Menetralisir Emosi

Saya kadang heran kenapa orang terlalu sibuk membicarakan kehidupan orang lain. Yang sejujurnya itu bukan urusan mereka.

Saya kadang kesal melihat orang mengucapkan kata-kata bahagia seolah mereka tahu segalanya. Sotoy kah itu namanya?

Kadang juga menyebalkan sekali saat apa yang kita beritahu kepada orang lain, dia malah menganggap kita ‘nothing’.

Kepo. Apalagi itu. Sibuk nanya sana-sini, bahkan sudah nggak ditanggepin pun juga tetap nanya. Kepekaannya udah putus kali ya?

Duh maafkeun saya yang agak labil. Masih kurang menetralisir emosi di umur seperempat abad ini. Atau ini sindrom lagi dapet ya? Dan puncaknya dua hari belakangan? Ah, entahlah. -______-

Tentang Amanah Kerja

Alhamdulillah, hari ini sudah masuk kerja. Setelah satu minggu lebih libur, akhirnya hari ini aktif bekerja lagi. Well, di saat masih banyak pemuda yang belum mendapatkan pekerjaan, saya harusnya bersyukur karena mendapatkan pekerjaan tetap.

Pulang dari Rote, NTT, tahun lalu membuat saya galau akan bekerja dimana. Karena saya tahu saya pasti akan mengulang kembali pencarian kerja di tempat saya tinggal, Jambi. Meski pada awalnya saya nggak akan ragu soal rezeki dari Allah Swt, meski juga saya tahu peluang sebagai guru Bahasa Inggris insya Allah banyak, namun saya ketar-ketir juga karena sekolah mana yang akan menerima saya ketika tahun ajaran baru dimulai?

Akhirnya setelah 3 bulan bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris, saya pun mendapatkan rezeki di SMP-SMA-SMK Islam Attaufiq Jambi, tepatnya di Talang Banjar. Saya diamanahkan sebagai Executive Teacher, dimana saya banyak mengganti jam pelajaran guru jika guru tidak hadir. Mengajar apa? Life skill dan learning skill, serta pembelajaran Bahasa Inggris yang berfokus pada kemampuan berbicara. Saya mulai bekerja sejak 3 November 2014 lalu.

Kini tahun ajaran baru dimulai. Amanah saya bertambah, yakni sebagai program manager di perpustakaan sekolah. Saya sedikit bingung, kenapa saya yang dipilih, padahal saya masih 7 bulan di Attaufiq. Apa mungkin karena saya suka baca buku jadi saya diamanahkan disana? Ah semoga saja saya bisa memaksimalkan diri di amanah yang baru ini. Saya berharap semoga bisa memberikan yang terbaik kedepannya. Ya setidaknya hingga satu tahun ajaran 2015/2016 berakhir pada Juni 2016 mendatang (karena saya belum tahu apa akan melanjutkan kontrak setelah itu atau tidak).

Amanah kerja bagi saya bukan pekerjaan sembarangan. Tapi saya selalu meniatkan kalau kerja pasti seperti main, hehe.. Karena saya selalu menyukai apa yang saya kerjakan soalnya :D

Kerja itu main, setuju? :D

It’s Long Journey

Perjalanan panjang telah dilewati beberapa tahun terakhir. Ia kadang membuat saya up dan down semaunya. Perjalanan itu pula membuat diri ini belajar bahwa tak semua yang kita inginkan atau harapkan akan terwujud.

Saya belajar dari sebuah perjalanan tentang makna hidup,baik itu positif ataupun negatif. Saya mengerti bahwa setiap orang berhak memulai kehidupan baru setelah luka dan tak henti berharap. Saya jadi sadar bahwa Allah Swt maha baik sekalllliiii,ia menyadarkan saya agar berubah sebelum saya menyesal.

Tak pernah saya menyadari bahwa perjalanan yang saya tunggu-tunggu diijabah oleh Allah Swt. Saat saya hopeless dan mengikhlaskan semuanya,Allah Swt memberikan perjalanan baru. Demikianlah jalan dari Allah Swt,tak diduga dan tak dapat dipahami.

Perjalanan panjang itu akan dilalui dalam beberapa bulan kedepan. Ini mungkin jawaban atas segala doa-doa yang tak kunjung henti dan positif thinking atas keputusanNya. Ini adalah keajaiban bagi saya yang tak pernah saya prediksi sebelumnya. Dan sekali lagi,Allah Swt memberi di saat yang tepat.

Selamat melalui perjalanan panjang. Semoga saya tak pernah lelah untuk belajar. Semoga selalu berpijar menyinari semesta dengan kebaikan dan ketulusan.

Untukmu,masa depanku.

Sedekah, Akankah Menjadi Gaya Hidup?

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah…bertambah…bertambah.” HR. Al Tirmidzi

Sedekah ibarat investasi. Ya, menginvestasikan amalan diri untuk bekal di akhirat, sekaligus investasi di dunia, yang akan mendatangkan hasilnya kembali kepada diri berkali lipat dalam hitungan hari. Sedekah membuat siapapun menjadi kaya, karena investasi amalan itu sendiri. Seperti hadits dari HR. Al Tirmidzi tadi, sedekah tidak akan membuat kita miskin, justru akan menambah kepemilikan kita. Nggak percaya? Mungkin kisah di bawah ini dapat mencerahkan kita.

Alkisah ada seorang teman yang setiap bulannya menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk kaum dhuafa di negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Ia sadar betul bahwa ia tidak meminta imbalan apapun terkait dengan sedekahnya itu. Ia terus bersedekah hingga beberapa tahun kemudian. Suatu hari ia mengikuti pertukaran pemuda ke luar negeri, dan di saat itu Allah Swt memberikan balasan atas apa yang ia lakukan selama ini. Ia mendapatkan kesempatan tersebut setelah gagal beberapa kali.

Di Jambi, ajakan untuk bersedekah sudah menjadi gaya hidup. Bahkan ada komunitasnya lho! SEDekah itU indaH (SEDUH) salah satunya. Komunitas ini digagas oleh anak muda Jambi, yang juga memiliki kepedulian untuk mengajak lebih banyak orang Jambi untuk bersedekah. Pegiatnya telah beberapa kali mendonasikan sedekah yang diperoleh dari relawan untuk kaum dhuafa. Komunitas SEDUH ini layaknya pemantik api. Ketika ia dinyalakan, pancaran api mengenai disekelilingnya dan memberikan cahaya inspirasi untuk bergerak bersama-sama.

Andai sedekah menjadi gaya hidup kita, nggak bisa dipungkiri bahwa masalah kemiskinan, kelaparan, dan ketidakmampuan kaum dhuafa dapat teratasi. Andai sedekah menjadi gaya hidup sehari-hari, nggak akan disangka-sangka rezeki kita akan dilipatgandakan oleh Sang Pencipta. Andai saja semua orang berpikir bahwa dengan sedekah, saya bisa menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Andai saja sedekah dari nilai terkecil kita lakukan dengan konsisten. Andai saja bisa dimulai dari diri sendiri. Pasti asyik!

Pernah nonton film Laskar Pelangi kan? Dalam film tersebut, ada seorang tokoh bernama Pak Harfan, guru Lintang dan teman-temannya di sekolah. Pada satu adegan, beliau berkata seperti ini kepada siswa-siswanya: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Tentu banyak sekali makna dari kalimat tersebut. Saling membantu antar sesama, tugas manusia di bumi sebagai khalifahNya, lebih baik memberi daripada menerima, dan makna lain yang berhubungan dengan kata mutiara itu. Harapannya slogan tadi masuk ke relung hati kita, terhubungkan ke alam bawah sadar, dan terlaksana atas dasar ikhlas dan tulus berbagi.

Prinsipnya, mulailah bersedekah (meski dengan nominal kecil), mulailah dari diri kita (jangan menunggu orang lain), dan mulailah saat ini juga (jangan menunda waktu). Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain?

Tak Kan Berpaling DariMu

Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Dan mulai turun setetes air langit
Dari tubuhnya…

Tanpa sadar nikmat dan alam karena kuasaMu
Yang tak kan habis sampai di akhir waktu
Perjalanan ini…

Terima kasihku, padaMu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis, oleh kata-kata
Hanya diriMu yang tahu
Besar rasa cintaku padaMu

Oh Tuhan, anugerahMu
Tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku
Tuhan Semesta Alam

Dan satu janjiku…
Tak kan berpaling dariMu…

Terima kasihku ya Allah…
AnugerahMu… AnugerahMu…

Ku kan sisihkan semua aral melintang dihadapanku
Dan buat terang seluruh jalan hidupku melangkah…

A song by Rossa “Tak Kan Berpaling DariMu”, which inspired my life :”)

Sekolah Untuk Apa?

Sekolah untuk apa?

Kadang saya berpikir, siswa2 sekolah, datang pagi & pulang bahkan siang atau sore, nggak dapat ilmu di sekolah, hanya sekedar hadir. Guru menjelaskan ini itu di depan kelas, tapi penanaman ilmu & sikap tadi hanya sepintas lalu bagi mereka. Lantas, beberapa bulan kemudian ujian. Itupun saat ujian kepercayaan diri kurang. Akhirnya bertanya kpd teman saat ujian & melihat buku yang diselipkan di bawah meja.

Kemudian rapor dibagikan, nilai standar dan naik kelas. Ini belum ditambah pengaruh lingkungan yg tidak baik, kurangnya bimbingan psikologis dari orangtua, & lemahnya sistem kedisiplinan di sekolah. Lalu yg didapat dari sekolah apa? Menghabiskan uang orangtua?

Sungguh, saya rindu dengan manusia pembelajar di Indonesia ini. Bukan yang hanya pergi ke sekolah dan pulang tanpa hasil, tapi ‘pembelajaran’ yg bagaimana yg kamu pelajari hari ini?

Merefleksikan 25 Tahun

*Sebuah refleksi quarter of life syndrome

“Bel, ikut PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) lagi gak tahun ini?” ujar seorang teman kepada saya beberapa waktu lalu.
Saya jawab, “Hmm, masih bingung. Banyak yang dipertimbangkan.”

Beberapa minggu setelah itu, kembali bertanya lagi, dengan orang yang berbeda. Dan saya jawab lebih panjang, lebih rinci, layaknya orang yang mau wawancara beasiswa, ada alasan yang panjang sekali disana.
“Kayaknyo idak lah, banyak nian yang dipertimbangkan. Orangtua minta aku untuk mikirin masa depan. You know lah the term of ‘masa depan’. Beda halnya dengan tahun-tahun kemarin, aku kalo ikut kegiatan-kegiatan dapat izin mudah, leluasa, nah sekarang keknyo diminta mengabdikan diri dulu ke orangtua, karena aku kayaknya banyak kemano-mano dulu tu. Yo mudah-mudahan be nanti aku biso dapat kesempatan lain ke luar negeri, meski bukan dari jalur itu. Dan semoga saja dapat izin belajar bareng dengan pendamping aku suatu hari nanti, entah di luar negeri atau mungkin tetap di Indonesia.”


Masa-masa jadi mahasiswa adalah masa-masa dimana saya banyak belajar dari orang-orang keren di Jambi dan Indonesia pada umumnya. Saat itu dimana jiwa muda pengen banget ini itu. Pengen melakukan ini, pengen buat ini, pengen kesini, dan pengen-pengen lainnya. Menjadi mahasiswa membuat saya juga mengembangkan kapasitas diri.

Saat jadi mahasiswa banyak sekali yang saya lakukan. Alhamdulillah, nggak hanya kuliah pulang – kuliah pulang saja. Mulai dari kegiatan organisasi, bekerja part time, diskusi dan sharing, forum kepemudaan, traveling, pelatihan, kepanitiaan kegiatan, dan lomba. Tema-tema yang saya ikuti tidak lepas dari passion dan ketertarikan saya terhadap pendidikan, lingkungan, jurnalistik, kepemudaan, kepemimpinan, kerelawanan sosial, serta wisata dan budaya.

Saya ingat betul pertama kali saya merasa, “I want to change my life.” Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan sebelumnya saat masih jadi siswa. Saya memutuskan untuk belajar menulis melalui organisasi yang saya pilih, Majalah Kampus Trotoar. Bergabung disana membuat saya yang awalnya minder dan tidak memiliki kepercayaan diri menjadi lebih percaya diri dan tidak minderan. Turning back saya bisa dibilang berawal dari sana. Karena sejak dari Trotoar, saya bisa mengembangkan kapasitas diri saya yang justru timbul setelahnya.

Well, turning back saya itulah yang saya manfaatkan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri saya. Pada akhirnya saya benar-benar merasa “enjoying my life as university student”. Kesempatan terbuka bagi saya, pengalaman terbaik dari orang-orang terbaik. Dari mereka saya belajar untuk nggak hanya ‘study’, tapi lebih kepada ‘learn.’ Beruntungnya saya diberikan keinginan untuk tidak berpuas diri terhadap ilmu yang didapatkan, maka saya pun banyak bertanya, banyak belajar, banyak melihat, banyak mendengarkan, dan banyak berdiskusi.

Saya menyadari bahwa kehidupan lebih baik ini tidak serta merta datang tanpa restu dari Allah Swt dan dukungan orangtua saya. Mungkin ihwal pertama saya keluar dari Jambi tanpa didampingi oleh orangtua juga jadi turning back-nya saya. Waktu itu saya harus ke Lampung untuk mengikuti Simposium Generasi Mahasiswa Pers Nasional, mewakili Majalah Kampus Trotoar dari Universitas Jambi. Padahal saya di mata orangtua saat itu adalah anak perempuan yang kalau pergi kemana-mana agak rawan karena suka pusing-pusing, hehe.. Di sisi lain, orangtua takut anaknya ini belum mandiri dan hilang di rantauan orang. Namun berkat usaha saya ‘merayu’ orangtua, akhirnya diperbolehkanlah saya keluar Jambi. Disini tampaknya kepercayaan orangtua mulai timbul untuk saya.

Dalam kurun waktu 2008 – 2012 hampir 50 kegiatan skala kota, provinsi, dan nasional yang saya ikuti. Dalam kurun waktu itu pula, saya selalu merasa seperti gelas kosong yang airnya belum penuh. Pengen diisi terus, terus, dan terus. Bukan berarti saya sombong, tapi sekali lagi saya bilang masa mahasiswa adalah masa dimana kamu dapat leluasa mengembangkan kapasitas diri yang berguna bagi masa depan.

Hanya saja kegiatan-kegiatan yang saya ikuti tersebut belum ada skala internasional. Maka, sejak itu pulalah saya selalu mengusahakan untuk pergi ke luar negeri, belum pasti tujuan negara mana, yang jelas daftar saja dulu, begitu prinsip saya. Jika dihitung, sepertinya sudah lebih dari 10x saya mendaftar kegiatan internasional. Saya mengirimkan aplikasi dan saya mengikuti seleksi secara face to face. Hasilnya? Belum berhasil :D Namun saya tidak menyerah.

Kalo kata Walt Disney, “If you can dream it, you can do it.”
Saya percaya bahwa kekuatan cita-cita dapat mengakumulasikan cita-cita itu sendiri menjadi nyata. Meski memang pada akhirnya saya belum diizinkan oleh Allah Swt sampai sekarang ke luar negeri, tapi saya percaya tidak ada mimpi yang kadaluarsa. Akhirnya di tengah-tengah kegalauan nggak bisa ke luar negeri, saya malah diberikan izin oleh Allah Swt untuk menikmati alam Indonesia dengan berbaur di masyarakatnya satu tahun lalu di Pulau Rote, pulau paling selatan yang kalau dilihat di peta Indonesia, cuma titik doang.
Satu tahun disana membuat kehidupan saya lebih banyak berubah. Belajar dari orang Indonesia membuat saya sedikit hampir melupakan impian saya tadi. Bagi saya, mungkin ini rencanaNya yang pengen saya tetap saja di Indonesia, jangan dulu ke negara luar kalau negara sendiri saja tidak tahu 100%. Mungkin ini juga teguran bagi saya, bahkan bisa jadi ini pembelajaran bagi saya. Jadi kalau mau ke luar negeri ya nggak shock culture banget jauh dari orangtua dan berada di kalangan minoritas.

Hampir satu tahun kembali ke Jambi, dan selama itu pula saya menyadari rencana kita apalah daya dibanding rencana Allah Swt. Saat masih di Rote, saya bilang dengan teman-teman sepenempatan bahwa saya ingin mencoba lagi PPAN dan mungkin mengambil beasiswa S2. Nyatanya sekembalinya ke Jambi, rencana saya sedikit berubah dari sudut pandangan orangtua yang menginginkan anaknya untuk tetap di Jambi. Saya menyadari bahwa kerinduan orangtua terhadap saya begitu besar. Bahwa nanti jika satu atau dua tahun lagi saya menikah dan lantas jauh dari orangtua, penjagaan mereka untuk saya tidak akan sebesar sekarang. Saya juga mengerti bahwa kalau saya lulus PPAN atau S2 ke luar Jambi, it means that akan dalam waktu yang lama, lebih dari 6 bulan bisa jadi. Nah, garis besarnya adalah kapan saya bisa dekat dengan orangtua kalau tidak sekarang?

Namun di sisi lain saya menyadari konsekuensi umur quarter of life ini. Banyak sekali harapan yang belum terwujud dengan umur yang semakin matang dan kerap ditanyai ‘kapan menikah?’ dan saya sendiri belum tahu jawabannya, dan saya jawab ‘masih direncanakan oleh Allah Swt.’ Hehe. Maka jika datang pikiran seperti ini, saya hanya berharap agar impian yang masih memuncak di kepala ini dapat terwujud suatu hari nanti. Harapannya pendamping hidup saya di masa depan nanti tidak melarang saya mengikuti kegiatan yang bermanfaat dan melaksanakan mimpi-mimpi saya. Bahkan mungkin bisa bersama-sama mewujudkannya justru lebih bagus bukan?
Tulisan ini juga berawal dari kegelisahan saya akan dosa-dosa saya di masa lalu, disamping juga hasil refleksi saya di umur 25 tahun pada 2 Mei lalu. Mungkin tidak banyak yang dapat diambil pelajarannya dari tulisan ini, namun saya sendiri sudah agak lega menuliskan keriwetan pikiran saya akhir-akhir ini. Allah Swt menjadi tempat saya memanjatkan doa dan harapan, terima kasih atas 25 tahun yang bermakna, semoga ia membuat saya yang banyak dosa ini jadi lebih baik. Semoga selalu ada kebaikan yang dilimpahkanNya kepada saya.

How Disappointed I Am

Entahlah, kadang saya merasa gagal ketika tidak bisa mengubah sesuatu hal, yang sudah saya lakukan berbulan-bulan.

Kadang saya berpikir apa memang orangnya yang nggak mau berubah, jadi meski sudah banyak dikasih tahu ya tetap begitu, nggak mau berubah.

Kadang saya sempat bertanya, apa orangtua di rumah tidak pernah mengajarkan budi pekerti? Apa tidak pernah diajarkan sopan santun, tata krama, empati, simpati?

Kadang saya bisa saja cuek, masa bodoh terhadap hidup anda. Terserah mau maju atau nggak. Mau lebih baik atau nggak.

Ah Tuhan, jangan buat saya menyerah. Berikan kesabaran yang lebih. :”’)

Tidak Ada Mimpi yang Kadaluarsa

“Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah kau dapat, ya sudahlah..”

Lirik lagu Ya Sudahlah-nya Bondan F2B ini sempat tergiang-ngiang di telinga saya beberapa terakhir ini. Sedikit banyak memang mempengaruhi cara pandang saya terhadap sebuah mimpi. Yang membuat saya memutuskan sesuatu di dalam hidup saya.

“Restu orang tua adalah kepanjangan tangan dari restu Allah Swt.”

Kalau kalimat itu benar adanya. Saya yakin jika Alla Swt merestui saya, maka orangtua akan melapangkan hatinya bagi saya mewujudkan cita-cita yang belum terwujud. Namun apa jadinya kalau saat ini orangtua tidak sebegitu  memperbolehkan saya saat masih jadi mahasiswa dulu? Apa jadinya kalau cita-cita kita tercapai tapi Allah Swt tidak merestui? Kalau orangtua tidak mengizinkan? Dulu ketika jadi mahasiswa, orangtua selalu mengizinkan anak perempuannya ini melakukan hal-hal positif yang berhubungan dengan impian. Kini, mereka mencoba untuk membukakan mata hati saya untuk memikirkan ‘masa depan’. Well, I know that so well. Di sisi lain, ketika saya sudah istiqomah, ada beberapa prinsip yang mungkin tidak bisa saya lakukan ketika lolos. Ah entah memang saya yang sudah tidak menggebu-gebu, ditambah pula prinsip dalam diri dan restu orangtua, jadi saya agak ragu untuk melanjutkan. Atau mungkin Allah Swt tidak merestui saya melalui jalan itu?

“Tidak ada mimpi yang kadaluarsa.”

Suatu hari, entah kapan, dimana, pada kondisi yang bagaimana, saya yakin Allah Swt akan mengabulkannya. Entah bagaimana caraya, saya yakin Allah Swt tidak tidur. Ia mencatat dan mendengar harapan saya yang entah kapan terwujud. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak lewat jalur itu. Mungkin nanti. Dan saya percaya, impian itu tidak ada yang kadaluarsa. Semoga. :’)

Terima Kasih dan Selamat Melanjutkan Perjuangan!

Bersama Pak Jokowi pada Februari 2012, dalam kegiatan Indonesia Young Changemaker Summit di Bandung

Bersama Pak Jokowi pada Februari 2012, dalam kegiatan Indonesia Young Changemaker Summit di Bandung

Ini hari bermakna bagi rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Presiden ke-7 telah dilantik. Wakil presiden ke-7 menjadi pendamping sang presiden. Mereka adalah Jokowi Dodo dan Jusuf Kalla. Hari ini juga bersejarah. Rakyat berterima kasih atas perjuangan presiden dan wakil presiden ke-6. Susilo Bambang Yudoyono dan Boediono telah memimpin negara ini selama 10 tahun. Hari ini transisi kepemimpinan dirayakan dengan sukacita. Pertanda bahwa kepemimpinan baru ini dinantikan oleh rakyat Indonesia.

Saya bukan simpatisan Pak Jokowi sebelumnya. Bahkan saya tidak memilih dalam pemilihan langsung pada 9 Juli lalu. Saya mungkin cukup menyesal karena tidak menggunakan hak pilih saya. Saat itu saya sedang berada di Bogor, liburan sejenak setelah selesai penutupan kegiatan Alumni Pengajar Muda angkatan 6 di bawah naungan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa menggunakan A5 karena saya bukan warga Bogor. Di satu sisi saya tidak dapat menggunakan KTP di lingkungan rumah oom dan tante saya. Alhasil perhelatan akbar beberapa bulan lalu membuat saya menggelintirkan sebuah doa, agar siapapun yang terpilih, Indonesia tetap damai.

Ya, damai. Satu kata itu seringkali menjadi rusak karena oknum-oknum yang mengakibatkan negeri ini berpecah belah. Saya beragama Islam, dan dalam agama saya, Islam itu cinta perdamaian. Namun kadang di negeri yang mayoritas muslim ini, perdamaian kadang menjadi momok yang membuat saya menghela nafas panjang. Berdamailah terhadap masa lalu, berdamailah terhadap keputusan yang ada, berdamailah berdamailah.

Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla menggaungkan Revolusi Mental di awal masa kampanyenya, sedangkan Pak Prabowo dan Pak Hatta melejitkan Keutuhan NKRI. Dua hal ini kiranya dapat dikolaborasikan agar Indonesia semakin sejahtera kedepannya. Kadang saya mikir, kok ya revolusi mental ini berat sekali terdengar. Bagi saya, berjuta masyarakat Indonesia dari kota hingga pelosok, mendengar kata revolusi mental ini berhubungan dengan nilai hidup dan karakter yang berhubungan pada interaksi sosial. Tidak semua masyarakat mengerti bahwa di jaman sekarang ini revolusi mental DIBUTUHKAN. Semoga saja saya salah ya.

Menarik saat saya mendengar salah satu pengalaman dosen yang mengajar privat bahasa Inggris di salah satu dinas di Jambi. Ia menceritakan bahwa pelaku di institusi tersebut tidak memiliki nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh lembaga tersebut. Dikatakan dosen saya, pembayaran uang yang tertulis di dalam kertas tidak sesuai dengan apa yang ia terima. Kalian tahu kawan? Manipulatif. Pelaku institusi itu meminta dosen saya untuk menandatangani kertas yang nominal pembayarannya bahkan tidak lebih dari 50% untuk dosen saya itu. Alhamdulillah, dosen saya memiliki nilai-nilai luhur yang ia junjung dalam profesionalitasnya sebagai pendidik. Ia tidak menandatangani itu, dan memilih untuk berhenti mengajar.

Saya tidak tahu, apakah kejadian di atas sering dilihat, dialami, atau didengar teman-teman. Saya tidak tahu sudah berapa banyak kejadian itu berlangsung. Saya tidak tahu apakah masih ada orang-orang suci yang memiliki mental tangguh untuk tidak menjadi bagian dari kemudharatan itu. Saya tidak tahu apakah revolusi mental Pak Jokowi dapat berlangsung hingga ke akar-akarnya? Hingga ke rakyatnya? Rakyat yang bahkan di daerah terpencil pun masih kekurangan konsumsi pangan untuk mengisi perutnya, di saat revolusi mental digaungkan?

Sungguh ini sebuah kekhawatiran pribadi saya. Mungkin saya terlalu mencintai negeri ini. Mungkin saya dianggap terlalu berlebihan. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, saya yang khawatir ini adalah rakyat biasa yang peduli dengan negaranya. Saya hormat sekali dengan Pak SBY yang telah memimpin negara ini selama 10 tahun. Saya pun kagum kepada Pak Jokowi yang mampu menarik hati masyarakat Indonesia hingga memilihnya sebagai presiden, bahkan hanya selisih sedikit persen suara dari Pak Prabowo. Kepedulian inilah yang ingin saya bangun. Mungkin ini jawaban dari revolusi mental yang Pak Jokowi agungkan. SEHARUSNYA SETIAP MASYARAKAT INDONESIA MEREVOLUSI MENTAL DAN NILAI HIDUPNYA.

Saya percaya Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla mampu menerapkan revolusi mental hingga ke grass root. Adalah penting bahwa kita lah yang mengawali perubahan dalam diri sendiri. Baru setelah itu perubahan menjadi berarti bagi pemimpin. Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla tidak bisa bekerja sendiri. Kita patut membantu, mengoreksi, dan turut berkontribusi bagi kepemimpinan baru. Let’s light the candles, stop cursing the darkness, begitulah yang biasanya Pak Anies Baswedan tekankan kepada alumni pengajar muda. Bahwasanya begitu banyak masalah yang ada di negeri ini, namun itu tidak akan selesai kalau kita hanya mencemooh dan menghujat.

Justru yang dibutuhkan kepemimpinan baru ini adalah nyalakan lebih banyak lilin untuk bersama-sama bekerja di setiap sektor. Tanamkan nilai-nilai luhur kehidupan, prinsip hidup, atau mental yang tangguh dan tak ikut arus kepada generasi bangsa. Indonesia milik kita bersama. Hancurnya Indonesia ya gara-gara kita, sejahteranya Indonesia juga karena kita. Jangan kira hanya pejabat yang punya andil untuk membuat perubahan. Kita, rakyat jelata pun mampu mewujudkan itu bersama-sama. Tak adil rasanya pejuang yang telah wafat di medan perang itu hanya mengamanahkan negeri ini kepada pemerintahnya saja bukan?

Seingat saya, tidak pernah saya menuliskan sebuah tulisan khusus kepada presiden terpilih dalam 24 tahun saya hidup di dunia. Namun malam ini hati saya tergelitik untuk menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Bahkan tidak pernah terbayang dalam benak saya, bahwa Mei 2012 lalu saya menjadi bagian dari kompilasi buku Kumpulan Karya Pemenang Event “ Menulis Surat Untuk Dahlan Iskan dan Jokowi.” Entahlah, sejak saya mengenal Pak Jokowi di tahun 2011 hingga saya bertemu beliau pada acara Parlemen Muda Indonesia dan Indonesia Young Changemaker Summit 2012 lalu, ada keyakinan dalam diri bahwa Pak Jokowi suatu saat bakal memimpin negeri ini. Kenyataan itu memang terjadi.

Saya bersyukur pernah menulis sedikit pandangan tentang Pak Jokowi dalam buku terbitan LeutikaPrio Yogyakarta itu. Sang Walikota Kaki Lima sebagai cover buku tersebut menjadi kehormatan bagi saya menuliskan rekam jejak beliau yang saya ketahui. Saya berharap beliau mampu mengemban amanah ini, pemimpin yang menjadi suri tauladan bagi agama, keluarga, dan negara. Amin.