Terima Kasih dan Selamat Melanjutkan Perjuangan!

Bersama Pak Jokowi pada Februari 2012, dalam kegiatan Indonesia Young Changemaker Summit di Bandung

Bersama Pak Jokowi pada Februari 2012, dalam kegiatan Indonesia Young Changemaker Summit di Bandung

Ini hari bermakna bagi rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Presiden ke-7 telah dilantik. Wakil presiden ke-7 menjadi pendamping sang presiden. Mereka adalah Jokowi Dodo dan Jusuf Kalla. Hari ini juga bersejarah. Rakyat berterima kasih atas perjuangan presiden dan wakil presiden ke-6. Susilo Bambang Yudoyono dan Boediono telah memimpin negara ini selama 10 tahun. Hari ini transisi kepemimpinan dirayakan dengan sukacita. Pertanda bahwa kepemimpinan baru ini dinantikan oleh rakyat Indonesia.

Saya bukan simpatisan Pak Jokowi sebelumnya. Bahkan saya tidak memilih dalam pemilihan langsung pada 9 Juli lalu. Saya mungkin cukup menyesal karena tidak menggunakan hak pilih saya. Saat itu saya sedang berada di Bogor, liburan sejenak setelah selesai penutupan kegiatan Alumni Pengajar Muda angkatan 6 di bawah naungan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa menggunakan A5 karena saya bukan warga Bogor. Di satu sisi saya tidak dapat menggunakan KTP di lingkungan rumah oom dan tante saya. Alhasil perhelatan akbar beberapa bulan lalu membuat saya menggelintirkan sebuah doa, agar siapapun yang terpilih, Indonesia tetap damai.

Ya, damai. Satu kata itu seringkali menjadi rusak karena oknum-oknum yang mengakibatkan negeri ini berpecah belah. Saya beragama Islam, dan dalam agama saya, Islam itu cinta perdamaian. Namun kadang di negeri yang mayoritas muslim ini, perdamaian kadang menjadi momok yang membuat saya menghela nafas panjang. Berdamailah terhadap masa lalu, berdamailah terhadap keputusan yang ada, berdamailah berdamailah.

Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla menggaungkan Revolusi Mental di awal masa kampanyenya, sedangkan Pak Prabowo dan Pak Hatta melejitkan Keutuhan NKRI. Dua hal ini kiranya dapat dikolaborasikan agar Indonesia semakin sejahtera kedepannya. Kadang saya mikir, kok ya revolusi mental ini berat sekali terdengar. Bagi saya, berjuta masyarakat Indonesia dari kota hingga pelosok, mendengar kata revolusi mental ini berhubungan dengan nilai hidup dan karakter yang berhubungan pada interaksi sosial. Tidak semua masyarakat mengerti bahwa di jaman sekarang ini revolusi mental DIBUTUHKAN. Semoga saja saya salah ya.

Menarik saat saya mendengar salah satu pengalaman dosen yang mengajar privat bahasa Inggris di salah satu dinas di Jambi. Ia menceritakan bahwa pelaku di institusi tersebut tidak memiliki nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh lembaga tersebut. Dikatakan dosen saya, pembayaran uang yang tertulis di dalam kertas tidak sesuai dengan apa yang ia terima. Kalian tahu kawan? Manipulatif. Pelaku institusi itu meminta dosen saya untuk menandatangani kertas yang nominal pembayarannya bahkan tidak lebih dari 50% untuk dosen saya itu. Alhamdulillah, dosen saya memiliki nilai-nilai luhur yang ia junjung dalam profesionalitasnya sebagai pendidik. Ia tidak menandatangani itu, dan memilih untuk berhenti mengajar.

Saya tidak tahu, apakah kejadian di atas sering dilihat, dialami, atau didengar teman-teman. Saya tidak tahu sudah berapa banyak kejadian itu berlangsung. Saya tidak tahu apakah masih ada orang-orang suci yang memiliki mental tangguh untuk tidak menjadi bagian dari kemudharatan itu. Saya tidak tahu apakah revolusi mental Pak Jokowi dapat berlangsung hingga ke akar-akarnya? Hingga ke rakyatnya? Rakyat yang bahkan di daerah terpencil pun masih kekurangan konsumsi pangan untuk mengisi perutnya, di saat revolusi mental digaungkan?

Sungguh ini sebuah kekhawatiran pribadi saya. Mungkin saya terlalu mencintai negeri ini. Mungkin saya dianggap terlalu berlebihan. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, saya yang khawatir ini adalah rakyat biasa yang peduli dengan negaranya. Saya hormat sekali dengan Pak SBY yang telah memimpin negara ini selama 10 tahun. Saya pun kagum kepada Pak Jokowi yang mampu menarik hati masyarakat Indonesia hingga memilihnya sebagai presiden, bahkan hanya selisih sedikit persen suara dari Pak Prabowo. Kepedulian inilah yang ingin saya bangun. Mungkin ini jawaban dari revolusi mental yang Pak Jokowi agungkan. SEHARUSNYA SETIAP MASYARAKAT INDONESIA MEREVOLUSI MENTAL DAN NILAI HIDUPNYA.

Saya percaya Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla mampu menerapkan revolusi mental hingga ke grass root. Adalah penting bahwa kita lah yang mengawali perubahan dalam diri sendiri. Baru setelah itu perubahan menjadi berarti bagi pemimpin. Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla tidak bisa bekerja sendiri. Kita patut membantu, mengoreksi, dan turut berkontribusi bagi kepemimpinan baru. Let’s light the candles, stop cursing the darkness, begitulah yang biasanya Pak Anies Baswedan tekankan kepada alumni pengajar muda. Bahwasanya begitu banyak masalah yang ada di negeri ini, namun itu tidak akan selesai kalau kita hanya mencemooh dan menghujat.

Justru yang dibutuhkan kepemimpinan baru ini adalah nyalakan lebih banyak lilin untuk bersama-sama bekerja di setiap sektor. Tanamkan nilai-nilai luhur kehidupan, prinsip hidup, atau mental yang tangguh dan tak ikut arus kepada generasi bangsa. Indonesia milik kita bersama. Hancurnya Indonesia ya gara-gara kita, sejahteranya Indonesia juga karena kita. Jangan kira hanya pejabat yang punya andil untuk membuat perubahan. Kita, rakyat jelata pun mampu mewujudkan itu bersama-sama. Tak adil rasanya pejuang yang telah wafat di medan perang itu hanya mengamanahkan negeri ini kepada pemerintahnya saja bukan?

Seingat saya, tidak pernah saya menuliskan sebuah tulisan khusus kepada presiden terpilih dalam 24 tahun saya hidup di dunia. Namun malam ini hati saya tergelitik untuk menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Bahkan tidak pernah terbayang dalam benak saya, bahwa Mei 2012 lalu saya menjadi bagian dari kompilasi buku Kumpulan Karya Pemenang Event “ Menulis Surat Untuk Dahlan Iskan dan Jokowi.” Entahlah, sejak saya mengenal Pak Jokowi di tahun 2011 hingga saya bertemu beliau pada acara Parlemen Muda Indonesia dan Indonesia Young Changemaker Summit 2012 lalu, ada keyakinan dalam diri bahwa Pak Jokowi suatu saat bakal memimpin negeri ini. Kenyataan itu memang terjadi.

Saya bersyukur pernah menulis sedikit pandangan tentang Pak Jokowi dalam buku terbitan LeutikaPrio Yogyakarta itu. Sang Walikota Kaki Lima sebagai cover buku tersebut menjadi kehormatan bagi saya menuliskan rekam jejak beliau yang saya ketahui. Saya berharap beliau mampu mengemban amanah ini, pemimpin yang menjadi suri tauladan bagi agama, keluarga, dan negara. Amin.

One Fine Day: Letters from My Students

After my bad day, one fine day had arrived. On 4th October 2014, few days ago, I felt my energy came back. At 10.00 a.m, I got it.

Uti, Pengajar Muda on batch 8, who continued the Indonesia Mengajar Movement Foundation in my school, sent my students’ letters to me. She sent it from Rote on 26th September 2014. I was surprised that this letters came earlier than I imagined before. What I was not expected, as my experienced when sent the letter from Rote to Jambi or other cities, it took along one month. I thanked to Allah Swt that faster is better :)

A brown envelope given by postman to my mother, and she gave it to me. I considered, this brown envelope was mine, hehe. I had many envelopes when I was a Pengajar Muda. It had a reason. My friends often sent the letters to my students in Rote, they were from all over Indonesia and abroad. So I decided to sent back their letters, and my students already wrote for them. By using that cheap envelope, it helped me enough.

I tore that letter. My heart was vibrated. I was happy and sad at that time. I couldn’t imagine what they wrote on that letter. How lovely their writing. And others feeling which I couldn’t say. Well, by listening Sahabat Kecil by Ipang, I read 18 letters. Although not all my students wrote to me, I was very very very happy to receive it :’)

I wanted to show to you something touched in my students’ letters here. Just few sentences which can remember me the condition in Rote, and maybe you can imagine how precious moment one year ago for me.

Cinthya Ngik: “Ibu, pesan dan kata-kata ibu, Cinthya selalu ingat, dan belajar lebih giat lagi supaya cita-cita Cinthya tercapai dan bisa ketemu ibu lagi.”

Leo Agung Yakob Ketta: “Salam dan selamat bertemu kembali bunda. Hati saya amat senang bertemu bunda walau hanya melalui selembar kertas ini. Kiranya bunda dalam keadaan sehat dan senantiasa diberkati Tuhan YME.”

Wenita Killa: “Semoga ibu masih ingat Wenita dan teman lain juga ya.”

Feraningsih Ndaomanu: “Ibu, saya kangen sekali dengan ibu. Saya doakan ibu supaya ibu jangan melupakan saya ya. I love ibu Bella.”

Eldath Ngik: “Ibu, di kelas 4 semuanya berantam terus. Ibu, saya mau tanya ibu pagi-pagi kelompok 4 tidak bersihkan kelas.”

Marlin Ndaomanu: “Saya mau tanya bu, ibu sudah mengajar atau belum. Kalau sudah bilang sama Marlin ya bu. Marlin mau perkenalkan sama mereka, namanya siapa dan berapa banyaknya.”

Marlin Ndaomanu (second letter): “Aku kangen sama ibu. Aku sedih waktu ibu jalan dan aku sampai sakit. Aku ingat perbuatan aku sama ibu. Aku ingat aku tidak kerja PR dan aku membuat hati ibu sakit.”

Cindy Keluanan: “Cindy sedih kalo ibu Bella jalan ke Jambi. Cindy malam-malam ingat ibu saja, jadi Cindy sedih terus.”

Joan H. Pellokila: “Halo ibu Bella saya sekarang sudah mendapat buku baru, Angry Bird 3 pak. Kita semua kangen ibu Bella, kami semua kepengen ibu Bella sekarang. Kami menghapal perkalian dari 1 – 10 tapi Olin saja yang tidak bisa.”

Niken Sania Keluanan: “Ibu sudah bikin kami sangat senang dan bahagia. Sekarang kami dengan ibu Desi. Dan kami semua ada lagu untuk ibu.

letters

                Selamat jalan ibu, selamat jalan ibu, selamat jalan ibu kami ucapkan

                Selamat jalan ibu kami ucapkan

                Salam, salam

                Terimalah salam dari kami yang ingin maju bersama-sama.

Niken Sania Keluanan (second letter): “Aku sedih sekali karena ibu pergi meninggalkan aku dan ibu aku berterima kasih kepada ibu karena ibu memberi ilmu sebanyak mungkin.”

Windy Ndaomanu: “Ibu saya mau menceritakan pengalaman saya, pada tanggal 15 Juni 2014 saya berulang tahun yang ke-9. Saya senang karena saya bertemu dengan hari ulang tahun saya yang ke-9.”

Adi Muskanan: “Sekarang guru Adi ibu Desi. Sekarang Adi akan berusaha untuk naik kelas. Sekarang Adi pengen melihat muka dan suara ibu.”  (Anyway, a letter from Adi so different, he made it looked like postol :D)

Marsela K. Lapebesi: “Aku kangen sama ibu, ibu semoga mendapatkan jodoh yang tulus hatinya dan baik.” (This letter made me laughed hahaha)

Dewinda Keluanan: “Pas itu juga kami bertiga (Winda, Eldath, and Cindy) senang ngomong lewat hp saya dan tiba-tiba ibu mematikan hp ibu. Kami bertiga menangis dan sedih sekali ibu mematikan hp.” (At that time, signal in my hand phone was bad, so disconnected)

Dewinda Keluanan (second letter with full of color, yes she drew her letter to me): “Ibu kapan ibu datang ke Rote lagi. Bu kami semua merindukan ibu.”

Rosalin Amalo: “Ibu jangan sedih, kita semua akan doakan ibu supaya ibu selalu sehat. Ibu juga doakan kita agar cita-cita kita tercapai. Ibu tidak boleh melupakan kebersamaan kita, aku juga tidak melupakan ibu.”

Rifal Dalle: “Halo ibu Bella kami tercinta. Ibu Bella kami kangen sama ibu Bella. Kami semua ingin bertemu, karena ibu telah mengajar kami sampai kita naik. Mudah-mudahan ibu bisa kesini lagi.”

The contain of their letter so touchy. This eliminates the homesickness me against them. Hopefully their pray for me will happen, that I will visit Rote someday. And for other writings, I love their story when they were not embarassed to tell their story. Example, Joan’s book with Angry Bird, Eldath said that their friends did not want to do community service in the class, and the heart-warming when I saw Kesya’s pray: “Semoga ibu mendapatkan jodoh yang tulus hatinya dan baik.” Ya Allah, how innocent the are :’’’)

Well, I will write many letters to them. Let me prepare the materials first and imagine that Jambi is near from Rote.

See you on letter, kids!

Suara dan Suasana Yang Saya Rindukan, Rote  

 

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Selalu dipuja-puja bangsa

 

Disana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Sampai akhir menutup mata

 

Tak bosan saya mendengar lagu ini dilantunkan dengan suara syahdu nan merdu. Ia berdentum keras di telinga lewat earphone yang saya kenakan. Tak bosan saya menyanyikan lagu itu tatkala saya menulis kenangan satu tahun lalu. Satu tahun teramat susah untuk dikembalikan lagi. Satu tahun yang akan selalu saya kenang. Satu tahun yang kelak menjadi cerita paling berapi-api untuk dikabarkan kepada anak cucu saya kelak :’)

Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari pertama bulan September, saya menelepon anak-anak saya yang berada di wilayah paling jauh dari sekolah. Kawasan Leli terletak 6 km dari sekolah. Anak-anak saya menempuhnya dengan berjalan kaki atau menumpang kendaraan masyarakat yang lewat di hadapan mereka. Adalah Irvan, yang menggerakkan saya untuk menelepon mereka, ibu gurunya ini rindu akan suara khas anak Rote itu.

Alhasil pada pukul 19.47 WITA, mereka akhirnya ditelepon ibu gurunya ini! Saya yang meminta Irvan untuk mengumpulkan Fera, Kesya, Martha, Windi, dan Jefri, murid-murid saya saat mereka di kelas 3. Meski Jefri tidak hadir disana (rumahnya agak jauh dari rumah mereka meski berada dalam satu kawasan), ternyata ia tergantikan oleh Wahyu, Yandri, Agus, serta ibu dan adik Irvan. Di rumah Irvan, suara saya berkumandang sekitar 1 jam lamanya.

Saya mengobrol dgn Irvan terlebih dahulu. Menanyakan kabar, menanyakan sekolah, menanyakan segala yang membuat saya bisa bernostalgia dengannya malam itu. Setelah Irvan, gagang telepon berpindah ke Kesya, hingga berlanjut Fera, Martha, dan Windi. Setelah murid-murid saya selesai mengobrol dengan saya, gagang telepon dipindahkan kepada Wahyu, dia adalah siswa kelas 6 dulunya, dan kini sudah menginjakkan bangku SMP. Lalu Agus, adik Irvan yang kini kelas 2, serta dilanjutkan oleh Yandri, siswa kelas 6 yang meski awalnya malu-malu berbicara dengan saya. Terakhir saya mengobrol dengan ibu Irvan dan adik perempuannya. Ahh sungguh kangen berada di tengah-tengah masyarakat Rote :’)

Mama pun kebagian berbicara dengan mereka. Bedanya, saya berbicara dengan akses Rote sangat jauh dengan mama saya yang berbicara dengan bahasa Indonesia hehe. Irvan yang memegang gagang telepon mendengarkan mama saya berbicara dari A-Z, hehe, dan dia menjawab, “Iya, Bu.”

Terlibat pembicaraan dengan mereka mengundang sejuta pertanyaan yang ingin saya ketahui. Apa yang sedang mereka lakukan? Bagaimana kabar mereka, beserta bapa dan mama? Bagaimana kabar sekolah dan pelajaran mereka saat ini? Bagaimana suasana Rote sekarang? Serta motivasi-motivasi yang tak hentinya saya bilang: “Bosong jangan malas-malas e, rajin belajar. Kalau son tahu, bosong tanya sama ibu guru. Nanti kalau bosong pintar, bapa mama senang toh. Bosong ju bisa pi Jakarta, atau ketemu ibu di Jambi nanti. Kalau bosong pung cita-cita mau tercapai, jangan lelah, terus berusaha, belajar, dan berdoa kepada Tuhan e. Ibu turut mendoakan bosong dari sini.”

Entah dari mana tiba-tiba, pertanyaan salah satu siswa saya terlontar begini, “Ibu Bella tanggal berapa pi Rote lai?” Itu pertanyaan seolah-olah menyuruh saya ke Rote dalam waktu dekat. Ah Nak, andai saja ibu seperti Doraemon, yang punya pintu kemana saja, yang bisa memilih kapan dan dimana ibu akan pergi. Pasti ibu akan menuju Rote saat itu juga. Sayangnya ibu guru kalian satu ini harus masih di Jambi. Nun jauh kalian lihat di peta Indonesia yang pernah kita saksikan bersama-sama dulu. Beginilah jauhnya jarak antara Pulau Rote yang berada di paling selatan Indonesia dan kota Jambi yang berada di wilayah Sumatera. Kalian tentu ingat bukan, kalo naik kapal berapa malam di laut bukan?

Nak, ibu bersyukur menjadi bagian dari kalian. Menjadi bagian dari negara kepulauan yang luas ini. Bersyukur pernah mengenal lebih dekat dengan Rote. Bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk menginjakkan tanah timur Indonesia, suatu cita-cita yang sudah lama ibu inginkan.

Nak, kelak akan kita bertemu lagi. Kita akan bercerita lebih banyak lagi. Kita akan menjadi lebih dewasa di negeri ini. Yakinlah Nak, kelak saat kita bertemu, kau telah menjadi bintang bagi keluarga dan daerahmu. Kau telah menjadi kebanggaan Indonesia. Kau telah meraih cita-citamu. Kau telah menjelajah Indonesia, dan tentunya keinginanmu untuk pergi ke luar negeri seperti kartu pos yang telah dikirimkan oleh teman ibu kepada kalian. Kelak kau akan menjadi anak Indonesia yang berkarakter, beriman, nasionalis, dan cerdas. Harapan ibu besar untuk kalian. Jauh dari sanubari hati ibu, ingin rasanya bertemu kalian lagi. Kita hanya berdoa semoga Sang Maha Kuasa menyegerakan harapan kita.

 

Jambi, 3 menit menjelang 22.00

3 September 2014, dari guru yang merindukan suara dan suasana kalian di Rote :’)20131010_075226

Tuhanku Disini  

 

Apa kabar Tuhan disana?

Ia pasti sedang tersenyum melihat kita yang berlomba-lomba menuju kebaikan

Ia pasti sedang membisikkan malaikatNya untuk kita menuju jalan kebenaran

 

Apa Tuhan mengerti?

Ia tentu melihat hambaNya disini

Ia tentu mengerti apa yang sedang dirasakan hambaNya ini

 

Apa Tuhan mendengar?

Ia selalu punya kekuatan untuk mendengar apapun yang disampaikan hambaNya

Ia selalu punya mata hati untuk mendengar keresahan hambaNya akan kehidupan

 

Apa Tuhan melihat?

Ia tak pernah luput mengamati kehidupan khalifah di bumiNya

Ia tak pernah luput memberikan keajaiban-keajaiban kepada hambaNya

 

Apa Tuhan tahu?

Tentu saja Ia tahu, Ia tahu apa yang kau harapkan

Tentu saja Ia tahu, ya Ia tahu bahwa kau belajar banyak dariNya

 

Jadi sekarang, Tuhan tak pernah keliru. Ia memberimu pelajaran. Ia juga yang menguatkanmu lewat orang-orang terbaikmu. Ia tahu kamu butuh didengar, dilihat, dimengerti, dan diamini. Tenang, Ia ada disini. Bersamamu yang sedang menepi dari ilusi semu tak terperi.

Pohon Beringin Itu

 

Pada semilir angin yang melintas di depan mata

Pada helaan nafas teramat dalam

Pada terpaan bunyi klakson kehidupan yang semrawut

Pada kesunyian diri yang coba meresapi apa yang diingini

Pada saat itulah, pohon beringin itu diam, menatap dirinya sendiri

 

Ketika yang ia tunggu tak kunjung membuahkan hasil

Ketika jawaban yang ia tunggu tak sesuai harapannya

Ketika langkahnya semakin skeptis

Ketika jiwa dan pikirannya lelah berdiri

Ketika itu pula, ia mencoba untuk berdamai

 

Yang ia tahu, hidup pernah sesulit ini, khususnya dalam urusan itu

Yang ia alami, bahkan dulu ia tetap tegar meski badai menerpanya

Yang ia pahami, sesuatu tak perlu dianggap serius

Yang ia harus pelajari, mungkin itu

Pohon beringin akan terus berdiri, tegap

Meski ia kadang harus mengacuhkan orang-orang yang mendekatinya

Meski ia sering jatuh karena kesalahannya sendiri

Poster Perkenalan dan Cita-Cita

Kertas bekas.

Crayon. 

                Ide.

Aku menyiapkan tiga hal tersebut sebelum keesokan harinya bertemu dengan siswaku. Ya, pertama kali aku masuk kelas, mengajar dan mendidik mereka dalam satu tahun. Aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan sekali seumur hidup tersebut. Aku niatkan, perkenalan awal ini harus membuat mereka memusatkan perhatian keIMG_20130716_123822padaku. Akhirnya, dengan kertas bekas dan crayon warna warni, plus segepok ide di kepala, aku pun menggambar indah malam itu. Malam dimana aku tak sabar bertemu murid-muridku!

Pagi sekali, sekitar pukul 4 pagi, aku bangun untuk sahur. Ya kala itu, aku melaksanakan puasa di Rote. Aku menyiapkan makanan untuk aku sahur, setelah pada malam harinya ibu piaraku, ibu Femi, mengingatkanku untuk makan sahur. Aku makan sahur dengan cepat. Setelah 30 menit, aku mempersiapkan kembali peralatan yang akan kujadikan perkenalan kepada murid-muridku.

Aku teringat akan poster gambar yang kubuat tadi malam. Aku membuka kertas yang sudah kulipat menjadi persegi panjang itu. Aku melihat lagi. Tampak seorang gadis berjilbab menjadi pusat utama yang berada di tengah-tengah kertas. Di sisi kanan dan kirinya, gambar-gambar yang menunjukkan dari mana ia berasal, kapan kelahirannya, berapa jumlah keluarganya, apa hobinya, serta apa makanan dan minuman kesukaannya, menjadi poin inti perkenalan.

Aku membuatnya tadi malam, saat dimana kreativitas menggambar yang terbatas ini bersliweran di kepalaku. Aku yang tak punya bakat melukis ini dengan percaya dirinya (bahkan mungkin takut ditertawakan oleh muridku) menggambar tentang dirinya sendiri. Warna warni crayon terlukis di kertas bekas milik pengajar muda penerusku sebelumnya, kak Nelly. Dengan beberapa warna yang cukup intens, sesungguhnya aku juga menyiratkan kepada anak-anakku, bahwa gurunya ini menyukai warna tersebut. Pink, hijau, dan biru.

Melihat media perkenalan itu membuatku semakin bersemangat. Aku tak sabar mengawali hari itu. Bergegas aku ke kamar mandi, lalu melaksanakan ibadah sholat Subuh di tengah keterbatasan, aku tak mendengar suara adzan yang biasa aku dengar seperti di komplek rumahku di Jambi. Tak mengapa, aku belajar untuk meningkatkan ketaqwaanku disini. Pikirku, Allah Swt akan selalu mengingatkan hambaNya meski tak ada adzan sekalipun disana. Dalam sujudku, aku berdoa hari pertama akan berjalan dengan lancar.

 

Menjelang pukul 6 pagi, beberapa anak memanggil “Ibu, ibu” di barisan pintu depan mess guru yang kutempati bersama ibu piaraku yang juga seorang guru di SD yang sama, SD Inpres Onatali. Mereka memanggil ibu Femi untuk mengambil kunci kantor guru. Ya, sedari pagi itu, anak-anak sudah datang ke sekolah. Ajaibnya, pada jam itu belum ada kulihat anak sekolah di kotaku sendiri berangkat ke sekolahnya, tapi tidak dengan mereka, bangun pagi-pagi sekali membantu orang tua dan kemudian berangkat sekolah, adalah aktivitas yang mereka lakukan setiap harinya.

Tiba di sekolah, mereka tak lantas bermain. Tugas pertama sebelum masuk kelas adalah membersihkan ruang kepala sekolah, guru, dan kelas mereka sendiri. Dengan membawa air di dalam dirijen kecil, mereka pergi ke sekolah dan bekerja bakti bersama teman-temannya. Awalnya aku bingung, kenapa mereka bekerja sedini itu, sebuah pemandangan yang jarang aku lihat di kota. Namun aku baru tahu bahwa alam Rote yang keras itu mengajarkan mereka untuk hidup dengan perjuangan yang keras. Tak ada yang salah mereka bekerja bakti, justru itu menjadi nilai plus bagiku yang tak perlu repot-repot menjelaskan manfaat kerja sama di lingkungan sekolah, yang memang menjadi materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas 3.

Sekolah yang sudah libur selama dua minggu itu akhirnya bersih. Tak ada petugas kebersihan, namun mereka butuh dikomandoi agar tak lupa akan tugasnya. Aku pun ikut menertibkan beberapa anak-anak yang lebih tertarik mengobrol daripada bekerja. Masih dengan bahasa kota yang ku bawa (aku belum beradaptasi dengan bahasa daerah saat pertama kali mengajar), aku pun berusaha berinteraksi dengan mereka saat kerja bakti berlangsung. Sambil bersalaman dan berbicara dengan beberapa guru yang juga ikut mengomandoi anak-anak, aku sungguh makin tak sabar memulai kelas pertamaku.

Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Pukul 9 pagi lewat 15 menit. Aku menanti mereka selesai bekerja bakti. Hingga akhirnya aku melihat kelas 3 yang akan ku ajar selama 1 tahun tiba-tiba sudah setengah bersih. Anak-anak tampaknya tak mau mengecewakan ibu guru barunya ini. Masing-masing mereka memiliki tugas masing-masing. Ada yang menyapu kelas, membuang sampah, mengepel lantai, mengambil sampah di halaman, menyiram tanaman, dan membuka jendela. Aku ingat, aku hanya mengomandoi susunan tempat duduk mereka saja.

“Anak-anak, sebelum kita berkenalan, kalian bersihkan saja dulu ruangan kelas ya. Nanti tempat duduk kalian buat seperti tempat duduk di kelas sebelah. Seperti ini..,” ujarku sambil mempraktekkan susunan tempat duduk, dua kursi dan dua meja berdekatan, lalu diikuti pula untuk meja dan kursi di belakangnya. Mereka tersenyum-senyum, entahlah apa masih malu berinteraksi denganku atau tidak. Ada juga yang lantang menjawab, “Baik, Bu. Kotong bersihkan semua su.”

Selang ku tinggalkan kelas beberapa menit, aku kembali melihat kelas 3. Pikirku, sudah saatnya beraksi. Aku tak sabar lagi memperkenalkan diri kepada mereka, aku tak sabar lagi mengenal nama dan cita-cita mereka satu persatu! Akhirnya aku pun bertanya, apakah kelas sudah siap atau belum, karena ibu guru akan masuk ke kelas. Mereka serentak menjawab, “Sudah, Bu.”

Tentu saja, aku tak lupa membawa poster tentang diriku yang ku buat tadi malam. Aku juga membawa lem untuk menempel poster itu di papan tulis. Dengan sigap aku menempelnya sendiri, tampaknya anak-anak masih malu-malu untuk berinteraksi denganku, apalagi menawarkan bantuan. Aku biarkan pandangan mata mereka menyiratkan pertanyaan atas apa yang mereka lihat di papan tulis. Kudengar, beberapa siswa berbisik, mereka sepertinya telah menduga bahwa yang kutempelkan itu adalah tentang diriku. Di sisi lain, suara-suara yang terdengar oleh telingaku mengatakan, “Awi, cantik na gambar warna warni ibu.” Aku tersenyum mendengarnya. Ibu guru mereka yang tak pandai menggambar ini dikomentari seperti itu. Sungguh lugu perkataan anak kecil, pikirku.

Aku membuka kelas dengan salam, “Selamat pagi, anak-anak.” Mereka bersemangat sekali menjawabnya, hampir-hampir aku mengerenyitkan dahi karena belum terbiasa dengan suara keras mereka. Aku mengucapkan terima kasih karena mereka telah bekerja bakti dengan baik pada pagi itu. Aku juga menunjukkan namaku yang tertera di jaket Indonesia Mengajar, Bella, di sebelah kiri atas.

“Ibu Bella, oh..,” ujar mereka sambil penasaran melihat jaket dan poster di papan tulis.

Aku pun memperkenalkan nama lengkapku berikut simbol diriku di poster tersebut.

“Nama ibu adalah ibu Bella Moulina, tapi anak-anak panggil ibu dengan ibu Bella saja ya,” kataku.

“Anak-anak tahu tidak ibu berasal dari mana?” tanyaku kepada mereka.

Tak ada jawaban, namun mereka mencoba berdiri untuk melihat lebih dekat gambar yang sudah dibuat. Mereka pikir ada nama kota tempatku berasal disana, namun pada akhirnya aku berhasil mengalihkan pandangan mereka ke sebuah gambar ikon khas Jambi. Gunung Kerinci dan Candi Muaro Jambi. Mereka yang tak paham dengan gambar itu mencoba menerka. Ada yang menjawab gambar rumah, sawah, dan lain-lain. Entahlah, mungkin karena ketidakpiawanku menggambar, alhasil anak-anakku punya segudang interpretasi yang justru berbanding terbalik dengan maksudku hehe.

Akhirnya aku menjelaskan bahwa dua ikon gambar itu adalah ciri khas Jambi, tempat dimana aku berada sebelum berangkat ke Rote. Aku pun memperkenalkan satu-satu maksud gambar makanan, minuman, tanggal, cita-cita, dan beberapa orang yang berada di sekeliling gambarku. Mata mereka menyiratkan antusiasme tinggi. Mereka tak sungkan untuk menebak bahwa gambar di sebelah kiri tentang hari lahirku. Sedangkan gambar di sebelah kanan adalah hobiku. Ah, mereka cerdas! Hari pertama berkenalan dengan mereka cukup berkesan. Aku berhasil menggaet mereka ke dalam hidupku, sebelum akhirnya aku yang akan mengenal mereka lebih dalam.

Pada akhirnya perkenalan usai. Aku berterima kasih kepada mereka karena sudah memperhatikan dengan baik. Hingga tiba gilirannya aku memanggil nama mereka satu persatu untuk maju ke depan kelas. Ya, perkenalan diri yang mungkin bagi mereka tidak biasa. Berdiri di depan kelas, malu-malu, wajah melihat kanan dan kiri, sambil menunduk ke bawah, hingga pada akhirnya aku menguatkan mereka, “Ayo, kenalkan dirimu kepada teman-temanmu dan ibu tentunya. Ibu ingin tahu apa cita-citamu.”

Winda, adalah anak yang membuatku tersentak saat ia memperkenalkan diri di hadapan teman-temannya. Sesaat setelah aku melihat ekspresi wajah dan tubuhnya yang pemalu sambil menutup mulut dengan tangannya, dan cengar-cengir di depan kelas, aku mencoba membuatnya berani berbicara.

Pada akhirnya ia berkata, “Halo teman-teman, nama saya Dewinda Keluanan. Cita-cita saya ingin menjadi petani seperti ibu dan bapak saya.”

Mungkin itu adalah kali pertama saya mendengar cita-cita seorang anak Indonesia ingin menjadi petani. Kurasa ia sangat menghargai perjuangan ibu dan bapaknya yang bekerja sebagai petani, yang menyekolahkannya hingga kini. Kurasa ia sangat menelaudani ibu dan ayahnya, hingga pekerjaan pun ia ingin menyamainya dengan orangtuanya. Kurasa pula ia tak punya pilihan lain untuk menjadi seperti apa di masa depan, mungkin ia belum mengetahui betapa banyak cita-cita yang ia bisa gapai.

Aku tak kuasa untuk tidak memberikan apresiasi kepadanya. Winda, anak perempuan yang postur tubuhnya paling tinggi diantara teman-temannya, membuat hati kecil saya bergumam.

“Tidak ada yang salah dari cita-cita anak ini. Petani itu mulia. Ia memberikan beras kepada masyarakat. Ia menunggu beberapa bulan untuk panen. Ia dengan sabar menunggu padinya di sawah. Ia mengusir burung-burung yang hinggap untuk memakan biji padi. Petani pula yang berjasa terhadap surplusnya beras di Rote. Jadi sesungguhnya cita-cita Winda tidak salah. Namun disini, di ujung republik ini dan jauh dari peradaban kota, pulau paling selatan Indonesia ini sesungguhnya menyimpan optimism kepadaku untuk berbuat lebih banyak bagi mereka. Aku tak ingin Winda dan anak-anak lainnya disini hanya mengenal profesi yang itu-itu saja, aku ingin mereka kenal profesi lain yang kelak menjadi cita-cita mereka di masa depan, yang tentunya berguna bagi perkembangan negeri nusa lontar ini. Aku tentu ingin melihat kehidupan Winda dan anak-anak lain disini sama seperti keluarga mereka. Aku ingin menanamkan bahwa hidup mereka harus lebih baik dari keluarga mereka di masa depan. Mereka setidaknya harus bersekolah untuk menaikkan derajat kehidupan keluarga mereka. Aku bertekad untuk mereka.”

Sungguh hari pertama yang tak bisa dilupakan.

Sekapur Sirih #30daysofwritingchallenge

Rote dalam pandangan pertama saya di pelabuhan Ba'a

Rote dalam pandangan pertama saya di pelabuhan Ba’a

                ”Anak-anak Bawean menanti bapak ibu guru…”

                Sejenak kata-kata dari salah satu fasilitator kami saat Pelatihan Intensif Pengajar Muda angkatan VI Mei 2013 lalu terhenti. Ia menarik nafas panjang. Sesaat kemudian aku mendengar satu persatu nama-nama temanku terdengar di telinga. Aku bahagia. Akhirnya mereka mendapat kepastian dimana mereka akan mengajar selama 1 tahun ke depan.

                “Eni, Kinkin, Naim, Tika, Ano, dan Fauzan,” sebut salah satu fasilitator kami dengan suara lantang.

                Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, dengan posisi yang sama yakni memejamkan mata, aku mendengar kabupaten Rote Ndao disebutkan. Ah, dalam hati aku berpikir, apakah aku berada disini? Atau aku malah ke kabupaten lain?

                “Anak-anak di Rote Ndao menunggu bapak ibu guru, Rizqie, Tika, Fitri, Nadia, Ice, Wisnu, Iwan, Bella, dan Tiva!”

                Mendengar namaku disebut dalam tim Rote Ndao, aku bersujud syukur. Sedikit tetesan air mata kurasakan mengalir di pipiku. Aku terharu. Selang beberapa minggu lagi, aku akan melihat tanah timur, tepatnya pulau paling selatan di negara ini, Pulau Rote di Kabupaten Rote Ndao.

 

                Hidup sejatinya lebih bermakna ketika kita dapat berarti bagi orang-orang yang kita cintai. Kehadiran kita dinantikan. Tutur kata menjadi panutan. Kebermanfaatan bagi sesama selalu dirindukan. Kita bisa memilih hidup kita ingin lebih berarti atau tetap pada saat ini. Saya memilih yang pertama.

Satu tahun di Rote Ndao bukan sebagai prestise menjadi pengajar muda yang melunaskan janji kemerdekaan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Satu tahun di Rote Ndao tidak hanya mengajar dan seumur hidup menginspirasi. Lebih dari itu, satu tahun di Rote Ndao membuat hidup saya lebih bermakna. Saya lebih mengenal diri saya. Saya lebih mengenal Allah Swt, sang pencipta jagad raya. Saya merindukan keluarga dan ingin lebih mengenal mereka. Dan saya semakin cinta Indonesia.

                Telah 1 bulan lebih saya kembali ke tanah tempat saya belajar, Jambi. Dalam kurun waktu itu pula tak banyak yang sudah saya lakukan sekembalinya saya kesini. Saya menunggu panggilan lamaran yang saya tuju kepada berbagai institusi, baik di Jambi maupun luar Jambi, saya menunggu tes abdi negara, saya berdiskusi dengan komunitas di Jambi, dan saya kembali mulai mengajar privat. Di sisi lain, saya memiliki banyak waktu bersama keluarga dan berkontemplasi dengan Tuhan saya; untuk apa saya hidup, mengapa saya hidup, dan apa yang harus saya lakukan di hidup ini.

                Sejatinya ini adalah awalan. Dalam beberapa hari kedepan, saya berencana membuat proyek #30daysofwritingchallenge dimana saya kembali akan menuliskan kisah perjalanan hidup yang saya pelajari selama di Rote. Ini bukan tentang sudah atau belum move on, karena bagi saya lebih baik kita memahami makna: “Menulis adalah melukis sejarah. Menulislah sebelum kau hilang dari sejarah.” Jadi, sebelum saya ‘diambil’ olehNya dari muka bumi ini, sebelum saya memiliki pekerjaan yang sibuk sekali, sebelum saya pada akhirnya tidak memiliki waktu untuk menulis, saya memutuskan untuk menantang diri saya dalam 30 hari kedepan untuk menulis. Minimal dalam satu hari saya menulis satu tulisan, lebih pun juga boleh.

                Proyek ini adalah hasil olah pikir saya dengan mengenang apa yang sudah saya alami dalam satu tahun belakangan. Saya akan bernostalgia dengan ingatan saya dan bantuan orang-orang yang berada di sekeliling saya dalam satu tahun lalu. Mungkin teman-teman akan melihat tulisan saya bisa haru, bahagia, penuh gelak tawa, atau bahkan sedih. Lumrah halnya ketika manusia hidup di umur 24 tahun, tentu banyak kisah suka duka yang ia alami. Pun saya juga begitu.

                Akhirnya, ini adalah pengantar sebelum saya menulis proyek #30daysofwritingchallenge. Mohon ingatkan saya kalau sampai jam 10 malam belum mengupload tulisan juga (jika teman-teman berkenan). Proses dari pagi hingga malam akan merunutkan saya terhadap kejadian-kejadian yang akan saya tulis, sebelum pada akhirnya saya berkutat di depan laptop seperti saat ini.

                Sampai jumpa di cerita pertama saya malam nanti!

12 km Untuk Ilmu  

20140414_134752[1]

“Ibu benar mau naik oto bareng katong?”, tanya anak saya suatu hari.

                “Iya, nanti tunggu ibu sebentar ya. Ibu mau beres-beres dulu, nyiapin pakaian untuk berangkat,” jawab saya yakin.

Begitulah pembicaraan saya dan siswa kelas 3 yang tinggal di Leli beberapa waktu lalu. Saya memutuskan untuk merasakan sensasi menumpang oto (dalam bahasa Rote artinya mobil) atau motor yang lewat di depan sekolah saya. Yup, di 3 bulan terakhir ini saya malah ingin terus naik truk, nebeng dengan kendaraan yang lewat, yang bersedia menumpangi saya dan anak-anak.

Leli, adalah daerah tempat tinggal siswa saya yang letaknya jauh dari sekolah. Ya sekitar 6 km, jika mereka pulang pergi maka mereka menghabiskan 12 km. Di Leli terdapat lebih dari 10 siswa, itu sudah termasuk siswa kelas I hingga kelas VI. Mereka terbiasa bangun pagi agar bisa menunggu oto atau motor yang lewat di tepi jalan, yang sudi berbaik hati mnumpangi mereka.

Tapi ada kalanya mereka harus rela berjalan kaki setiap pagi sejauh 6 km. Sayangnya mereka sering terlambat ke sekolah karena lama berjalan. Ini kadang bikin saya berada di dua sisi berbeda, antara sedih dan kesal. Sedih karena mereka tidak mendapatkan tumpangan dan membuat mereka harus jalan kaki. Kesal karena mereka terlalu asyik menunggu dan ketika matahari sudah naik, mereka baru berjalan dari tempat tersebut ke sekolah, yang membuat mereka tidak datang tepat waktu.

Untuk apa mereka rela melakukan itu? Untuk mencari ilmu dari guru, suatu bekal di masa depan yang kelak akan berguna bagi mereka. Pernah saya bertanya kepada siswa saya apa tidak capek melakukan aktivitas seperti itu setiap hari, jawabnya: “Katong pung mimpi harus tercapai dengan giat belajar. Katong harus belajar di sekolah dengan bapak ibu guru.”

Atau pertanyaan lain seperti ini: “Kenapa bosong telat terus na? Ibu sedih sekaligus kesal melihat bosong terus yang telat.” Jawaban mereka membuat helaan nafas panjang pada diri saya, “Sonde dapat oto, Ibu.” Ditambah lagi muka anak-anak yang menjawab lugu dan jujur makinlah bikin hati saya luluh.

Maka dari itu, sejak pertengahan Maret lalu saya memutuskan untuk naik oto bareng siswa setiap saya ingin pergi ke ibukota kabupaten. Meski jarak daerah penempatan dan ibukota kabupaten hanya 15 menit, tapi saya ingin merasakan hidup anak-anak saya yang berjuang 12 km setiap harinya untuk mencari ilmu. Jadi sungguh saya menikmati pengalaman baru ini.

Menunggu oto lewat di depan sekolah sama seperti menunggu seseorang di masa depan. Tidak pasti kapan datangnya. Supaya tidak ketinggalan oto, saya harus bergegas beres-beres di rumah, lalu sholat Dzuhur dan berjalan ke depan sekolah, kemudian bergabung dengan anak-anak sambil melambaikan tangan kepada oto yang lewat. Aktivitas itu pula yang saya lakukan kemarin siang.

Kemarin siang saya bersama Windy, Kesya, Fera, dan Martha menunggu oto. Ada pula siswa kelas V dan VI yang masih belum beranjak dari sekolah, pada akhirnya bergabung bersama kami. Kami menunggu hampir 2 jam lamanya. Ini membuat saya tidak enak dengan anak-anak saya, karena mereka menunggu saya sebelum pulang. Dalam penantian oto tersebut, kami bercerita dan bermain.

Tepuk Ampar-ampar Pisang dan permainan Inji-injit Semut jadi idola anak-anak ketika menunggu oto. Saya diajak, dan saya tertawa bersama mereka. Sungguh kebahagiaan bagi saya melihat mereka tertawa ceria di usia anak-anak yang memang seharusnya mereka rasakan. Terkadang saya meneriaki mereka berkali-kali untuk tidak duduk di tepi jalan. Karena oto atau motor sering lewat di depan sekolah (sekolah saya terletak di tepi jalan) dengan kecepatan tinggi, dan anak-anak malah duduk di tepi jalan.

Setelah hampir 2 jam mengisi aktivitas menunggu oto, akhirnya oto yang dinantikan datang juga. Kloter pertama adalah Kesya dan Fera. Saya menyuruh mereka dahulu agar saya dan beberapa anak lainnya dapat menyusul di oto yang masih lengang penumpangnya. Di sisi lain mereka juga harus mencari telur paskah pada jam 2. Beberapa menit kemudian akhirnya oto lewat lagi, saya, Windy, dan Martha naik. Kami duduk di belakang bersama barang-barang di oto yang berisikan sayuran dan bahan makanan. Diketahui oto tersebut akan berangkat menuju Rote Barat Laut siang tadi. Untuk ke kecamatan itu harus melewati ibukota kabupaten, jadi saya pun bisa menumpang.

Perjalanan 15 menit terasa begitu cepat. Pemandangan di tepi jalan juga indah. Laut biru, langit bersih dengan awan putih, bukit nan hijau dengan pepohonan damar dan lontar, sungguh perpaduan sempurna ciptaanNya. Suatu pemandangan yang akan sangat jarang saya temukan jika masa tugas sebagai pengajar muda ini akan berakhir 2 bulan sejak sekarang.

Kini, makna 12 km itu membuat saya lebih mengerti. Mereka rela menunggu oto atau berjalan kaki demi ilmu. Sungguh tidak ada alasan bagi kita yang tinggal di perkotaan untuk bermalas-malasan berangkat ke sekolah atau kampus dalam menuntut ilmu. Belajarlah dari siswa saya. Jarak 12 km untuk ilmu bukan jadi penghalang.

Pelita Rote di Tengah Kegelapan                  

               sw Kiranya saya tak terlalu muluk membuat judul di atas sebagai gambaran bahwa Sherwin Meynard Robinson Ufi adalah sang pelita yang memancarkan cahayanya saat gelap menerpa. Penerima beasiswa Australia Award Scholarship ini adalah sosok yang menginspirasi bagi pemuda di Rote.

Sebuah ide lahir dari pemikirannya. Pada tanggal 2 Juli 2011, sebuah komunitas bernama Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao lahir dari keresahannya dan teman-temannya. Bertepatan dengan pembentukan komunitas itu pula, ia dan teman-temannya menggalang Gerakan 1000 Buku. Ia dan teman-temannya bermimpi akan hadir satu taman baca di setiap kampung yang ada di Rote Ndao.

Lahir dan besar di pulau terselatan di Indonesia membuatnya memiliki rasa memiliki cukup tinggi. Dari rasa itu tumbuhlah keinginan untuk berbagi kepada anak-anak yang haus ilmu pengetahuan. Lewat Gerakan 1000 Buku, impian tersebut tercapai. Kini telah hadir 9 taman baca di 4 kecamatan di Pulau Rote. Menyusul akan dibentuknya taman baca di kecamatan lain yang dikelola oleh masyarakat daerah setempat.

Alumni pelatihan Forum Indonesia Muda ini adalah seorang PNS yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao. Di sela-sela aktivitas seorang pegawai dan suami dari istrinya, Kak Sherwin menjadi sosok yang patut diteladani. Kesibukan bukan menjadi penghalang baginya untuk berbagi. Baginya, melakukan sesuatu yang berdampak positif bagi lingkungan adalah keharusan bagi pemuda.

Kak Sherwin adalah contoh pemuda masa kini yang tak hanya banyak bicara. Ia justru melihat potensi dan perubahan positif yang harus dikerjakan di daerahnya, tanpa harus menunggu orang lain bergerak. Justru secara tidak langsung ia telah menggerakkan orang lain untuk berkontribusi bagi Rote. Sifatnya yang mau belajar dan rendah hati membuat ia selalu ingin mengembangkan diri, baik untuknya sendiri maupun untuk komunitasnya. Tidak heran kalau dedikasinya ini membuat penghargaan Pelita Nusantara 2014 kategori pendidikan yang mewakili Nusa Tenggara Timur tersemat dalam daftar prestasinya.

Lewat Cita, Ia Berkarya

ensri              “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu.”

Kalimat di atas bukan sembarang kalimat. Sakti dan ampuh, jika kita mau berusaha. Tuhan akan memeluk mimpi setiap umatnya jika kita mau bersungguh-sungguh. Ini pula yang saya yakini sebagai motto hidup saya. Tak heran ketika saya bertemu dengan berbagai orang yang memiliki mimpi, saya selalu semangat. Ada aura positif yang terpancar kepada saya bahwa saya pun juga harus meraih mimpi saya.

Salah satu orang yang saya temui ketika berbincang soal mimpi adalah Ibu Ensri Pellokila Adu. Beliau adalah seorang guru bagi siswa kelas V SD Inpres Onatali, Rote Tengah. Ia juga seorang guru bagi keenam anak-anaknya, menjadi panutan seorang ibu di keluarganya. Kami berbincang-bincang mengenai mimpi setelah beberapa bulan saya ditempatkan di Onatali. Waktu itu saya salut dengan keberanian Ibu Ensri, di sela-sela aktivitasnya yang padat sebagai seorang ibu dan guru, ia mengemukakan pendapatnya soal mimpi.

“Ibu Bella, saya itu orangnya aktif ketika masih remaja. Saya juga tidak bisa diam, selalu ada yang ingin saya kerjakan. Bahkan sampai sekarang saya punya mimpi untuk memiliki taman baca di rumah. Taman baca ini saya harap dapat berguna bagi anak-anak di lingkungan sekitar saya. Saya ingin memberika sesuatu kepada mereka, ya setidaknya mereka tidak hanya bermain ketika sore hari,” ujar wanita yang bersuamikan seorang polisi ini dengan berapi-api.

Saya mendengar penuturan beliau menjadi lebih bersemangat. Keinginan itu timbul dari lubuk hati beliau sendiri. Mimpi beliau melahirkan sebuah ide tulus bagi pendidikan anak-anak di Onatali. Sejujurnya ia bisa saja hidup nyaman dengan apa yang ia peroleh searang, tapi hidup Ibu Ensri tidak lengkap jika tanpa dibarengi mimpi. Bermula dari percakapan sederhana itulah, saya terus mendorong Ibu Ensri untuk segera mewujudkan mimpinya menjadi nyata.

Adalah Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao, yang membuat saya yakin bahwa impian Ibu Ensri akan menjadi nyata. Saya lantas mengajak beliau untuk bertemu dengan punggawa KAMU ROTE NDAO untuk saling berbagi ide dan mimpi. Setelah dua kali pertemuan, akhirnya Ibu Ensri mantap mewujudkan mimpinya. Ibu Ensri bekerja sama dengan KAMU ROTE NDAO untuk mewujudkan taman baca di rumahnya. Namun sebelum itu terlaksana, ia diminta untuk membuat struktur organisasi kepengurusan taman baca.

Hingga suatu hari, Ibu Ensri meminta saya datang ke rumahnya pada malam hari untuk ikut berdiskusi dengan masyarakat di rumahnya. Ya, Ibu Ensri mengajak masyarakat untuk bersama-sama merealisasikan mimpinya. Diskusi apik berselang tiga jam tersebut melahirkan sebuah ide. Struktur organisasi dan sebuah nama bagi taman baca telah lahir. Tamahena, bahasa Rote yang berarti harapan kita. Nama itu merupakan pemberian dari Opa Edo, seorang Maneleo (kepala suku dari beberapa marga di Rote) yang turut hadir dalam diskusi pada malam itu. Sinar harapan terpancar dari taman baca yang dibangun Ibu Ensri lewat cita-citanya.

Pada 5 November 2013, impian itu terwujud. Jika Agnes Monica berkata Dream, Believe, and Make it Happen, Ibu Ensri sudah melaksanakan poin ketiga. Pada saat cita-citanya terwujud itu, beberapa siswa SD Inpres Onatali, masyarakat sekitar, dan punggawa dari KAMU ROTE NDAO hadir disana. Sejak itulah, Ibu Ensri terus belajar dan mengembangkan taman bacanya agar selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak. Saya dan Ibu Ensri kerap melakukan kegiatan di taman baca setiap hari Jum’at (selain hari Selasa, dimana kedua hari tersebut Ibu Ensri membuka taman bacanya). Berbagai permainan edukatif dan menyenangkan dan les bahasa Inggris adalah contoh kegiatan yang diadakan di Taman Baca Tamahena.

Kita bisa saja mengecam kegelapan atas pendidikan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun Ibu Ensri telah lebih dahulu membuktikan bahwa ia menepis itu dengan melakukan sesuatu bagi daerahnya. Ia berkarya di daerah kelahirannya, membangun mimpi dan cita bersama anak-anak Onatali.

Ibu Ensri pernah berkata seperti ini kepada saya, “Saya ingin taman baca ini berkembang lebih baik. Saya kira menolong orang dalam hal positif adalah kebagiaan saya, jadi tidak ada keraguan dalam diri  untuk berhenti berkarya. Pijakan awal ini telah menggapai cita-cita saya.”

Ya, lewat cita, Ibu Ensri berkarya untuk Indonesia.