Inilah Kehidupan

Inilah kehidupan

Dimana lika liku perjalanan

Naik turun pencapaian

Terpampang jelas di depan

 

Inilah kehidupan

Dimana kau akan melihat

Sandiwara dan tipu muslihat

Menjadi hal lumrah sebagai santapan

 

Inilah kehidupan

Dimana kau akan merasa

Yang baik bisa jadi lebih baik, yang buruk bahkan lebih buruk

Yang buruk seolah-olah baik, yang baik ternyata buruk

 

Inilah kehidupan

Ketika kau menginginkan satu hal

Maka ada sesuatu lagi yang datang menghampiri

Ketika kau ingin menepikan satu hal

Maka berkali-kali ia tak mau pergi

 

Inilah kehidupan

Bagai sajak yang tak habis dicerna

Sesulit ia berjalan, ia harus terus berjalan

Entah apa yang akan ia alami pada tahun mendatang

Yang ia tahu, ia akan selalu berjalan

Mencari sebaik-baiknya kehidupan dengan orang terbaik

Menjadi 26

Tulisan ini adalah hasil refleksi saya selama 26 tahun hidup di bumi, 2 Mei 2016 lalu…

 

Salah satu mentor saat saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemudaan di Jakarta, seorang wanita tangguh yang menginvestasikan dirinya untuk pengembangan kapasitas diri anak muda, Bunda Tatty Elmir, mengirimkan ucapan rasa syukurnya bagi saya yang telah berumur 26 tahun pada 2 Mei lalu di dinding Facebook:

 

                “HBD Bella, sehat ceria, penuh karya dan berbagi yang tak pernah alpa. Selamat merayakan tanggal juang Ibu hebat melahirkan anak yang tak kalah hebat. Titip peluk buat beliau. :))”

 

Ya, saya punya ibu hebat. Ibu yang tidak seperti ibu kebanyakan. Ibu saya adalah pribadi yang sederhana. Dimana saya dan adik-adik diajarkan untuk hidup hemat. Yang ikan sepotong bisa dibagi rata. Yang dari kehematannya itu, kami bisa menikmati kehidupan yang lebih baik saat ini. Ibu saya juga tidak haus akan kehidupan dunia. Saat ibu-ibu lain memiliki smartphone canggih atau berbelanja di mall, ibu saya; yang justru sebenarnya punya pundi-pundi untuk memiliki itu semua, malah tidak tertarik untuk berbelanja yang tidak penting.

 

Ibu saya juga orang yang terlalu memikirkan kehidupan anak dan saudaranya, di saat beliau sendiri bahkan kurang memperhatikan kesehatannya sendiri. Bahkan kadang menurut saya, ibu terlalu sensitif untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia bahkan bisa sedih seharian gara-gara adik nomor dua yang tidak membalas SMS atau menjawab telponnya. Ibu saya orang yang terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, beliau ingin membahagiakan keluarganya. :’))

 

Jadi, wajar saja saya yang selalu banyak salah ini, kadang sedih harus melihat mama; begitu saya dan adik-adik memanggilnya, saat beliau tidak enak hati. Ya, siapa sih yang bahagia melihat ibunya sedih? Akhir-akhir ini mama bahkan banyak member wejangan kepada saya untuk kehidupan masa depan. Well, you know what I mean about “future life” lah ya. Namun, kadang mama tidak menyadari bahwa anaknya juga berjuang dan tidak lelah berdoa, meski Allah SWT masih belum member kepastian. Disini kadang saya sedih belum memenuhi harapan mama yang spesial itu. Jujur, menjadi beban rasanya kalau keinginan orang yang kita sayangi belum terpenuhi. Namun apalah daya segala ketetapan Allah SWT belum memberikan tanda-tanda yang pasti.

 

Selain mama yang hebat, saya juga punya papa yang hebat. Papa yang pekerja keras, sekeras hati dan pikirannya seperti saya. Kerja kerasnya untuk membuat keluarga yang lebih baik menampakkan hasilnya. Tentu saja saya dan adik-adik termotivasi untuk melakukan hal serupa. Tidak ada kata ‘malas’ dalam kehidupan yang harus diperjuangkan. Jadi, kalau teman-teman melihat sifat keras saya (entah dalam bidang apapun, keras kepala, pekerja keras, atau suara keras, hehe…), itu justru menurun dari papa.

 

Papa juga pemimpin yang tegas. Ia sepertinya terlatih untuk tegas dan disiplin dalam bertindak. Ditambah lagi papa berkali-kali dipercaya memimpin institusi. Meski kadang papa juga pernah mengeluh, tapi ketegasan papa tidak pernah luntur. Kata mama, sifat tegas dank eras sepertinya sudah bawaan suku Komering Palembang, hehe… Pernah saya melihat papa berbicara dengan tegas kepada partner kerjanya. Bagi papa, tegas dalam memimpin itu harus, apalagi memimpin keluarga. Jangan lembek dan tidak punya pendirian. Untuk hal ini, saya setuju dengan ketegasan papa.

 

Last but not least, mama yang hebat dan papa yang hebat belum membentuk anak yang hebat. Saya merasa saya masih banyak kurang membahagiakan mereka. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa tidak begini, tidak begitu,seperti dulu yang mungkin mereka lihat saya aktif, saya bisa katakan ini kepada mereka:

 

“Sepertinya 26 tahun hidup ini, saya terlalu banyak menyusahkan orangtua. Selama 26 tahun ini terlalu banyak saya berada di luar pengawasan mama dan papa. Maksudnya saya sering pergi ke luar Jambi dan meninggalkan orang tua. S2? Di usia saat ini untuk mengambil S2, saya mengkhawatirkan usia. Harapannya nanti bisa belajar, entah itu untuk S2 atau short course, saat saya sudah menikah (doakan ya!). Semoga pendamping hidup saya nanti juga mengizinkan saya untuk terus belajar, jadi saya tetap bisa meraih impian saya. Oya di sisi lain jika saya mengambil S2, saya inginnya di luar Jambi, nah kalau lolos jadi pilihan sulit bagi saya. Masa harus keluar Jambi lagi? Masa harus meninggalkan orangtua lagi 2 tahun? Masa di rumah hanya mama, papa, dan adik bungsu saja? Jadi jawabannya, saya masih ingin berada di dekat mereka, ingin membahagiakan mereka sebelum saya atau salah satu dari mereka meninggal. Saya ingin berbakti kepada kedua orangtua dengan kemampuan yang saya miliki. Satu doa dari mama, yang juga menjadi capaian untuk membahagiakan mama dan papa, adalah menikah. Bukan ingin diburu-buru, tapi kata mama sudah waktunya, jangan terlalu terlena dengan cita-cita yang tidak akan ada habisnya. Doakan saya bisa membahagiakan mama dan papa, doakan saya agar harapan saya menikah sebelum umur 27 tahun terwujud, doakan saya agar mama dan papa masih sehat saat saya menikah nanti. Doakan saya semoga Allah SWT memberikan keputusan terbaik pada setiap keputusan yang saya ambil. Saya percaya, ridho Allh SWT juga ridho orangtua. Jadi, insyaAllah semua akan terlaksana pada saat yang tepat.” :”)

 

 

Nostalgia Negeri Lontar dari Pengajar Muda VI

 

“Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu.

            Rasanya semua, begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya,

            Janganlah berganti.”

 

Lagu Sahabat Kecil dari Ipang tersebut tampaknya mewakili perasaan saya dan teman-teman, alumni Pengajar Muda angkatan VI Kab. Rote Ndao, yang bertugas dalam kurun waktu 2013 – 2014 lalu. Kehidupan satu tahun itu kami laksanakan dengan ketulusan, yang membuat kami bahkan tidak rela untuk mengakhiri masa tugas. Harapannya kenangan itu tidak mati, namun ia selalu terpatri di dalam hati.

 

Nusa Lote Nusa Malole. Pulau Rote pulau yang baik. Ya, pertama kali menginjakkan kaki di tanah nusa lontar itu kami disambut dengan penuh kejutan oleh Pengajar Muda angkatan IV yang sebelumnya telah bertugas disana. Dihadiahi sirih pinang, satu persatu kami harus memakan dan mengunyahnya hingga lidah berwarna orange kemerahan. Belum cukup dengan kakak-kakak alumni itu, di desa kami juga disambut dengan baik. Jadi, benar adanya jika Rote adalah pulau yang baik bukan?

 

Kami percaya bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia, termasuk kolaborasi antara Pengajar Muda lintas generasi, sekolah, orangtua, siswa, masyarakat, dan pemerintah. Dalam setiap kesempatan, kami bekerja sama dengan banyak orang yang mendukung terciptanya kerumunan positif di Rote. Kami bersyukur atas kolaborasi apik dengan berbagai stakeholder utuk menyelesaikan kegiatan selama satu tahun.

 

Kolaborasi pertama kami laksanakan bersama pegiat Komunitas Anak Muda Untuk Rote Ndao (KAMU Rote Ndao). Mengambil momen peringatan Hari Pahlawan pada tahun 2014, ikhtiar untuk mencerdaskan dan memotivasi remaja Rote Ndao terwujud melalui Kemah Pemuda Rote I. Kak Sherwin, Kak Maks, Kak Adi, Kak Petson, dan kakak-kakak lainnya tampil all out mengajak remaja di daerahnya untuk berpartisipasi. Berita baiknya, Kemah Pemuda Rote I tersebut berlanjut pada sesi yang lebih berwarna pada tahun berikutnya.

 

Pemuda dan remaja yang terlibat dalam Kemah Pemuda Rote (KPR)  merasakan banyak manfaat untuk diri mereka. Alih-alih kebermanfaatan untuk diri, mereka justru mendapatkan tujuan hidup yang dapat berguna dalam memajukan Rote Ndao. Mengapa? Menurut Sherly, ketua angkatan KPR I, ia bertemu dengan remaja SMA yang juga memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan potensi diri, ia juga lebih mengetahui apa yang akan ia lakukan di masa depan. Tidak hanya itu, remaja yang kini menjadi mahasiswi Universitas Cendana tersebut banyak membangun relasi dengan pemuda se-Indonesia saat ia mengikuti Indonesia Youth Partnership di Bogor.

 

Di bidang pengembangan profesi pendidik, Pengajar Muda angkatan VI juga pernah melaksanakan kegiatan Kelompok Kinerja Guru (KKG) dan Pelatihan Guru Sekolah Minggu (PGSM). KKG dilaksanakan di semua sekolah penempatan PM se-kabupaten Rote Ndao. Pelatihan ini mengajak para guru untuk aktif menggunakan media pembelajaran yang telah ada di sekolah maupun menciptakan media pembelajaran kreatif. Selain itu, untuk kegiatan sekolah non formal yaitu Sekolah Minggu, Pengajar Muda bekerjasama dengan Toko Buku Ebenhazer di Ba’a mengadakan PGSM. Pelatihan ini diikuti oleh tenaga pengajar Sekolah Minggu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa.

 

Tidak hanya menyasar kegiatan di bidang kepemudaan dan pendidikan, Pengajar Muda angkatan VI juga sempat mengadakan pelatihan memasak di Rote Barat. Sekitar 50-an ibu-ibu dan juga bapak-bapak ikut serta dalam pembuatan beragam masakan nusantara. Dikarenakan daerah tersebut jarang mendapat aliran listrik, Pengajar Muda pun berinisiatif untuk memberikan pelatihan memasak yang bahan bakunya adalah ikan dan rumput laut. Ikan tersebut diolah menjadi abon, pempek, dan kerupuk, sedangkan rumput laut dibuat menjadi agar-agar. Selain pelatihan untuk orangtua, kami juga mengajak anak-anak dan remaja belajar sambil bermain.

 

Yang membuat kami kagum pada Rote Ndao adalah semangat anak-anaknya untuk berprestasi. Dari awal kami sudah diharuskan untuk tidak berekspektasi tinggi terhadap tanah yang akan kami hidupi selama satu tahun. Namun setelah kami berada disana, justru ekspektasi kami melesat tinggi. Mengapa? Karena salah satu siswa dari Pengajar Muda, Icce Nopianti, berhasil menjadi peserta Konferensi Penulis Cilik Indonesia di Jakarta. Anak perempuan itu adalah Nofi Ndun, siswa SDN Daepapan, Rote Selatan, yang menjadi satu-saunya perwakilan Nusa Tenggara Timur di nasional.

 

Selain siswa SD di tempat Pengajar Muda mengajar, siswa SMA di Rote Ndao juga difasilitasi oleh Pengajar Muda untuk mengikuti seleksi beasiswa kuliah gratis di Universitas Pelita Harapan. Dengan bantuan koneksi dari Pengajar Muda angkatan IV, Kak Kristia, kami pun mencoba membuka motivasi dan harapan remaja SMA tingkat akhir di setiap kecamatan untuk melanjutkan kuliah. Setelah melewati beragam seleksi, belasan siswa SMA se-Rote Ndao meraih impian mereka untuk kuliah di universitas swasta bergengsi tersebut. Keberlanjutan ini pun masih dirasakan setelah dua tahun berlalu. Setiap tahunnya selalu ada siswa Rote Ndao yang menikmati pendidikan gratis itu hingga saat ini.

IMG_0013

Keberlanjutan seperti ini bukan kami rasakan serta merta tanpa ada andil kakak-kakak kami sebelumnya. Justru apa yang terlaksana pada tahun kami merupakan jerih payah Pengajar Muda angkatan II dan IV sebelumnya. Tentu di sisi lain ada kolaborasi baik dari berbagai stakeholder yang mendukung terciptanya kerjasama yang positif dan berdampak. Di akhir penempatan Pengajar Muda angkatan X ini, kami yakin Rote Ndao akan melesat jauh, terbang tinggi dengan kualitas generasi terbaiknya. Kelak kami akan kembali, bernostalgia dengan pelaku pendidikan terbaik Rote Ndao.

 

Belajar Kehidupan dari Akas Usman: Catatan Kenangan dari Cucu Pertamamu

“Kas, payungnyo bagus, beliin payung ini, kas,” rengekku kepada akas saat melewati took di seputaran pasar suatu hari.
Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, akas berkata, “Kita balik dulu, Bella.”


Saya masih mengingat momen itu hingga sekarang, meski dialog percakapannya tidak sama persis. Namun, isi dialognya kira-kira seperti itu. Begitu banyak kenangan masa kecil bersama almarhum akas saya, H. Usman, yang tersimpan di memori jangka panjang saya. Tulisan ini setidaknya mencoba merangkum ingatan yang bisa jadi suatu hari terlupakan. Dan tentu saja, tulisan ini jadi pelipur hati kami, anak dan cucunya yang ditinggalkan, yang masih menghirup oksigen gratis pemberian dari Allah Swt.

Akas Usman yang merupakan ayah dari mama saya, adalah kakek yang banyak berinteraksi dengan saya. Seharusnya saya juga berinteraksi dengan akas dari pihak papa, tapi ayah papa tersebut bahkan saya tidak sempat bertemu sejak saya kecil, karena akas Mahmud sudah meninggal sejak papa masih remaja. Alhasil, saya lebih banyak didampingi oleh akas Usman, yang seminggu lalu telah meninggalkan saya pula ke pangkuan Sang Maha Kuasa.

Akas Usman adalah sosok panutan terbaik. Saya belajar banyak dari almarhum. Ketegasan, kebermanfaatan hidup, kedermawanan, kasih sayang, pola pikir, komunikasi, dan kepemimpinan. Salah satu contoh kebermanfaatan hidup dan kedermawanan yang diceritakan oleh mama adalah beliau sering memberi makan dan minum kepada orang yang sering lewat di depan rumah akas (rumah akas terletak di tepi jalan besar di Kertapati). Ini juga dilakukan almarhum kepada keluarganya, termasuk saya.

Jika teman-teman melihat sebuah lemari kayu tua di rumah almarhum akas di Palembang (beberapa mungkin yang membaca pernah berkunjung ke rumah akas di Palembang), akan terlihat tempelan es krim terkenal disana. Itu tidak lain karena saya suka minta dibelikan es krim😀 Kebetulan saat itu hadiah stiker gratis diberikan saat pembelian es krim. Lantas penuhlah sisi lemari dengan stiker tersebut. Siapa yang membelikan es krim itu? Akas.

Selain es krim, tekwan, es jeruk, dan bakso yang kerap saya sambangi tokonya juga karena kemurah hatian almarhum akas. Bahkan saat pertama kali saya dimasukkan ke lembaga kursus bahasa Inggris di depan rumah akas, itu juga karena andil beliau. Dulu, ketika saya di daerah terpencil Nipah Panjang pada tahun 1990-an, buku-buku berkualitas pun dikirimkan akas dari Palembang (selain dikirimkan oleh bik Inab, adik papa di Bandung saat itu). Kasih sayangnya kepada saya tak terbatas :’)

Beranjak remaja, akas mulai memberi tahu tentang cita-cita dan masa depan. Mama kemarin cerita kalau akas ingin anak-anaknya bisa mengemban pendidikan tinggi meski ekonomi saat itu tidak memungkinkan, kalau bisa hingga ke luar negeri. Akas juga memberikan cakrawala luas terhadap ilmu pengetahuan, mengenal sepakbola Indonesia, daerah-daerahnya yang indah, dan hal lain yang menambah wawasan. Dua poin tersebut menjadi ikhwal perkembangan diri saya saat menjadi mahasiswa, ingin melihat Indonesia lebih luas, ingin menambah wawasan ilmu pengetahuan, dan ingin ke luar negeri.

Semua pencapaian saya saat jadi mahasiswa tak luput untuk diberitahukan kepada akas. Bahagia rasanya jika memberikan kabar baik kepada akas tentang cucunya satu ini. Akas seperti biasa selalu tersenyum dan memberikan petuah kepada saya. Hingga di akhir kalimatnya, akas pernah bilang, “Akas bangga!,” sambil mengepalkan tangan kanannya dan menyilangkannya di dada. Di sisi lain ia juga mewanti-wanti saya untuk tidak sombong dan rendah hati.

Suatu hari, saya pernah menceritakan saya ingin ke Papua Barat, mengabdi disana dalam beberapa tahun lewat sebuah perusahaan migas. Akas tidak langsung mematahkan semangat saya karena ia tahu saya sangat ingin ke daerah timur yang pelosok. Saya tahu saat itu akas sebenarnya tidak mengizinkan saya dan member tahu orangtua saya bahwa ia khawatir jika cucu perempuannya yang pertama ini jauh dari orangtua, di sebuah daerah yang butuh pengawasan lebih oleh penjaga keamanan. Akhirnya saya membatalkan, meski di dalam hati pengen banget kesana.

Pengalaman cita-cita ini pun juga berhubungan dengan harapan akas kepada anak-anaknya untuk melihat negara luar. Ini bisa jadi karena akas dulu pernah berinteraksi dengan orang luar negeri yang bekerja satu tempat dengannya (akas dulu dipercaya menjadi seorang mantri meski beliau bukan lulusan kesehatan, hingga akhirnya meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih menjadi pengusaha bahan bangunan). Saya berulang kali meminta doa akas untuk mengikuti seleksi ke luar negeri, berulang kali pula saya belum diizinkan oleh Allah Swt.

Akhirnya 2015 lalu impian tersebut dikabulkan. Saya menjelaskan ke telinga akas dengan suara agak kencang (pendengaran akas sudah agak berkurang) pada Agustus 2015 bahwa saya akan berangkat ke Amerika Serikat September 2015. Meski responnya tidak aktif seperti dulu lagi, saya bisa merasakan nada haru pada kata “Oh…” yang dilontarkan akas, sambil mengusap mata. Pada akhir hayat almarhum pula, akas masih mengenakan kaos dari Washington, DC, oleh-oleh dari saya (kaos itu dipakai sejak dua minggu yang lalu saat saya mau pulang dari Palembang ke Jambi, dan tidak dilepas hingga ajal menjemput akas).

Namun tak jarang akas juga mengkritik saya. Salah satunya saat saya sering dilihatnya berjalan agak bungkuk. Berulang kali akas mengingatkan saya untuk tidak seperti itu, dan bahkan beliau mencontohkan cara jalan yang tegap. Seketika kalo mengingat akas mempraktekkan cara berjalan itu di hadapan saya, maka saya suka senyum sendiri. Kenapa? Karena posisi tubuh akas yang tegap dan cara penyampaiannya yang lucu akhirnya membuat saya malu sendiri, hehe. Hingga kini saya berusaha untuk tidak jalan bungkuk lho. That’s because of him.

Bagi saya yang masih banyak dosa ini, saya banyak belajar arti hijrah dan penerapan agama Islam dari beliau. Saya selalu ingat bagaimana akas selalu siap mengambil wudhu dan duduk membaca dzikir sebelum adzan Maghrib berkumandang. Akas juga selalu mengajak anak dan cucunya sholat berjamaah. Akas yang juga diiringi oleh ombai Ada, selalu menjadi contoh penerapan agama Islam yang baik. Tidak cukup sholat 5 waktu, sholat tahajud kerap saya saksikan saat saya tidak sadar bangun tengah malam ingin ke toilet. Akas selalu bangun di sepertiga malam untuk mencari lapis-lapis keberkahan dari Allah Swt. Satu hal yang saya sedihkan sejak akas sakit dan terbaring di kamar saja, akas sering lupa sholat. Saya kadang tidak tega saat mama atau keluarga mama lainnya mengingatkan akas untuk sholat, dan akas terlihat sangat menyesal kenapa ia lupa waktu sholat. Semoga Allah Swt memberikan keringanan atas penyakit ini ya.

Soal kepemimpinan dan komunikasi, saya melihat ini dilakukan akas sangat baik. Akas tidak sungkan untuk mengobrol dengan anak-anaknya. Kata mama, akas suka memberi pengarahan tentang kehidupan kepada anak-anaknya. Akas juga tidak pernah mendikte harus seperti ini ataupun itu, yang jelas beliau akan memastikan anak-anaknya terhimpun pembelajaran agama dengan baik. Akas juga tidak membeda-bedakan kelima anaknya, termasuk saya cucu pertamanya. Namun jika terbukti kami salah, akas tidak akan segan-segan menegur.

Oya, akas dulu juga sering mengajak saya bertemu dengan temannya sesama pengusaha di dekat rumah maupun yang jauh. Saya ingat banget lho saat saat akas mengajak saya bertemu temannya itu. Diam-diam sejak kecil saya telah mencuri pembelajaran berharga dari akas, hingga saya memiliki kepribadian seperti sekarang. Diam-diam akan menularkan semangat itu sejak dulu. Negosiasi akas kepada teman-temannya dan bagaimana ia menjalin silaturahmi dengan baik membuat saya juga mengamini itu untuk kehidupan saya.

Subhanallah, umur akas yang kurang lebih 82 tahun ditutup pada pukul 21.30 tujuh hari yang lalu di kamarnya di Palembang. Akas menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang kurang lebih 1,5 tahun terbaring. Akas mengucapkan nama Allah saat sekujur tubuhnya dingin dan berwarna kuning, sesaat setelah mama saya di Jambi, bik Dewi di Cilegon, papa Mulkan di Bogor menelepon akas dan handhone diletakkan di telinga akas, juga bik Ana, Matiar, dan keluarga besar lainnya mendampingi ia menghadapi sakratul maut tepat di sisinya.

Empat belas hari yang lalu saya begitu haru menyenandungkan Lilin-lilin Kecil yang ternyata salah satu lagu lawas yang disukai akas (kata bik Dewi). Tujuh hari yang lalu saya berusaha untuk tidak histeris, karena saya tahu akas pasti akan sangat kesal jika kami meraung histeris karena kepergiannya. Saya saat ini berusaha untuk tidak meneteskan air mata karena begitu banyak kenangan manis yang sulit dihapuskan, meski akas sudah dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Begitu banyak pembelajaran hidup yang saya peroleh dari akas. Saya bahkan bisa bilang, beliau salah satu yang membentuk kepribadian saya hingga menjadi Bella Moulina saat ini. :’)

Teman-teman, mohon doanya untuk akas, mohon dikirimkan Al Fatihah atau Surat Yasin kepada almarhum. Mohon doanya agar akas ditempatkan di tempat terbaik di surge Allah Swt bersama para syuhada, semoga akas diberi tempat peristirahatan terakhir yang terang, luas, dan indah. Semoga pula amal ibadah akas selama di dunia menjadi timbangan berat untuk akas menuju surganya, juga mungkin kekhilafan akas dihapuskan olehNya. Amin.

20160123_200628

Ayo tebak, umur berapakah saya saat duduk di pangkuan akas ini?:)

We do love you, akas. InsyaAllah kita akan bertemu di surge jannah Allah Swt ya, akas Usman. :’)

Irama Musik Pagi Hari

IMG-20150913-WA0032

Mendengar alunan musik Sungai Detroit di Detroit, Michigan, USA, sembari menatap Kanada di depan saya.

Dua hari ini saya libur (yaayy!). Dua hari ini pula saya punya banyak waktu istirahat di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Dua hari ini rasanya begitu damai, tidak melakukan aktivitas sehari-hari di tempat kerja dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Dua hari ini pula energi saya kembali, setelah runtutan kehidupan yang dipastikan selalu sama untuk dilewati.

Pagi ini saya terbangun. Mendengar kicauan burung bersuara merdu. Saya langsung meraih laptop ini untuk menulis, sembari mendengar lagu Tak Perlu Kelilling Dunia. Saya meraih es teh sis tadi malam. Masih segar untuk menyambut hari libur kedua ini. Ngomong-ngomong soal irama musik pagi hari, saya jadi terkenang akan suara-suara merdu nan menarik yang saya dengar di beberapa tempat.

Pertama dan yang utama adalah di rumah saya di Jambi. Kicauan burung di sekitar rumah yang sudah sedikit pohonnya tentu menjadi pendengaran langka. Tapi berkali-kali saya mendengarnya, meski tidak terlalu lama ia berkicau. Ketika mendengar kicauan ini, saya terdiam dan memejamkan mata. Akankah hari esok saya masih diberi kesempatan untuk mendengarnya?

Irama musik pagi hari kedua saya dengar saat di Rote dulu. Kali ini irama musiknya lebih komplit. Tak hanya bunyi burung saja, namun juga hewan-hewan lainnya. Ditambah lagi kadang pada pagi hari lagu-lagu beat pop dan lagu daerah Timur turut hadir berdendang. Semuanya bersahut-sahutan, memanggil kami yang masih terlelap dalam buaian. Kadang ibu angkat saya, Ibu Femi, sempat merisaukan musik yang diputar teramat kencang, saya juga ikut-ikutan mengeluh, namun akhirnya malah jadi bernyanyi bersama haha.. Oya irama musik di Rote juga terdengar indah jika kita berdiri di tepi pantai. Debur ombak di laut memecah kesunyian, membuat saya rindu akan hal itu.

Lain halnya di rumah keluarga mama dan papa di Palembang. Suara musik yang berasal dari lalu lalangnya kendaraan mendominasi, khususnya jika di rumah keluarga mama di Kertapati (karena rumah akas dan ombai terletak di pinggir jalan). Dulu kata orangtua saya, anaknya ini hobi banget bikin orang jantungan, mendadak sudah berdiri di tepi jalan yang tepat berada di depan rumah akas😀

Selain di kota, rumah keluarga papa berada di dusun kecil, dusun yang kata orang Komering “Alangkah kerasnyo nian wong yang tinggal disano.” Campang Tiga menjadi daerah dengan irama musik kedua di Palembang. Saya masih ingat dulu ketika bermain di sungai depan rumah almarhumah ombai, sorak sorai hewan dan aliran sungai berbaur menjadi satu. Bersama sepupu kami bisa berjam-jam disana.

Well, diantara sekian provinsi dan kota yang saya jelajahi saat menjadi mahasiswa, irama musik pagi hari di Dieng adalah favorit saya. Tidak hanya mendengar kicauan burung dan hewan lain, tapi juga hembusan nafas yang terlihat seperti asap menjadi irama unik. Bahkan beberapa kali menghembuskan nafas hanya untuk mendengar dinginnya udara yang terlontar membentuk asap. Ditambah lagi awan-awan cantik Dieng yang membuat kita pengen kembali lagi kesana (ya, saya pengen banget kesana lagi!). Tiba-tiba duo sunrise pun muncul, golden dan silver. Makin mempesona!

Terakhir, irama musik yang tak akan saya lupakan pula, ketika saya berada di Detroit, Michigan, USA, September lalu. Pagi itu, saya keluar hotel bersama peserta IVLP. Tak dinyana, udara pagi yang demikian segar itu mengharuskan saya memakai sarung tangan dan jaket. Yup, udara dingin melanda! Namun saya memaksakan tubuh untuk menikmati udara pagi hari. Saya berjalan menuju Detroit River di belakang kantor General Motors, menyusuri sungai dan menatap Kanada dari negeri seberang ini. Disini saya mendengar irama musik pagi hari yang berbeda dengan negara saya, riuhnya suara para bule, deburan air sungai yang jernih, dan tertibnya lalu lintas.

Layaknya manusia, ia justru butuh untuk berkicau. Dan itu, alangkah lebih tepatnya jika ia berkicau hanya kepada Sang Maha Besar, Allah Azza Wajalla. Saya menganalogikan kicauan ini sama seperti musik pagi hari yang saya dengar di beberapa tempat di atas. Kicauan manusia itu seperti musik. Iramanya kadang rendah, dan tak jarang tinggi. Saya memang jarang menikmati pagi hari yang tidak tergesa-gesa, tapi saya tentu tak akan melewatkan momen kicauan saya bersama Allah Swt setiap harinya. Ayo jangan kalah dengan irama musik pagi hari ini ya!

Cerita Dibalik Perjalanan ke Amerika #1

New Journey Will Come
Saya mengemasi barang-barang di koper dan tas ransel. Saya memastikan tak ada satupun barang yang tertinggal. Pakaian, makanan, peralatan mandi dan berhias, peralatan sholat, oleh-oleh, dan makanan, semuanya ‘dipaksakan’ masuk ke dalam koper yang kupinjam dari papa. Sambil melirik pemintai waktu di arloji yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, saya merasakan waktu berjalan lambat. Tak sabar ingin memulai perjalanan baru dalam hidup saya, sesuatu yang telah lama ditunggu.

 

Dikepung Asap
Pagi itu saya merasakan semangat yang mengalir dalam nadi melesat hingga 100%. Bangun pagi tak pernah semenarik ini, pikir saya. Semangat pagi yang saya rasakan dipompa oleh impian yang perlahan-lahan semakin mendekat. Pagi itu saya menyiapkan diri untuk memulai petualangan baru. Saya mengecek kembali perlengkapan yang akan dibawa. Tak lupa pula mengingatkan orangtua untuk mengantarkan saya ke bandara pukul 09.30 WIB.
Pesawat ternama di Indonesia itu akan mengantarkan saya ke provinsi dengan magis yang kuat. hedonisme Jakarta menanti saya pada hari itu juga. Jadwal penerbangan dengan maskapai yang tergabung dalam Sky Team itu diprediksikan akan berangkat dari Jambi pukul 11.00. Itu artinya saya sudah harus berada di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Tiket itu saya simpan di bagian belakang ransel, karena akan sangat mudah diambil ketika dibutuhkan.
Saya mengedarkan pandangan ke luar jendela kamar dan teras samping rumah, yang keduanya terletak pada lantai dua. Hati ini risau. Hati ini bimbang. Mungkinkah Allah Swt menundanya lagi kali ini? Mungkinkah Allah Swt sebenarnya tidak merestui saya ke negara super power itu? Mungkinkah kali ini saya harus merelakan lagi? Akankah saya harus mengubur impian itu kembali? Seribu prasangka berkecamuk dalam pikiran saya. Seiring itu pula, status update dari beberapa teman di BBM seolah-olah melumpuhkan harapan, “Asap tebal di Jambi membuat banyak penerbangan dibatalkan.”

 

Keputusan Dalam Situasi Tersulit
Dari 10 skala kepemimpinan yang saya ketahui saat menjadi bagian dari Pengajar Muda, salah satunya ialah decision making yang membuat saya harus belajar lebih banyak. Belajar mengaplikasikan pengambilan keputusan. Ya, siapapun pasti tak ingin di-php-in, terluntang-lantung di bandara tanpa kepastian. Berharap pesawat akan mendarat pukul 11.00, dan membawa saya beserta penumpang lainnya ke Soekarno-Hatta. Namun harapan itu sirna seketika setelah 4 jam menunggu, sebuah pengumuman diberitakan, “Garuda membatalkan penerbangan siang dan sore.”
Dengan handphone di tangan, secepat kilat saya menghubungi beberapa teman-teman di kontak BBM, yang saya pikir tahu jadwal keberangkatan mobil travel ke Palembang. Ya, saya memutuskan ke Palembang! Awalnya saya masih berharap Garuda Indonesia akan mendarat pada sore hari di Jambi, namun dikarenakan pengumuman itu, saya semakin tidak yakin pesawat sekelas Garuda akan mendarat di Jambi pada malam hari. BBM saya banyak dibalas teman-teman, namun kebanyakan menginformasikan mobil travel yang penumpangnya telah penuh ketika papa menghubugi terlebih dahulu.
Saya duduk di kursi tunggu penumpang sambil tetap fokus pada keajaiban orang-orang yang mungkin menginformasikan saya mobil travel yang masih bisa dipesan untuk berangkat pukul 19.00. Tiba-tiba saya melihat BBM seorang teman, Windy, yang menginformasikan travel di dekat Simpang Kawat berikut dengan kontaknya. Secepat mungkin saya menghubungi nomor tersebut, dan betapa bahagianya saya saat orang di seberang telepon mengatakan bahwa kursi masih ada!
Situasi sulit itu hampir saja membuat saya melelehkan air mata. Meski mata sudah berkaca-kaca dan menatap ke langit-langit bandara, pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam. Kerasnya perjuangan meraih mimpi mengeraskan tekad saya untuk tetap berdiri meski diterpa badai. Saya melayang pada perjuangan itu.
Saya bahkan sempat berpikir, kenapa Allah Swt memberikan cobaan sesulit ini untuk keluar dari Jambi? Kenapa asap harus datang pada awal September di saat saya mau berangkat? Kenapa saya harus capek-capek berangkat ke Palembang naik travel selama 6 jam untuk menjangkau Jakarta? Badan ini sudah letih, ya Allah.. Pikiran saya sudah capek sekali. Hingga akhirnya seorang penumpang menyadarkan lamunan saya sembari bertanya nomor telepon mobil travel yang baru saja saya telpon.

 

Right or Wrong Decision?
Saya bersyukur di saat saya sedang down karena batal berangkat dari Jambi, Allah Swt memberikan pertolongan lewat teman saya, Dhanny. Pria keturunan Tionghoa ini menawarkan bantuan kepada saya untuk mencari mobil travel ke Palembang. Letak rumahnya yang dekat di bandara dan waktu pulang kerja yang sudah seharusnya membuat saya tak bisa menolak bantuannya.
Awalnya saya sungkan merepoti orang lain, tapi karena satu koper dan satu ransel yang saya bawa tak mungkin dibawa dengan motor, maka Dhanny adalah penyelamat saya waktu itu. Sedangkan orang tua sudah di rumah dan letak antara rumah dan bandara yang jauh, tidak mungkin saya meminta orangtua kembali ke bandara. Meski begitu, saya bertemu dengan papa di loket keberangkatan travel, ia membawakan botol minuman dan obat-obatan dari mama.
Palembang adalah satu-satunya jawaban untuk memutus rantai kesulitan hari itu. Akhirnya setelah diantar Dhanny ke loket, berangkatlah saya menuju Palembang. Di tengah jalan saya bahkan berharap keajaiban, kalau saja pesawat mendarat di Jambi malam itu, saya akan membatalkan keberangkatan menuju Palembang, dan mengubah jadwal penerbangan lagi dari Jambi ke Jakarta pada waktu Subuh. Saya membuang pikiran itu jauh-jauh. Pikir saya itu adalah hal yang mustahil karena asap masih mengepung Jambi.
Guess what? Ternyata penerbangan dari Jakarta ke Jambi malam itu mendarat! Saya yang baru tahu informasi tersebut setelah 30 menit perjalanan langsung lemas. Saya tidak mungkin meminta berhenti mobil, apalagi membatalkan perjalanan sedangkan mobil sudah berjalan. Saya hanya menghela napas panjang. Mungkin Allah Swt sedang menguji saya melalui keputusan yang saya ambil. Tak ada definisi mutlak salah dan benar dalam hal ini, jadi saya pikir, “I have to enjoy my life.”

 

Akhirnya Meninggalkan Sumatera
Tiba tengah malam di Palembang bukan perkara mudah, apalagi saat itu jam tangan menunjukkan pukul 02.00. Saya harus waspada, pikir saya. Bagaimana tidak, ada seorang perempuan satu-satunya di mobil travel, yang diantar paling akhir dan rumah keluarganya agak jauh dari pusat kota. Kadang kalo ingat ini, saya nggak habis pikir sama diri sendiri, terlalu berani atau terlalu penakut ya? Hehe..
Tiba di rumah ombai dan akas adalah kebahagiaan pada tengah malam itu. Saya langsung bergegas mengangkut ransel dan koper menuju pekarangan rumah. Matiar, oom saya, membukakan pintu toko bagian bawah. Melihat ombai yang terbaring di sisi adik sepupu perempuan saya, bergegas saya menyalami tangan beliau. Saya melihat akas yang berada di kamar sebelah, akas sudah tertidur pulas. Biarlah esok pagi saya bercengkrama dengan akas, batinku.
Pagi hari, seisi rumah akas melontarkan banyak pertanyaan dan kesalutan yang tak biasa yang dilakukan oleh cucu pertama dari keluarga ibu saya. Perjalanan yang harus dilakukan sebelum malam nanti berangkat ke Amerika, hingga cuaca di Jambi yang tidak memungkinkan saya untuk berangkat, saya ceritakan semuanya. Akas, yang sudah sepuh, meski sudah saya jelaskan berulang kali kenapa harus ke Amerika, tetap bertanya. Maklum, akas saat ini tidak memiliki pendengaran yang baik, jadi saya harus berulang kali menjelaskan jawaban yang sama.
Setelah berjam-jam mengobrol dengan akas, ombai, oom, tante, dan adik sepupu, akhirnya saya harus berangkat dari rumah khas Palembang itu. Diantar oleh sepupu oom saya, satu mobil penuh dengan keluarga oom dan adik sepupu yang mengantar. Mau meleleh rasanya air mata melihat perjuangan orang-orang di sekitar saya yang membantu saya hari itu. Mungkin kalau tidak ada saudara di Palembang, mungkin saya sudah tidur di pelataran bandara tengah malam itu.
Pesawat pun menerbangkan saya ke Bandara Soekarno Hatta pukul 11.00. Saya tak henti berdoa dan bersyukur karena telah diselamatkan oleh orang-orang baik di sekitar saya. Jika tanpa seizin Allah Swt, pertolongan itu tidak akan menghampiri saya. Burung besi yang masuk dalam jajaran maskapai penerbangan terbaik se-dunia itu membawa saya meninggalkan tanah Sumatera, memberangkatkan saya ke Tangerang bertemu dengan peserta International Visitor Leadership Program lainnya. (bersambung)

happy faces

Bersama keluarga di Jambi, sebelum berangkat ke Jakarta (yang pada akhirnya berangkat dari Palembang)

A Journey to Catch a Dream

Heart beating
Aku asyik memilih kain untuk dibuat jilbab di sebuah toko testil di kotaku, Jambi. Jilbab satin yang kupilih tidaklah mudah seperti yang kukira. Perlu waktu beberapa lama untuk mencari warna navy, pink, dan ungu. Seketika aku turun ke lantai bawah, menyegerakan pembayaran di kasir. Sesaat setelah sampai di kasir dan membayar sejumlah uang, aku membuka tablet yang saat itu masih baik kondisinya. Sebuah pesan dari seorang kakak perempuan, mbak Aurel, Public Affairs Assistant masuk melalui media social; Whats App.
“Bellaaa, selamaattt! Kamu lolos untuk ikut program IVLP ke Amerika! Aku barusan dapat kabar dari atasanku.”
Heart beating. Dalam kondisi berkecamuk, bayangan perjuangan masa lalu itu menari-nari di benakku. Jatuh bangun mencapai cita-cita yang diimpikan sejak lama itu membuat air mata meleleh selama di perjalanan menuju ke rumah.

You May Say I’m a Dreamer, but I’m Not the Only One
Tulisan tentang ‘dream’, entah sudah berapa kali aku tulis. Entah sudah berapa kali aku mencari peluang ini. Bermula dengan kalimat bahasa Inggris di atas, peluang yang tak kunjung tiba tadi tidak menyurutkan langkahku untuk terus berusaha. Karena aku yakin, bukan aku sendiri yang bermimpi. Ada banyak orang yang memimpikan hal yang sama, meski memang tujuannya berbeda.
Sejak awal kuliah, bahkan hingga selesai mengajar di Pulau Rote, satu tahun lalu, mimpi itu masih kuletakkan di depan kening ini. Aku sempat berbincang dengan sahabat yang bahkan tetap meyakini diriku untuk mendaftar beasiswa, meski pada saat itu aku sedang tidak ingin mengurus beasiswa. Kadar keinginan itu sedikit berkurang, tak semeluap dulu, namun aku yakin suatu saat akan tiba untukku. It will be my turn someday.
Hingga akhirnya pertemuan tak sengaja dirancang oleh Allah Swt. Pertengahan Desember tahun lalu aku dihubungi oleh kak Cea, pendiri KOalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) yang berpusat di Jakarta. Saat itu kak Cea bertanya apakah ada komunitas yang dapat diajak bekerja sama untuk mengorganisir kegiatan komunitasnya yang mendapat dana hibah dari US Embassy Jakarta. Aku pun menawarkan Sahabat Ilmu Jambi (SIJ), komunitas yang memang dari dulu aku bersama teman-teman menggiatinya.
Kak Cea setuju, dan aku menghubungkannya dengan Yani dan Rieo. Mereka pun berhubungan langsung dengan kak Cea. Aku sama sekali tak ikut campur karena saat itu sudah bekerja. Waktu untuk berkegiatan di SIJ sedikit berkurang, di sisi lain pegiat lain yang lebih muda dan memiliki waktu luang cukup banyak. Jadi aku sama sekali tak ikut campur untuk urusan Social Media for Social Good yang sudah dirancang KOPHI dan US Embassy Jakarta.
Well, waktu pelaksanaan akhirnya tiba. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada pertengahan Januari. Jambi adalah kota pertama roadshow tersebut. Dan kak Cea akhirnya ke Jambi bersama teman-temannya dari KOPHI dan US Embassy Jakarta. Aku pun bertemu dengan kak Cea, dan ini pertemuan kedua kalinya dengan beliau. Aku bertemu dengan kak Cea pada hari kedua roadshow.
Pada hari itu, aku juga berkenalan dengan mbak Aurel, perempuan yang mengirimkanku pesan melalui Whats App tadi. Obrolan yang tidak begitu panjang itu berisikan pertanyaanku tentang tugas beliau di US Embassy Jakarta, kenapa memilih kota Jambi sebagai salah satu destinasi roadshow, apakah sudah pernah ke Jambi, dan apakah ada peluang untuk ikut kegiatan dari US Embassy Jakarta. Saat itu juga mbak Aurel bertanya tentang aktivitasku yang bekerja di SMP SMA SMK Islam Attaufiq, pengajar muda Indonesia Mengajar pada tahun lalu, serta inisiatif pendidikan melalui Sahabat Ilmu Jambi.
Aku menerka pembicaraan tersebut tak lebih dari 30 menit, karena saat itu aku tahu bahwa mbak Aurel akan pulang ke Jakarta pada sore hari, sedangkan aku tiba di lokasi roadshow pukul 14.00. Tak pelak pembicaraan pun tidak banyak, mbak Aurel memberikanku kartu namanya sambil berjanji akan memberitahuku informasi kegiatan di luar negeri suatu hari. Aku tak berharap banyak pembicaraan singkat tersebut akan berdampak manis beberapa bulan kedepan.
Selang dua bulan kemudian, mbak Aurel menghubungiku kembali. Ia mengirimkanku pesan Whats App yang memintaku untuk mengirim curriculum vitae secepat mungkin. Aku yang tidak mengerti kenapa harus kirim CV ini sempat menanyakan hal tersebut kepada beliau. Dan ia menjawab, “Untuk direkomendasikan ikut program ke Amerika.”
Membaca pesan tersebut membuat aku tak ingin terlalu banyak berharap. Aku belajar saat jadi pengajar muda dulu, kami diminta untuk low expectation terhadap tempat belajar kami selama satu tahun. Kini meski sudah berganti status menjadi alumni pengajar muda, dua kata tadi tetap aku ikhtiarkan saat memiliki keinginan baik. Esok harinya, email terkirim. CV singkat sebanyak dua halaman itu aku kirimkan, aku mempersingkat informasi dan menulis lebih detail.
Dua bulan kabar dari mbak Aurel belum menunjukkan hasil yang positif. Aku sedikit pesimis apa bisa lolos atau tidak. Diantara harapan yang muncul itu, aku pernah bertanya soal program yang nantinya lolos apakah dibiayai atau tidak, apa nama programnya, dan lain-lain. Tapi mbak Aurel tidak terlalu menjawab detail. Aku pikir mbak Aurel tidak memberitahu secara detail karena belum ada keputusan dari atasannya.
Akhirnya pada akhir Mei lalu, tepatnya 27 Mei 2015, pesan WA pada paragrap pertama di atas hadir di tabletku. Kepingan memori perjuangan itu menggelayut di benakku. Aku yang antara senang dan sedih membaca pesan itu, membawa motor dengan cukup pelan. Aku ingat perjuangan yang kulakukan saat masih menjadi mahasiswa. Aku ingat harus keliling lapangan KONI. Aku ingat harus berkali-kali menjawab pertanyaan dan mengirimkan email. Aku ingat bahwa lebih dari 10x aku mencoba berusaha untuk ke luar negeri.
Yang kucemaskan adalah, keberangkatanku bertepatan dengan keberangkatan orangtuaku ke Mekkah. Lantas bagaimana dengan adik bungsuku, Sadi? Apa mungkin aku menolak kesempatan yang sudah kutunggu bertahun lamanya? Apakah mama papa mengizinkanku? Apa aku mendapat izin dari sekolah tempatku bekerja?

A Journey of Thousand Miles Begin With a Single Step
Beribu mil perjalanan baru akan dimulai dalam beberapa hari lagi. Sejujurnya beribu mil perjalanan ini tidak hanya sekedar jarak, namun pembelajaran memahami diri dan Islam yang lebih baik. Ya, perjalanan yang panjang untuk meraih mimpi ini juga dimulai dari langkah pertama, yang masih gontai dan tak tentu arah. Finally, a nice journey come to me.
Keikutsertaan dalam program International Visitor Leadership Program ini merupakan single country program dari pemerintah Amerika Serikat, melalui Department of Education State, dan diteruskan melalui US Embassy di masing-masing negara. Insya Allah pembelajaran baru akan dilalui selama 3 minggu di Amerika Serikat bersama 12 peserta lainnya, yang juga pengajar muslim di sekolah Islam, pesantren, perguruan tinggi Islam, dan perwakilan Kementrian Agama. Insya Allah saya berangkat ke Jakarta dari Jambi pada 3 September siang, dan pada 4 September akan ada briefing di kantor US Embassy di Budi Kemuliaan, selanjutnya akan mempersiapkan keberangkatan pada malam hari. Sedangkan keberangkatan dari Jakarta insya Allah akan dimulai tengah malam menuju tanggal 5 September.
Lagi-lagi syukur tak terhingga dipanjatkan kepada Sang Maha Pencipta. Saya bersyukur perjalanan ini ditemani oleh banyak pengajar muslim, yang artinya tak akan ragu untuk memilih makanan halal, menentukan arah kiblat dan waktu sholat, serta memperluas pertemanan (meski saya peserta termuda pada program ini). Muslim Educators, begitu program ini dinamai, membuat saya harumempersiapkan banyak referensi tentang Islam. Tak bisa dipungkiri, aksi segelintir orang pada 11 September 2001 dulu mengakibatkan kepercayaan negara barat terhadap Islam sedikit turun. Saya ingin keberangkatan ke Amerika ini menjadi salah satu cara menjadi agen muslim yang baik, meski saya menyadari saya sendiri belum baik sepenuhnya.
Rencana Allah Swt indah sekali. Bahkan di saat saya sudah hopeless dan membiarkan keinginan untuk ke luar negeri berhenti sementara waktu, ternyata Ia membukakan jalan dengan cara seperti ini. Sang Maha Adil tampaknya mengerti bahwa di saat kita ikhlas, ia akan menggantinya dengan yang lebih baik. :”)

Pulang Kampung

Siapa yang nggak suka pulang kampung?

Saat dimana kita bertemu kembali dengan orang yang kita cintai.

Saat dimana kita bertemu setelah sekian lama kita merindukan keluarga nan jauh disana?

Saat hanya suara saja yang terdengar, tanpa ada wajah yang bertatap muka.

Kini pulang kampung begitu saya rindukan.

Hampir satu tahun lebih tidak pulang, dan rasanya sudah tidak sabar!

Akhirnya siang ini saya pulang kampung.

Selalu rindu dengan tanah kelahiran, meski bukan tempat dimana saya dibesarkan.

Namun, pulang kampung menjadi agenda yang selalu dirindukan.

See you when I see you this night, Palembang!:)

Menetralisir Emosi

Saya kadang heran kenapa orang terlalu sibuk membicarakan kehidupan orang lain. Yang sejujurnya itu bukan urusan mereka.

Saya kadang kesal melihat orang mengucapkan kata-kata bahagia seolah mereka tahu segalanya. Sotoy kah itu namanya?

Kadang juga menyebalkan sekali saat apa yang kita beritahu kepada orang lain, dia malah menganggap kita ‘nothing’.

Kepo. Apalagi itu. Sibuk nanya sana-sini, bahkan sudah nggak ditanggepin pun juga tetap nanya. Kepekaannya udah putus kali ya?

Duh maafkeun saya yang agak labil. Masih kurang menetralisir emosi di umur seperempat abad ini. Atau ini sindrom lagi dapet ya? Dan puncaknya dua hari belakangan? Ah, entahlah. -______-

Tentang Amanah Kerja

Alhamdulillah, hari ini sudah masuk kerja. Setelah satu minggu lebih libur, akhirnya hari ini aktif bekerja lagi. Well, di saat masih banyak pemuda yang belum mendapatkan pekerjaan, saya harusnya bersyukur karena mendapatkan pekerjaan tetap.

Pulang dari Rote, NTT, tahun lalu membuat saya galau akan bekerja dimana. Karena saya tahu saya pasti akan mengulang kembali pencarian kerja di tempat saya tinggal, Jambi. Meski pada awalnya saya nggak akan ragu soal rezeki dari Allah Swt, meski juga saya tahu peluang sebagai guru Bahasa Inggris insya Allah banyak, namun saya ketar-ketir juga karena sekolah mana yang akan menerima saya ketika tahun ajaran baru dimulai?

Akhirnya setelah 3 bulan bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris, saya pun mendapatkan rezeki di SMP-SMA-SMK Islam Attaufiq Jambi, tepatnya di Talang Banjar. Saya diamanahkan sebagai Executive Teacher, dimana saya banyak mengganti jam pelajaran guru jika guru tidak hadir. Mengajar apa? Life skill dan learning skill, serta pembelajaran Bahasa Inggris yang berfokus pada kemampuan berbicara. Saya mulai bekerja sejak 3 November 2014 lalu.

Kini tahun ajaran baru dimulai. Amanah saya bertambah, yakni sebagai program manager di perpustakaan sekolah. Saya sedikit bingung, kenapa saya yang dipilih, padahal saya masih 7 bulan di Attaufiq. Apa mungkin karena saya suka baca buku jadi saya diamanahkan disana? Ah semoga saja saya bisa memaksimalkan diri di amanah yang baru ini. Saya berharap semoga bisa memberikan yang terbaik kedepannya. Ya setidaknya hingga satu tahun ajaran 2015/2016 berakhir pada Juni 2016 mendatang (karena saya belum tahu apa akan melanjutkan kontrak setelah itu atau tidak).

Amanah kerja bagi saya bukan pekerjaan sembarangan. Tapi saya selalu meniatkan kalau kerja pasti seperti main, hehe.. Karena saya selalu menyukai apa yang saya kerjakan soalnya😀

Kerja itu main, setuju?😀