-anak untuk ke rumah Imel. Sekedar datang menghibur, mendoakan, dan menyampaikan rasa duka, adalah salah satu cara membangun hubungan persahabatan diantara anak-anak saya. Pun di sisi lain, pelajaran Kewarganegaraan yang saya ampu siang kemarin juga mengajarkan pelajaran Harga Diri. Di setengah jam pelajaran sebelum pulang, saya ingin anak-anak mempraktekkan langsung pelajaran tersebut.
Perjalanan ke rumah Imel melewati pepohonan lontar, rimbunnya pohon damar, dan bukit kecil menjulang tinggi serta rendah sebagai hiasannya. Anak-anak saya peringatkan untuk menjaga diri masing-masing, bagaimanapun juga saya bertanggung jawab atas anak-anak karena membawa mereka belajar di luar kelas. Kami lantas mempercepat langkah, bukan saja karena sengatan matahari, namun juga semangat untuk bertemu teman yang sudah seminggu tidak belajar.

Kami akhirnya sampai di rumah Imel. Saya membawa satu kaleng susu cokelat dan 10 buah kue untuk Imel. Makanan dan minuman itu hasil dari tabungan anak-anak. Kedatangan ini tidak hanya sebagai aplikasi pengajaran, namun membangun interaksi positif dalam berbagi suka dan kepedulian antar anak-anak.

Kami measuki rumah Imel. Disana ada kakak Imel yang sudah pernah saya temui sebelumnya. Saya melihat Imel lebih kurus dari biasanya. Saya kira ia kurang makan dan lemah sekali. Matanya juga sayu. Saya meraba keningnya, meski panas tinggi tak lagi menghinggapi dirinya, tapi Imel lebih banyak melamun saat teman-temannya memandangnya. Entah karena banyaknya teman yang mengerumuni di rumahnya yang tak seberapa besar dengan rumah anak-anak di kota, entah mungkin Imel yang butuh lebih banyak waktu istirahat.

Tidak lama disana, kami berniat pamit. Sebelumnya, anak-anak menyampaikan rasa prihatinnya kepada Imel. Beberapa anak bahkan bertanya kapan Imel masuk kembali ke sekolah? Pertanyaan yang menyiratkan kerinduan akan belajar bersama, timbul sendiri dari nurani anak-anak. saya bergegas mengajak mereka untuk berdoa. Mendoakan kesehatan Imel, mendoakan yang terbaik bagi Imel, dan menyemangati Imel yang sedang sakit.

Sebagian anak-anak memiliki pengalaman tersendiri dalam menjenguk teman yang sakit. Alih-alih dituliskannya soal latihan apa yang akan dilakukan jika teman sakit, mereka bahkan telah mempraktekkannya, bukan sekedar wacana belaka. Di akhir pembelajaran budi pekerti itu, saya mengajak anak-anak ke tepi pantai di Batu Hun. Saya meminta anak-anak untuk menuliskan pengalaman mereka dalam menjenguk teman yang sakit, pengalaman berbagi suka cita.
“Pada hari kamis saya menjenguk Imel. Saya dan teman-teman berdoa supaya Imel cepat sembuh. Saya senang menjenguk Imel. Saya juga senang membuat Imel tersenyum. Saya senang kalau nanti Imel masuk lagi.”

Sepenggal paragrap yang ditulis Rival tentang pengalamannya menjenguk Imel di atas membuktikan bahwa anak-anak butuh ruang untuk dihargai, menghargai, dan meluapkan perasaannya di atas secarik kertas.

Mengusik Mimpi Bersama Pak Polisi

IMG_20140130_200507

“Halo adik-adik semuanya, apa kabar? Masih semangat kan belajarnya? Gimana diajar sama Ibu Bella? Pasti asyik yah? Kakak disini tinggal di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat. Jauh yah! Kakak disini juga sedang belajar biar pintar sama seperti adik-adik. Kakak disini jauh dari keluarga dan teman-teman  Tetapi gak apa-apa demi masa depan. Adik-adik juga makanya jangan menyerah ya. Mari kita sama-sama berjuang menggapai mimpi. SEMANGAT!”
Sepenggal paragraf di atas adalah tulisan dari kak Lenny, teman saya yang sekarang sedang menjalani program CCIP di Amerika Serikat. Kak Lenny mengirimkan surat kepada murid saya di kelas 3 SD Inpres Onatali, Rote Tengah pada tahun lalu. Ia memotivasi anak didik saya untuk menggapai mimpi sama seperti dirinya. Isinya singkat, tapi ketika saya bilang kepada anak-anak bahwa surat ini dari Amerika Serikat, saya harus menjelaskan dengan tidak singkat tentang Amerika. Hmm, mungkin harus pakai gambar Liberty Statue agar anak-anak mengerti 
Anak-anak sejatinya ketika diperlihatkan dunia luar yang tidak biasa mereka lihat akan merespon dua hal, pertama kagum dan antusias, atau kedua, diam dan tidak mau. Anak-anak saya kebanyakan berada pada pilihan pertama. Ya, terutama berbicara tentang mimpi dan tempat tinggal di luar Rote.
Setiap hari Sabtu aktivitas yang paling sering dikerjakan anak-anak pada saat jam pengembangan diri adalah membalas surat semangat dari kakak-kakak atau teman-teman di pejuru negeri ini. Adalah Bogor, Jambi, Palembang, Jakarta, Jogjakarta, Sulawesi Utara, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Amerika Serikat surat-surat itu dikirim. Pengirim surat rata-rata menceritakan tentang kegiatannya, entah itu aktivitas aktivitas kuliah/sekolah, pekerjaan, atau keindahan alam daerahnya. Di sisi lain, mereka turut memotivasi anak didik saya dalam meraih mimpi. Ya, surat semangat sederhana yang mereka tulis benar-benar menyemangati anak didik saya dan membuka cakrawala hidup mereka.
Balasan surat anak didik saya tidak kalah heboh. Mereka menuliskan di selembar kertas, dengan tulisan sederhana mereka, dengan cerita mereka yang sederhana pula. Contohnya cerita Marlin yang memberi tahu tentang perjalanan ia menuju sekolah, atau cerita dari Mario tentang hidupnya yang kurang mampu, atau cerita membanggakan dari Agung sebagai ketua kelas, pun juga cerita anak-anak lainnya tentang hobi dan cita-cita. Surat itu pun kebanyakan tidak polos begitu saja. Kebanyakan mereka akan menghiasi surat dengan bunga, daun, bahkan mewarnainya. They look like so creative, right?
Beranjak dari kegiatan menulis surat itu, saya ingin menampilkan sosok yang mampu memberikan inspirasi bagi mereka secara langsung di hadapan mereka. Nah, sosok ini diharuskan berasal dari Rote, dekat dengan mereka, dan memiliki cerita perjuangan heroik dalam meraih mimpi. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan Pak Johannis Pellokila, suami dari Ibu Ensri, guru saya di SD. Pak Pellokila mengamini keinginan saya. Alhasil pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tentang Pekerjaan dan Semangat Kerja, tampillah sosok Pak Pellokila dengan kisahnya.
Pak Pellokila berasal dari Rote Tengah. Ia seorang polisi di kecamatan saya. Semasa kecil ia sudah terbiasa hidup prihatin. Ia bahkan pernah menempuh jarak selama 2 jam pp (pulang pergi) dengan berjalan kaki dari rumahnya di Rote Tengah menuju SMP di pusat ibukota kabupaten. Selain itu, keprihatinan hidup orangtuanya yang berprofesi sebagai petani membuatnya bertekad untuk mengubah nasib. Saat itu ia bercita-cita ingin menjadi polisi. Meski ia rasa mustahil, ia tetap mengupayakan agar cita-citanya tercapai. Pak Pellokila berhasil menyihir kelas saya mendadak diam seketika, yang biasanya selalu ramai dengan suara anak-anak hehe..
“Kalau anak-anak ingin berubah hidupnya, percayalah selalu ada jalan untuk berubah. Jika kalian ingin meraih cita-cita, kuncinya ada empat; perjuangan, ketekunan, kesabaran, dan berdoa,” ujarnya.
Ucapan Pak Pellokila tersebut ternyata berhasil mendaulat Cindy dan Fera untuk bertanya. Masing-masing bertanya tentang apa pekerjaan polisi dan arti lambang kepolisian. Jawaban Pak Pellokila pun memuaskan hati anak-anak bahwa semangat belajar sejak dini harus ditimbulkan agar mampu meraih cita-cita di masa depan. Tak pelak ketika Pak Pellokila bertanya siapa yang ingin menjadi polisi kelak sudah besar nanti, lebih dari 5 orang mengacungkan tangannya.
Mungkin di peta Indonesia, jika kalian lihat, Pulau Rote paling kecil. Terselatan Indonesia dan dekat dengan Benua Australia. Namun jangan remehkan cita-cita mereka, jangan remehkan semangat belajar mereka dari hari ke hari. Meski mereka di pulau kecil ini, mereka tidak main-main dengan cita-cita mereka, mereka tidak ragu sekalipun, meski kadang teman-teman mereka agak menyangsinkan cita-cita yang terdengar agak muluk itu.
Kalau kata Agung, ketua kelas 3, “Be pung cita-cita bukan cuma keliling Indonesia sa Ibu, tapi dunia ju.” Sudahkah kita mengejar cita-cita kita layaknya mereka?