Panggilan Itu Bernama Umroh

Tengah malam itu saya berkali-kali menatap Ka’bah dengan tanpa memikirkan apapun. Saya hanya mengingat kebesaran Allah Subhanahu Wataala yang mampu membawa saya menuju tanah haram itu. Betapa Ia baik memberikan kesempatan bagi saya yang masih banyak dosa ini diterima dengan layak disana. Betapa perjuangan untuk meluluhkan hati orangtua, terutama Mama, untuk merelakan anak perempuannya lagi berangkat ke luar negeri tanpa mahram. Betapa tidak pelak saya bersyukur atas semuanya.

 
Tulisan pertama ini hanya mengupas segelintir kejadian sebelum keberangkatan. Teman-teman, ini bukan untuk pamer, riya, sombong, atau apalah yang mungkin sempat terlintas di benak kalian. Tulisan ini tidak lain hanya ingin berbagi kepada teman-teman yang mungkin membutuhkan informasi sebelum berangkat, atau juga ingin sekedar membaca tulisan saya yang sudah lama tidak menghiasi blog ini. Sekiranya ada manfaat yang bisa diambil, saya akan bersyukur sekali, karena tujuan hidup saya ya itu, menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang. Saya mohon maaf jika dalam penyampaian ini ada yang kurang berkenan, karena sejatinya pun saya banyak kekurangan. InsyaAllah tulisan blog kedepannya akan dibagikan per tahap tentang perjalanan yang saya rasakan bulan lalu.

 

 

Saya Dipanggil, Segera!

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah…” (QS. Al-baqarah: 196)

 
Sebenarnya ajakan untuk berumroh sudah terlontar dari orangtua saya sejak November 2014. Kala itu Mama dan Papa akan berangkat umroh pada Desember 2014. Hanya saja saat itu saya merasa harus banyak memperbaiki diri dan berkeinginan untuk berangkat kesana dengan uang sendiri (saat itu uang saya belum cukup dan akan banyak menggunakan uang orangtua daripada uang saya sendiri). Saya bilang ke Mama bahwa saya akan berangkat jika waktunya telah tepat dan murni menggunakan uang saya sendiri. Dalam hati saya berpikir, kapankah waktu yang tepat itu?

 
2017. Ya panggilan itu hadir di awal 2017. Saya merasa saya harus kesana untuk mengadukan semuanya, untuk bercerita kepadaNya, untuk meminta pada Sang Pencipta jagad raya ini, untuk bermuhasabah di hadapan Ka’bah langsung, dan untuk-untuk lainnya. Hanya saja saat itu kendalanya adalah izin belum didapatkan dari orangtua, terutama Mama. Beliau khawatir saya ke tanah yang nggak biasa itu sendirian tanpa mahram, sedangkan orangtua juga sudah umroh dan haji, jadi belum dulu untuk berangkat kesana. Saya paham, saya mafhum, saya nurut.

 
Kemudian pertengahan menuju akhir 2017 saya ‘merengek’ lagi ke Mama. Kali ini khusus ke Mama, karena Papa sejatinya telah merelakan saya berangkat sendiri. Saya bilang ke mama bahwa keberangkatan ini nggak sama seperti saya ke Amerika Serikat dulu. Ini bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk beribadah. Saya ingin Mama merestui harapan saya. Namun, restu itu belum juga didapatkan.

 
Hingga saya legowo dan nggak terus-terusan meminta permohonan ke Mama, saya pun berusaha untuk “Ya sudahlah.” Dalam hati mikir, kok ya nggak boleh, kan disana bakal dengan bapak ibu lainnya juga. Apa Mama takut anaknya ini diculik orang Arab karena terlalu hobi jalan-jalan sendirian, apa mungkin Mama khawatir kalo saya bakal hilang disana, dan kebingungan lainnya yang saya simpan sendiri. Di sisi lain, keberangkatan saya semakin kuat karena niat dan uang tabungan yang telah mencukupi (uangnya terkumpul dari tabungan bertahun-tahun dengan Mama dan disokong uang beasiswa S2). Kedua hal ini sudah di tangan, namun Mama masih diam nggak bergeming.

 
Pun 2018 berganti, menuju awal Februari. Di bulan itu saya mengalami apa yang orang bilang saat di SPBU: “Mulai dari nol ya.” Saya merasa saya harus mulai dari nol. Saya merasa saya harus memohon ampun atas segala keburukan, kekhilafan, dosa, dan kejelekan yang pernah ada pada diri saya, yang mungkin secara sengaja atau nggak sengaja saya lakukan, baik itu kepada diri sendiri atau orang lain. Saya meyakini pula Allah Subhanahu Wataala insyaAllah akan mengampuni semua itu kepada saya. Saya juga berharap rezeki dariNya untuk saya akan diberikan pada tahun ini. Rezeki yang saya rasa hidup saya belum bermakna, saya belum membahagiakan orangtua, dan saya harus sukses bersama orang yang saya yakini akan membimbing saya menuju surga jannah. Terlebih lagi sebuah kejadian membuat saya akhirnya terus berpikir bahwa saya harus ke Mekkah. Yang saya yakini adalah Allah Subhanahu Wataala adalah Sang Pemberi Keputusan Terbaik. Apapun keputusanNya, saya siap. Maka bermodal kedua hal itulah, akhirnya Mama memberikan izin kepada saya. Dan pada tanggal 9 Februari 2018, saya mantap melangkahkan kaki ke kantor bimbingan perjalanan haji dan umroh, Chairul Umam dengan Papa saya.

 
Teman, perjuangan ini belum selesai, tidak hanya mendaftar dan menyerahkan uang 1 bulan sebelum keberangkatan saja, namun juga selama 1 bulan itu saya dituntut harus bisa mengatur waktu dengan baik. Membaginya dengan seefisien mungkin, termasuk harus meluangkan waktu dari Jum’at hingga Minggu untuk mengikuti manasik umroh. Manasik umroh di Chairul Umam dilaksanakan selama 3 kali dalam 1 minggu. Pertama hari Jum’at di kantor Chairul Umam di Beringin, disana hadir ustadz yang memberikan tausiyah tentang persiapan keberangkatan haji dan umroh. Hari kedua pada hari Sabtu bertempat di Masjid Sukarejo di TheHok, dengan tema yang sama di hari pertama. Hari ketiga adalah hari Minggu di Asrama Haji Kotabaru, dimana saya melaksanakan praktek dari teori yang sudah didapatkan selama 2 hari sebelumnya.

 
Selama 1 bulan itulah saya bertemu dengan bapak dan ibu, ya sebuah perkenalan yang nggak biasa. Karena selama ini biasanya kenal dengan anak muda, nah sekarang harus bisa beradaptasi dengan orang yang lebih dewasa daripada saya. Bermodalkan salam, senyum, sapa, dan bertanya “Ibu berangkat haji atau umroh?”, maka perbincangan terus mengalir. Kerap saya sedih saat ditanya berangkat dengan siapa, karena memang hanya saya sendiri yang berangkat. Dan serentetan kalimat tanya berikutnya yang saya jawab dengan senyum.

 
Bukan hanya perkenalan dengan sesama jamaah umroh yang harus saya lakukan, saya juga harus menyiapkan fisik yang prima dan perlengkapan yang nggak boleh tinggal sepeserpun dari Jambi. Saya jadi makin intens olahraga setiap pagi atau sore dengan cara jogging di sekitar area RSJ dekat komplek rumah saya. Saya mendorong diri untuk berlari (meski dengan terengah-engah) dalam waktu dan jarak tertentu agar tubuh saya terbiasa untuk berjalan jauh. Saya juga berusaha untuk mengatur pola makan yang nggak hanya sekedar tekwan, bakso, soto, dan teman-temannya, namun juga mengikuti anjuran dokter untuk makan buah dan istirahat lebih awal (nggak bergadang). Di sisi lain saya juga mendapatkan selembar kertas tentang barang-barang apa saja yang harus saya bawa, saya juga membeli perlengkapan yang sekiranya Mama nggak ada (karena sebagian besar barang-barang umroh saya pakai dari milik Mama). Saya membuat daftar barang yang akan dibeli dan memastikan sudah ada di koper 1 minggu sebelum berangkat. Tambahan lagi, mendekati minggu sebelum berangkat saya harus sementara off mengajar dan menyelesaikan tugas kuliah. Lumayan hectic sih, karena meski saya sudah off mengajar, tetap saja tugas kuliah dituntut harus selesai sebelum saya berangkat, agar saya tenang beribadah di Mekkah. Dan satu hal lagi, setiap malam nggak henti-hentinya saya diingatkan dari A sampai Z mengenai apa yang harus dan tidak harus saya lakukan di Mekkah dan Madinah oleh orangtua saya, pun di sisi lain orang-orang terdekat juga mendukung dan memberikan wejangan. Alhamdulillah bekal ini lumayan membuat saya siap berangkat.

 
Lantas hari itu tiba. Hari dimana saya harus berangkat sendiri, yang seumur hidup saya bahkan nggak pernah menangis sesenggukan seperti kemarin. Hari dimana saya telah menyelesaikan perlengkapan yang akan saya bawa, hari dimana saya harus melaksanakan sholat safar pertama kali di hidup saya, hari dimana hati saya terombang-ambing dan bertanya: “Apakah saya diterima dengan baik di tanah haram?”

 
Hingga pagi di tanggal 14 Maret 2018, orangtua dan kedua adik mengantar saya ke bandara. Memakai jilbab Chairul Umam berwarna kuning, baju gamis putih dilapisi baju batik Chairul Umam, dan segenap doa dan restu dari mereka, hingga air mata yang keluar saat saya harus masuk ruang pemeriksaan bandara Sultan Thaha Jambi sambil memegang tisu untuk menyeka air mata, dan berkata kepada Mama, “Ma, doain Ayuk disano yo.”

 

 

Hanya itu, hanya itu yang saya ucapkan kepada Mama, sembari mencium tangan Mama dan Papa, serta kedua adik laki-laki. Langkah kaki saya

Traveling with Garuda Indonesia

Foto di pesawat sebelum take off dari Jakarta ke Jeddah

mantap. Ya, restu itu telah didapatkan. Doa-doa telah dikabulkan untuk tahap pertama keberangkatan ini. Alhamdulillah, panggilan bernama umroh itu akhirnya tiba. (bersambung)

Advertisements

Jadilah Tangguh!

Allah SWT, aku sangat tahu bahwa ketetapanMu adalah yang paling baik dari prasangkaku sendiri

Allah SWT, aku sangat percaya bahwa keputusanMu terhadapku adalah terbaik bagi hidupku saat ini

Aku sadar bahwa Engkau memberikan rezeki berbeda kepada setiap hambaMu

Aku yakin apapun rezeki itu, ketetapan dan keputusanMu telah tertulis di Lahul Mahfuzku

Namun mengapa ya Allah, kadang aku merasa aku sudah lelah?

Setan apa ini yang merasuki pikiranku di kala aku merasa sudah tidak sanggup lagi?

 

Allah SWT, aku sudah membuat pertahanan yang kuat untuk hal itu

Aku juga sudah membentengi diriku untuk tidak terjatuh lagi

Aku pun sudah berkeras diri untuk tidak mudah terhempas

Namun mengapa kali ini pertahanan itu runtuh lagi, ya Allah?

Apakah aku perlu menancapkan benteng hati lebih kuat dan lebih keras lagi?

Atau aku harus apatis?

 

Ya Allah, Bella tahu, sangat tahu, bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya sendiri memikul beban itu

Bella juga paham bahwa setiap kesulitan pada hambaMu pasti akan kemudahan

Bella juga sangat mengerti bahwa rezeki setiap orang berbeda, termasuk kapan Engkau harus menangguhkan rezeki itu dan kapan Engkau akan mengabulkannya

Bella juga akan selalu ingat bahwa Allah SWT tidak pernah tidur, Engkau selalu mendengar doa hambaMu, bahkan meski itu tertulis di dalam hati

 

Kalaulah segala hal tersulit Bella harus Bella lalui karena dosa-dosa yang pernah Bella perbuat, sungguh ya Allah Bella nggak sanggup harus menerima azab itu di dunia ini, apalagi di akhirat kelak

Kalaulah Bella banyak salah kepada Allah SWT dan manusia, sungguh ya Allah Bella akan selalu beristighfar memohon ampun kepadaMu

Kalaulah taubat nasuha dan segala doa, bahkan semua sholat telah Bella lakukan, namun Allah SWT masih memberi tantangan ini, tolong kuatkan Bella ya Allah

 

Ampunkanlah dan terimalah taubat nasuha Bella, ya Allah

Kuatkanlah Bella, ya Allah

Tangguhkanlah Bella, ya Allah

Ikhlaskanlah Bella, ya Allah

Sabarkanlah Bella, ya Allah

Semangatkanlah Bella, ya Allah

Buatlah Bella selalu percaya terhadap qada dan qadarMu

Yakinkanlah Bella bahwa yang terbaik akan Engkau berikan kepada Bella

Hidupkanlah selalu harapan dan ikhtiar hanya kepada Allah SWT

 

Sungguh ya Allah, aku tidak sabar menemuimu di tanah Mekkah nanti

Aku ingin bercerita kepada Allah SWT yang paling tahu isi hati manusia sejagad raya dunia ini

Aku ingin memohon ampun di tempatMu

Aku ingin Engkau mengabulkan doa dan harapanku di tempat terbaikMu

Semoga Engkau menerimaku yang masih berlumur dosa, kejelekan, dan kehinaan ini di tanah haramMu

Sungguh ya Allah, aku tidak sabar menanti waktu itu

Lampaui Batas Dirimu!

14

            “You have the power in your hand when you have it in your mind.” -René Suhardono-

Siapa diantara kita yang terkadang merasa saya tidak bisa melakukan apapun? Siapa diantara kita yang seringkali mengatakan bahwa saya mustahil melampaui batas diri karena saya sendiri memiliki keterbatasan diri? Siapa pula diantara kita yang justru urung melangkah ke depan hanya karena takut kalah, takut gagal, dan berpikir bahwa itu hanya menyia-nyiakan waktu? Lalu pada akhirnya kita memilih diam, jadi penonton, dan menunggu keajaiban datang. Oh well, bukankah hidup selalu menuntut kita untuk mengambil resiko dan mendaki jalan yang terjal?

Jika teman-teman mengingat perjuangan Rasulullah SAW yang membawa kita dari alam jahiliyah hingga ke alam yang penuh keberkahan ini, tentu teman-teman paham bahwa Rasulullah SAW telah melampaui batas dirinya untuk berjuang menyebarkan Islam di dunia ini. Jika bukan karena kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap Allah SWT, jika bukan karena keteguhan hatinya untuk menjalankan perintah RabbNya, tentu kita tidak mampu menikmati indahnya dunia. Sudah sepatutnyalah kita juga meniru pribadi agung tersebut.

“Dan tiadalah Kami mengutus Engkau wahai Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S Al-Anbiyaa’ (21):107)

Lantas bagaimana kita mampu meniru Rasulullah SAW, melampaui batas diri, menjadikan hidup lebih bermanfaat dan bermakna? Ada beberapa hal yang menurut saya dapat menjadi pertimbangan kita agar dapat melampaui batas diri, yaitu:

  1. Keluar dari zona nyamanmu

Setiap orang pasti akan merasa bahwa kehidupannya saat ini sudah mantap, sudah aman, tidak perlu melakukan apapun lagi, jadi ya let it be. Namun, kalau kamu ingin mengubah hidupmu, pikirkanlah kalimat di atas sebagai penentu pertamamu. Jika kamu tidak ingin keluar dari zona nyaman, bagaimana mungkin kamu bisa melampui dirimu? Tidak mungkin akan meraih sesuatu kalau kita masih terkungkung disana bukan? Jadi tinggalkan zona nyamanmu, teman!

  1. Miliki impian

Penting sekali lho untuk memiliki impian. Jika tidak memiliki impian, hidup akan seperti gitu-gitu saja. Ya orang kesana, kita ikut kesana. Orang kesini kita ikut kesini. Umur bertambah, and we do nothing. Percayalah, impian bukan sekadar angan-angan panjang yang mustahil untuk diwujudkan. Justru jika kamu berusaha bersungguh-sungguh dan selalu berdoa kepada Sang Maha Kuasa, insyaAllah impian tersebut yang akan menjadi pencapaian terbaikmu dalam mengenali kemampuan diri.

  1. Berjejaring dan miliki mentor/coach

Coba deh hitung jumlah teman atau sahabatmu? Apakah dari tahun ke tahun sama saja atau bertambah? Apakah lingkaran pertemananmu berdampak baik untukmu? Apakah kamu dapat berdaya bersama mereka? Jika kebanyakan tidak, sudah saatnya kamu berjejaring dengan mereka yang memiliki keinginan yang sama pula denganmu. Bertemanlah dengan siapa saja, namun kamu juga perlu memilih mereka yang terbaik yang dapat membimbing kamu melejitkan potensi diri. Jika kebetulan menemui seseorang yang mampu menjadi mentor atau coach kamu, ada baiknya kamu meminta kepada dia apakah dia bersedia.

  1. Berpikiran positif

Orang yang di dalam dirinya hanya ada pikiran negatif akan berdampak pada pandangan dan tingkah lakunya di kehidupan nyata. Justru mereka yang memiliki pikiran positif akan lebih dahulu sukses, tidak terpenjara dengan pikiran negatif yang membuat mereka urung melakukan sesuatu. Bagaimana supaya memiliki pikiran positif? Kuncinya sederhana, perbanyaklah membaca dan berdiskusi dengan orang-orang yang berpikiran positif.

  1. Merawat hati dengan beribadah

Siapapun kita, apapun agama kita, dari mana saja kita berasal, apapun suku kita, satu hal yang harus kita jaga adalah merawat hati dengan berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Beribadah, berdoa, memanjatkan kecintaan kita kepadaNya, akan membuat kita tetap berada pada jalan yang seharusnya kita yakini akan membuat kita lebih baik. Tentunya kita butuh bimbingan Allah SWT bukan agar diri kita tetap berada dalam batasan yang seharusnya?

  1. Restu orangtua

Jangan pernah melakukan apapun tanpa restu orangtua. Mereka yang melahirkan, merawat, membesarkan, dan membimbing kita sedari kecil adalah kunci utama agar diri kita menjadi pribadi lebih bermanfaat dan bermakna bagi semesta. Seandainya tanpa restu orangtua, tidaklah kita bisa raih apapun yang kita inginkan? Jadi, berbaiklah kepada mereka, selalu doakan mereka, berkata baiklah, dan sering-sering lah berinteraksi untuk belajar kehidupan dari mereka. InsyaAllah kemampuan kita untuk melampaui batas diri akan lebih diridhoi oleh Allah SWT jika disertai dukungan dari orangtua.

Guys, seperti yang kata René sebutkan di atas, kita lah yang punya kuasa atas diri kita. Jika kita percaya ada kekuatan di dalam diri kita, maka kita dapat mewujudkannya. Tips di atas hanyalah penuntun bagi kau agar selalu semangat. Terlepas dari itu, kamu sendiri yang menentukan hidupmu. Good luck with your life!

Good morning, Jambi!

20170108_071213

Sunny clouds in the sky this morning. This is Jambi, how about you there?

New day begins with sincerity. Let’s begin your Sunday more powerful!

Assalamualaikum, good morning, how is your life? Everything is good, right? I wish your activity run well too.

Morning means a lot for me. I woke up this morning at 6 a.m. Actually, I wanted to follow my parents’ activity every Sunday morning, running around the house and RSJ. Usually they started at 5 a.m. after Subuh pray. But I hadn’t wake up yet at that time haha. In last night, mom said that she was not running well, so I thought she didn’t do sport with my dad. Unfortunately, my both parents already asked me at 5 a.m. if I want to join with them or not, and sadly I didn’t hear their voice. ‘__’ Suddenly at 6 a.m. I listened my mom’s voice. She shouted to me that she, followed by my dad and my youngest brother, would go somewhere, because my youngest brother wanted to drive the car (my youngest brother learned it about four days in course). And I left these two activities in the morning!

Then, I decided not to sleep anymore. I thought I wanted healthy life. I started gym in my second floor, especially in outdoor terrace. Yeah like gym as usual, counted one until eight for each position. It took around 10 minutes. Then, I opened my mobile phone, I looked Youtube channel and searched for Senam Riang Anak Indonesia, a gym that Indonesia Mengajar gave to me when I followed their training before went to Rote Island, East Nusa Tenggara. I liked this gym very much! Although it’s just appropriate for elementary students, but I always tried it when I had gym. The moving so easy and fun, and reminded me when I did it with my Rote kids. #alwaysPMsick Well, I did it twice and powerfully! Haha. After it, the next gym was penguin dance. It’s funny gym, I thought. I enjoyed it so much. Never been happy like this morning before!

Next I took breathe. I was so tired. I was sweat. Unfortunately, I hadn’t finish it yet. Because my parents hadn’t arrived yet in my house, I continued my sport. I decided to try push up, sit up, and back up again. Long time I didn’t do this sport! 20 times for each, I did it. While I did it, I remembered about my training in Indonesia Mengajar every morning at that time, we were supposed to do sport at 5 a.m., and did these hard activities. It seemed unusual for me because I rarely did it. After 15 minutes, you can imagined, am I so exhausted? That’s true! I was so happy, Alhamdulillah. I could do it again, no doubt. I thought I couldn’t, but I could do it with high spirit.

Around 7.15 a.m., I finished my gym. I opened this laptop and wrote it. In 2017, I have many resolutions, such as do sport/gym and write English writing. I want to have healthy life every week, so I do sport. After gym, I decided to write. Maybe this kind of English writing is not important to you, only gives your activity to others, but for me I want to hear back from you, if there is any mistakes and suggestions, please tell to me. I will open my mind. Yup, I want to write English writing because I start to learn IELTS, especially writing, as one of my 2017 resolutions too. Well, I wait your opinion, mate!

Hmm, I think that’s all about my Sunday activity this morning. After this, I want to clean my house, sweep the floor, wash and iron the clothes, cook some foods (I wish my cooking as delicious as this writing, haha), watch travel television program, takziah to my friend’s house who just passed away, go to wedding reception with my students, and study TOEFL (especially listening). I wish I can handle it. And I wish your activity run well too. Have a nice weekend. Greeting from these lovely cloud!

Inilah Kehidupan

Inilah kehidupan

Dimana lika liku perjalanan

Naik turun pencapaian

Terpampang jelas di depan

 

Inilah kehidupan

Dimana kau akan melihat

Sandiwara dan tipu muslihat

Menjadi hal lumrah sebagai santapan

 

Inilah kehidupan

Dimana kau akan merasa

Yang baik bisa jadi lebih baik, yang buruk bahkan lebih buruk

Yang buruk seolah-olah baik, yang baik ternyata buruk

 

Inilah kehidupan

Ketika kau menginginkan satu hal

Maka ada sesuatu lagi yang datang menghampiri

Ketika kau ingin menepikan satu hal

Maka berkali-kali ia tak mau pergi

 

Inilah kehidupan

Bagai sajak yang tak habis dicerna

Sesulit ia berjalan, ia harus terus berjalan

Entah apa yang akan ia alami pada tahun mendatang

Yang ia tahu, ia akan selalu berjalan

Mencari sebaik-baiknya kehidupan dengan orang terbaik

Menjadi 26

Tulisan ini adalah hasil refleksi saya selama 26 tahun hidup di bumi, 2 Mei 2016 lalu…

 

Salah satu mentor saat saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemudaan di Jakarta, seorang wanita tangguh yang menginvestasikan dirinya untuk pengembangan kapasitas diri anak muda, Bunda Tatty Elmir, mengirimkan ucapan rasa syukurnya bagi saya yang telah berumur 26 tahun pada 2 Mei lalu di dinding Facebook:

 

                “HBD Bella, sehat ceria, penuh karya dan berbagi yang tak pernah alpa. Selamat merayakan tanggal juang Ibu hebat melahirkan anak yang tak kalah hebat. Titip peluk buat beliau. :))”

 

Ya, saya punya ibu hebat. Ibu yang tidak seperti ibu kebanyakan. Ibu saya adalah pribadi yang sederhana. Dimana saya dan adik-adik diajarkan untuk hidup hemat. Yang ikan sepotong bisa dibagi rata. Yang dari kehematannya itu, kami bisa menikmati kehidupan yang lebih baik saat ini. Ibu saya juga tidak haus akan kehidupan dunia. Saat ibu-ibu lain memiliki smartphone canggih atau berbelanja di mall, ibu saya; yang justru sebenarnya punya pundi-pundi untuk memiliki itu semua, malah tidak tertarik untuk berbelanja yang tidak penting.

 

Ibu saya juga orang yang terlalu memikirkan kehidupan anak dan saudaranya, di saat beliau sendiri bahkan kurang memperhatikan kesehatannya sendiri. Bahkan kadang menurut saya, ibu terlalu sensitif untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia bahkan bisa sedih seharian gara-gara adik nomor dua yang tidak membalas SMS atau menjawab telponnya. Ibu saya orang yang terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, beliau ingin membahagiakan keluarganya. :’))

 

Jadi, wajar saja saya yang selalu banyak salah ini, kadang sedih harus melihat mama; begitu saya dan adik-adik memanggilnya, saat beliau tidak enak hati. Ya, siapa sih yang bahagia melihat ibunya sedih? Akhir-akhir ini mama bahkan banyak member wejangan kepada saya untuk kehidupan masa depan. Well, you know what I mean about “future life” lah ya. Namun, kadang mama tidak menyadari bahwa anaknya juga berjuang dan tidak lelah berdoa, meski Allah SWT masih belum member kepastian. Disini kadang saya sedih belum memenuhi harapan mama yang spesial itu. Jujur, menjadi beban rasanya kalau keinginan orang yang kita sayangi belum terpenuhi. Namun apalah daya segala ketetapan Allah SWT belum memberikan tanda-tanda yang pasti.

 

Selain mama yang hebat, saya juga punya papa yang hebat. Papa yang pekerja keras, sekeras hati dan pikirannya seperti saya. Kerja kerasnya untuk membuat keluarga yang lebih baik menampakkan hasilnya. Tentu saja saya dan adik-adik termotivasi untuk melakukan hal serupa. Tidak ada kata ‘malas’ dalam kehidupan yang harus diperjuangkan. Jadi, kalau teman-teman melihat sifat keras saya (entah dalam bidang apapun, keras kepala, pekerja keras, atau suara keras, hehe…), itu justru menurun dari papa.

 

Papa juga pemimpin yang tegas. Ia sepertinya terlatih untuk tegas dan disiplin dalam bertindak. Ditambah lagi papa berkali-kali dipercaya memimpin institusi. Meski kadang papa juga pernah mengeluh, tapi ketegasan papa tidak pernah luntur. Kata mama, sifat tegas dank eras sepertinya sudah bawaan suku Komering Palembang, hehe… Pernah saya melihat papa berbicara dengan tegas kepada partner kerjanya. Bagi papa, tegas dalam memimpin itu harus, apalagi memimpin keluarga. Jangan lembek dan tidak punya pendirian. Untuk hal ini, saya setuju dengan ketegasan papa.

 

Last but not least, mama yang hebat dan papa yang hebat belum membentuk anak yang hebat. Saya merasa saya masih banyak kurang membahagiakan mereka. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa tidak begini, tidak begitu,seperti dulu yang mungkin mereka lihat saya aktif, saya bisa katakan ini kepada mereka:

 

“Sepertinya 26 tahun hidup ini, saya terlalu banyak menyusahkan orangtua. Selama 26 tahun ini terlalu banyak saya berada di luar pengawasan mama dan papa. Maksudnya saya sering pergi ke luar Jambi dan meninggalkan orang tua. S2? Di usia saat ini untuk mengambil S2, saya mengkhawatirkan usia. Harapannya nanti bisa belajar, entah itu untuk S2 atau short course, saat saya sudah menikah (doakan ya!). Semoga pendamping hidup saya nanti juga mengizinkan saya untuk terus belajar, jadi saya tetap bisa meraih impian saya. Oya di sisi lain jika saya mengambil S2, saya inginnya di luar Jambi, nah kalau lolos jadi pilihan sulit bagi saya. Masa harus keluar Jambi lagi? Masa harus meninggalkan orangtua lagi 2 tahun? Masa di rumah hanya mama, papa, dan adik bungsu saja? Jadi jawabannya, saya masih ingin berada di dekat mereka, ingin membahagiakan mereka sebelum saya atau salah satu dari mereka meninggal. Saya ingin berbakti kepada kedua orangtua dengan kemampuan yang saya miliki. Satu doa dari mama, yang juga menjadi capaian untuk membahagiakan mama dan papa, adalah menikah. Bukan ingin diburu-buru, tapi kata mama sudah waktunya, jangan terlalu terlena dengan cita-cita yang tidak akan ada habisnya. Doakan saya bisa membahagiakan mama dan papa, doakan saya agar harapan saya menikah sebelum umur 27 tahun terwujud, doakan saya agar mama dan papa masih sehat saat saya menikah nanti. Doakan saya semoga Allah SWT memberikan keputusan terbaik pada setiap keputusan yang saya ambil. Saya percaya, ridho Allh SWT juga ridho orangtua. Jadi, insyaAllah semua akan terlaksana pada saat yang tepat.” :”)

 

 

Nostalgia Negeri Lontar dari Pengajar Muda VI

 

“Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu.

            Rasanya semua, begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya,

            Janganlah berganti.”

 

Lagu Sahabat Kecil dari Ipang tersebut tampaknya mewakili perasaan saya dan teman-teman, alumni Pengajar Muda angkatan VI Kab. Rote Ndao, yang bertugas dalam kurun waktu 2013 – 2014 lalu. Kehidupan satu tahun itu kami laksanakan dengan ketulusan, yang membuat kami bahkan tidak rela untuk mengakhiri masa tugas. Harapannya kenangan itu tidak mati, namun ia selalu terpatri di dalam hati.

 

Nusa Lote Nusa Malole. Pulau Rote pulau yang baik. Ya, pertama kali menginjakkan kaki di tanah nusa lontar itu kami disambut dengan penuh kejutan oleh Pengajar Muda angkatan IV yang sebelumnya telah bertugas disana. Dihadiahi sirih pinang, satu persatu kami harus memakan dan mengunyahnya hingga lidah berwarna orange kemerahan. Belum cukup dengan kakak-kakak alumni itu, di desa kami juga disambut dengan baik. Jadi, benar adanya jika Rote adalah pulau yang baik bukan?

 

Kami percaya bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia, termasuk kolaborasi antara Pengajar Muda lintas generasi, sekolah, orangtua, siswa, masyarakat, dan pemerintah. Dalam setiap kesempatan, kami bekerja sama dengan banyak orang yang mendukung terciptanya kerumunan positif di Rote. Kami bersyukur atas kolaborasi apik dengan berbagai stakeholder utuk menyelesaikan kegiatan selama satu tahun.

 

Kolaborasi pertama kami laksanakan bersama pegiat Komunitas Anak Muda Untuk Rote Ndao (KAMU Rote Ndao). Mengambil momen peringatan Hari Pahlawan pada tahun 2014, ikhtiar untuk mencerdaskan dan memotivasi remaja Rote Ndao terwujud melalui Kemah Pemuda Rote I. Kak Sherwin, Kak Maks, Kak Adi, Kak Petson, dan kakak-kakak lainnya tampil all out mengajak remaja di daerahnya untuk berpartisipasi. Berita baiknya, Kemah Pemuda Rote I tersebut berlanjut pada sesi yang lebih berwarna pada tahun berikutnya.

 

Pemuda dan remaja yang terlibat dalam Kemah Pemuda Rote (KPR)  merasakan banyak manfaat untuk diri mereka. Alih-alih kebermanfaatan untuk diri, mereka justru mendapatkan tujuan hidup yang dapat berguna dalam memajukan Rote Ndao. Mengapa? Menurut Sherly, ketua angkatan KPR I, ia bertemu dengan remaja SMA yang juga memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan potensi diri, ia juga lebih mengetahui apa yang akan ia lakukan di masa depan. Tidak hanya itu, remaja yang kini menjadi mahasiswi Universitas Cendana tersebut banyak membangun relasi dengan pemuda se-Indonesia saat ia mengikuti Indonesia Youth Partnership di Bogor.

 

Di bidang pengembangan profesi pendidik, Pengajar Muda angkatan VI juga pernah melaksanakan kegiatan Kelompok Kinerja Guru (KKG) dan Pelatihan Guru Sekolah Minggu (PGSM). KKG dilaksanakan di semua sekolah penempatan PM se-kabupaten Rote Ndao. Pelatihan ini mengajak para guru untuk aktif menggunakan media pembelajaran yang telah ada di sekolah maupun menciptakan media pembelajaran kreatif. Selain itu, untuk kegiatan sekolah non formal yaitu Sekolah Minggu, Pengajar Muda bekerjasama dengan Toko Buku Ebenhazer di Ba’a mengadakan PGSM. Pelatihan ini diikuti oleh tenaga pengajar Sekolah Minggu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa.

 

Tidak hanya menyasar kegiatan di bidang kepemudaan dan pendidikan, Pengajar Muda angkatan VI juga sempat mengadakan pelatihan memasak di Rote Barat. Sekitar 50-an ibu-ibu dan juga bapak-bapak ikut serta dalam pembuatan beragam masakan nusantara. Dikarenakan daerah tersebut jarang mendapat aliran listrik, Pengajar Muda pun berinisiatif untuk memberikan pelatihan memasak yang bahan bakunya adalah ikan dan rumput laut. Ikan tersebut diolah menjadi abon, pempek, dan kerupuk, sedangkan rumput laut dibuat menjadi agar-agar. Selain pelatihan untuk orangtua, kami juga mengajak anak-anak dan remaja belajar sambil bermain.

 

Yang membuat kami kagum pada Rote Ndao adalah semangat anak-anaknya untuk berprestasi. Dari awal kami sudah diharuskan untuk tidak berekspektasi tinggi terhadap tanah yang akan kami hidupi selama satu tahun. Namun setelah kami berada disana, justru ekspektasi kami melesat tinggi. Mengapa? Karena salah satu siswa dari Pengajar Muda, Icce Nopianti, berhasil menjadi peserta Konferensi Penulis Cilik Indonesia di Jakarta. Anak perempuan itu adalah Nofi Ndun, siswa SDN Daepapan, Rote Selatan, yang menjadi satu-saunya perwakilan Nusa Tenggara Timur di nasional.

 

Selain siswa SD di tempat Pengajar Muda mengajar, siswa SMA di Rote Ndao juga difasilitasi oleh Pengajar Muda untuk mengikuti seleksi beasiswa kuliah gratis di Universitas Pelita Harapan. Dengan bantuan koneksi dari Pengajar Muda angkatan IV, Kak Kristia, kami pun mencoba membuka motivasi dan harapan remaja SMA tingkat akhir di setiap kecamatan untuk melanjutkan kuliah. Setelah melewati beragam seleksi, belasan siswa SMA se-Rote Ndao meraih impian mereka untuk kuliah di universitas swasta bergengsi tersebut. Keberlanjutan ini pun masih dirasakan setelah dua tahun berlalu. Setiap tahunnya selalu ada siswa Rote Ndao yang menikmati pendidikan gratis itu hingga saat ini.

IMG_0013

Keberlanjutan seperti ini bukan kami rasakan serta merta tanpa ada andil kakak-kakak kami sebelumnya. Justru apa yang terlaksana pada tahun kami merupakan jerih payah Pengajar Muda angkatan II dan IV sebelumnya. Tentu di sisi lain ada kolaborasi baik dari berbagai stakeholder yang mendukung terciptanya kerjasama yang positif dan berdampak. Di akhir penempatan Pengajar Muda angkatan X ini, kami yakin Rote Ndao akan melesat jauh, terbang tinggi dengan kualitas generasi terbaiknya. Kelak kami akan kembali, bernostalgia dengan pelaku pendidikan terbaik Rote Ndao.

 

Belajar Kehidupan dari Akas Usman: Catatan Kenangan dari Cucu Pertamamu

“Kas, payungnyo bagus, beliin payung ini, kas,” rengekku kepada akas saat melewati took di seputaran pasar suatu hari.
Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, akas berkata, “Kita balik dulu, Bella.”


Saya masih mengingat momen itu hingga sekarang, meski dialog percakapannya tidak sama persis. Namun, isi dialognya kira-kira seperti itu. Begitu banyak kenangan masa kecil bersama almarhum akas saya, H. Usman, yang tersimpan di memori jangka panjang saya. Tulisan ini setidaknya mencoba merangkum ingatan yang bisa jadi suatu hari terlupakan. Dan tentu saja, tulisan ini jadi pelipur hati kami, anak dan cucunya yang ditinggalkan, yang masih menghirup oksigen gratis pemberian dari Allah Swt.

Akas Usman yang merupakan ayah dari mama saya, adalah kakek yang banyak berinteraksi dengan saya. Seharusnya saya juga berinteraksi dengan akas dari pihak papa, tapi ayah papa tersebut bahkan saya tidak sempat bertemu sejak saya kecil, karena akas Mahmud sudah meninggal sejak papa masih remaja. Alhasil, saya lebih banyak didampingi oleh akas Usman, yang seminggu lalu telah meninggalkan saya pula ke pangkuan Sang Maha Kuasa.

Akas Usman adalah sosok panutan terbaik. Saya belajar banyak dari almarhum. Ketegasan, kebermanfaatan hidup, kedermawanan, kasih sayang, pola pikir, komunikasi, dan kepemimpinan. Salah satu contoh kebermanfaatan hidup dan kedermawanan yang diceritakan oleh mama adalah beliau sering memberi makan dan minum kepada orang yang sering lewat di depan rumah akas (rumah akas terletak di tepi jalan besar di Kertapati). Ini juga dilakukan almarhum kepada keluarganya, termasuk saya.

Jika teman-teman melihat sebuah lemari kayu tua di rumah almarhum akas di Palembang (beberapa mungkin yang membaca pernah berkunjung ke rumah akas di Palembang), akan terlihat tempelan es krim terkenal disana. Itu tidak lain karena saya suka minta dibelikan es krim 😀 Kebetulan saat itu hadiah stiker gratis diberikan saat pembelian es krim. Lantas penuhlah sisi lemari dengan stiker tersebut. Siapa yang membelikan es krim itu? Akas.

Selain es krim, tekwan, es jeruk, dan bakso yang kerap saya sambangi tokonya juga karena kemurah hatian almarhum akas. Bahkan saat pertama kali saya dimasukkan ke lembaga kursus bahasa Inggris di depan rumah akas, itu juga karena andil beliau. Dulu, ketika saya di daerah terpencil Nipah Panjang pada tahun 1990-an, buku-buku berkualitas pun dikirimkan akas dari Palembang (selain dikirimkan oleh bik Inab, adik papa di Bandung saat itu). Kasih sayangnya kepada saya tak terbatas :’)

Beranjak remaja, akas mulai memberi tahu tentang cita-cita dan masa depan. Mama kemarin cerita kalau akas ingin anak-anaknya bisa mengemban pendidikan tinggi meski ekonomi saat itu tidak memungkinkan, kalau bisa hingga ke luar negeri. Akas juga memberikan cakrawala luas terhadap ilmu pengetahuan, mengenal sepakbola Indonesia, daerah-daerahnya yang indah, dan hal lain yang menambah wawasan. Dua poin tersebut menjadi ikhwal perkembangan diri saya saat menjadi mahasiswa, ingin melihat Indonesia lebih luas, ingin menambah wawasan ilmu pengetahuan, dan ingin ke luar negeri.

Semua pencapaian saya saat jadi mahasiswa tak luput untuk diberitahukan kepada akas. Bahagia rasanya jika memberikan kabar baik kepada akas tentang cucunya satu ini. Akas seperti biasa selalu tersenyum dan memberikan petuah kepada saya. Hingga di akhir kalimatnya, akas pernah bilang, “Akas bangga!,” sambil mengepalkan tangan kanannya dan menyilangkannya di dada. Di sisi lain ia juga mewanti-wanti saya untuk tidak sombong dan rendah hati.

Suatu hari, saya pernah menceritakan saya ingin ke Papua Barat, mengabdi disana dalam beberapa tahun lewat sebuah perusahaan migas. Akas tidak langsung mematahkan semangat saya karena ia tahu saya sangat ingin ke daerah timur yang pelosok. Saya tahu saat itu akas sebenarnya tidak mengizinkan saya dan member tahu orangtua saya bahwa ia khawatir jika cucu perempuannya yang pertama ini jauh dari orangtua, di sebuah daerah yang butuh pengawasan lebih oleh penjaga keamanan. Akhirnya saya membatalkan, meski di dalam hati pengen banget kesana.

Pengalaman cita-cita ini pun juga berhubungan dengan harapan akas kepada anak-anaknya untuk melihat negara luar. Ini bisa jadi karena akas dulu pernah berinteraksi dengan orang luar negeri yang bekerja satu tempat dengannya (akas dulu dipercaya menjadi seorang mantri meski beliau bukan lulusan kesehatan, hingga akhirnya meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih menjadi pengusaha bahan bangunan). Saya berulang kali meminta doa akas untuk mengikuti seleksi ke luar negeri, berulang kali pula saya belum diizinkan oleh Allah Swt.

Akhirnya 2015 lalu impian tersebut dikabulkan. Saya menjelaskan ke telinga akas dengan suara agak kencang (pendengaran akas sudah agak berkurang) pada Agustus 2015 bahwa saya akan berangkat ke Amerika Serikat September 2015. Meski responnya tidak aktif seperti dulu lagi, saya bisa merasakan nada haru pada kata “Oh…” yang dilontarkan akas, sambil mengusap mata. Pada akhir hayat almarhum pula, akas masih mengenakan kaos dari Washington, DC, oleh-oleh dari saya (kaos itu dipakai sejak dua minggu yang lalu saat saya mau pulang dari Palembang ke Jambi, dan tidak dilepas hingga ajal menjemput akas).

Namun tak jarang akas juga mengkritik saya. Salah satunya saat saya sering dilihatnya berjalan agak bungkuk. Berulang kali akas mengingatkan saya untuk tidak seperti itu, dan bahkan beliau mencontohkan cara jalan yang tegap. Seketika kalo mengingat akas mempraktekkan cara berjalan itu di hadapan saya, maka saya suka senyum sendiri. Kenapa? Karena posisi tubuh akas yang tegap dan cara penyampaiannya yang lucu akhirnya membuat saya malu sendiri, hehe. Hingga kini saya berusaha untuk tidak jalan bungkuk lho. That’s because of him.

Bagi saya yang masih banyak dosa ini, saya banyak belajar arti hijrah dan penerapan agama Islam dari beliau. Saya selalu ingat bagaimana akas selalu siap mengambil wudhu dan duduk membaca dzikir sebelum adzan Maghrib berkumandang. Akas juga selalu mengajak anak dan cucunya sholat berjamaah. Akas yang juga diiringi oleh ombai Ada, selalu menjadi contoh penerapan agama Islam yang baik. Tidak cukup sholat 5 waktu, sholat tahajud kerap saya saksikan saat saya tidak sadar bangun tengah malam ingin ke toilet. Akas selalu bangun di sepertiga malam untuk mencari lapis-lapis keberkahan dari Allah Swt. Satu hal yang saya sedihkan sejak akas sakit dan terbaring di kamar saja, akas sering lupa sholat. Saya kadang tidak tega saat mama atau keluarga mama lainnya mengingatkan akas untuk sholat, dan akas terlihat sangat menyesal kenapa ia lupa waktu sholat. Semoga Allah Swt memberikan keringanan atas penyakit ini ya.

Soal kepemimpinan dan komunikasi, saya melihat ini dilakukan akas sangat baik. Akas tidak sungkan untuk mengobrol dengan anak-anaknya. Kata mama, akas suka memberi pengarahan tentang kehidupan kepada anak-anaknya. Akas juga tidak pernah mendikte harus seperti ini ataupun itu, yang jelas beliau akan memastikan anak-anaknya terhimpun pembelajaran agama dengan baik. Akas juga tidak membeda-bedakan kelima anaknya, termasuk saya cucu pertamanya. Namun jika terbukti kami salah, akas tidak akan segan-segan menegur.

Oya, akas dulu juga sering mengajak saya bertemu dengan temannya sesama pengusaha di dekat rumah maupun yang jauh. Saya ingat banget lho saat saat akas mengajak saya bertemu temannya itu. Diam-diam sejak kecil saya telah mencuri pembelajaran berharga dari akas, hingga saya memiliki kepribadian seperti sekarang. Diam-diam akan menularkan semangat itu sejak dulu. Negosiasi akas kepada teman-temannya dan bagaimana ia menjalin silaturahmi dengan baik membuat saya juga mengamini itu untuk kehidupan saya.

Subhanallah, umur akas yang kurang lebih 82 tahun ditutup pada pukul 21.30 tujuh hari yang lalu di kamarnya di Palembang. Akas menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang kurang lebih 1,5 tahun terbaring. Akas mengucapkan nama Allah saat sekujur tubuhnya dingin dan berwarna kuning, sesaat setelah mama saya di Jambi, bik Dewi di Cilegon, papa Mulkan di Bogor menelepon akas dan handhone diletakkan di telinga akas, juga bik Ana, Matiar, dan keluarga besar lainnya mendampingi ia menghadapi sakratul maut tepat di sisinya.

Empat belas hari yang lalu saya begitu haru menyenandungkan Lilin-lilin Kecil yang ternyata salah satu lagu lawas yang disukai akas (kata bik Dewi). Tujuh hari yang lalu saya berusaha untuk tidak histeris, karena saya tahu akas pasti akan sangat kesal jika kami meraung histeris karena kepergiannya. Saya saat ini berusaha untuk tidak meneteskan air mata karena begitu banyak kenangan manis yang sulit dihapuskan, meski akas sudah dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Begitu banyak pembelajaran hidup yang saya peroleh dari akas. Saya bahkan bisa bilang, beliau salah satu yang membentuk kepribadian saya hingga menjadi Bella Moulina saat ini. :’)

Teman-teman, mohon doanya untuk akas, mohon dikirimkan Al Fatihah atau Surat Yasin kepada almarhum. Mohon doanya agar akas ditempatkan di tempat terbaik di surge Allah Swt bersama para syuhada, semoga akas diberi tempat peristirahatan terakhir yang terang, luas, dan indah. Semoga pula amal ibadah akas selama di dunia menjadi timbangan berat untuk akas menuju surganya, juga mungkin kekhilafan akas dihapuskan olehNya. Amin.

20160123_200628

Ayo tebak, umur berapakah saya saat duduk di pangkuan akas ini? 🙂

We do love you, akas. InsyaAllah kita akan bertemu di surge jannah Allah Swt ya, akas Usman. :’)

Irama Musik Pagi Hari

IMG-20150913-WA0032

Mendengar alunan musik Sungai Detroit di Detroit, Michigan, USA, sembari menatap Kanada di depan saya.

Dua hari ini saya libur (yaayy!). Dua hari ini pula saya punya banyak waktu istirahat di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Dua hari ini rasanya begitu damai, tidak melakukan aktivitas sehari-hari di tempat kerja dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Dua hari ini pula energi saya kembali, setelah runtutan kehidupan yang dipastikan selalu sama untuk dilewati.

Pagi ini saya terbangun. Mendengar kicauan burung bersuara merdu. Saya langsung meraih laptop ini untuk menulis, sembari mendengar lagu Tak Perlu Kelilling Dunia. Saya meraih es teh sis tadi malam. Masih segar untuk menyambut hari libur kedua ini. Ngomong-ngomong soal irama musik pagi hari, saya jadi terkenang akan suara-suara merdu nan menarik yang saya dengar di beberapa tempat.

Pertama dan yang utama adalah di rumah saya di Jambi. Kicauan burung di sekitar rumah yang sudah sedikit pohonnya tentu menjadi pendengaran langka. Tapi berkali-kali saya mendengarnya, meski tidak terlalu lama ia berkicau. Ketika mendengar kicauan ini, saya terdiam dan memejamkan mata. Akankah hari esok saya masih diberi kesempatan untuk mendengarnya?

Irama musik pagi hari kedua saya dengar saat di Rote dulu. Kali ini irama musiknya lebih komplit. Tak hanya bunyi burung saja, namun juga hewan-hewan lainnya. Ditambah lagi kadang pada pagi hari lagu-lagu beat pop dan lagu daerah Timur turut hadir berdendang. Semuanya bersahut-sahutan, memanggil kami yang masih terlelap dalam buaian. Kadang ibu angkat saya, Ibu Femi, sempat merisaukan musik yang diputar teramat kencang, saya juga ikut-ikutan mengeluh, namun akhirnya malah jadi bernyanyi bersama haha.. Oya irama musik di Rote juga terdengar indah jika kita berdiri di tepi pantai. Debur ombak di laut memecah kesunyian, membuat saya rindu akan hal itu.

Lain halnya di rumah keluarga mama dan papa di Palembang. Suara musik yang berasal dari lalu lalangnya kendaraan mendominasi, khususnya jika di rumah keluarga mama di Kertapati (karena rumah akas dan ombai terletak di pinggir jalan). Dulu kata orangtua saya, anaknya ini hobi banget bikin orang jantungan, mendadak sudah berdiri di tepi jalan yang tepat berada di depan rumah akas 😀

Selain di kota, rumah keluarga papa berada di dusun kecil, dusun yang kata orang Komering “Alangkah kerasnyo nian wong yang tinggal disano.” Campang Tiga menjadi daerah dengan irama musik kedua di Palembang. Saya masih ingat dulu ketika bermain di sungai depan rumah almarhumah ombai, sorak sorai hewan dan aliran sungai berbaur menjadi satu. Bersama sepupu kami bisa berjam-jam disana.

Well, diantara sekian provinsi dan kota yang saya jelajahi saat menjadi mahasiswa, irama musik pagi hari di Dieng adalah favorit saya. Tidak hanya mendengar kicauan burung dan hewan lain, tapi juga hembusan nafas yang terlihat seperti asap menjadi irama unik. Bahkan beberapa kali menghembuskan nafas hanya untuk mendengar dinginnya udara yang terlontar membentuk asap. Ditambah lagi awan-awan cantik Dieng yang membuat kita pengen kembali lagi kesana (ya, saya pengen banget kesana lagi!). Tiba-tiba duo sunrise pun muncul, golden dan silver. Makin mempesona!

Terakhir, irama musik yang tak akan saya lupakan pula, ketika saya berada di Detroit, Michigan, USA, September lalu. Pagi itu, saya keluar hotel bersama peserta IVLP. Tak dinyana, udara pagi yang demikian segar itu mengharuskan saya memakai sarung tangan dan jaket. Yup, udara dingin melanda! Namun saya memaksakan tubuh untuk menikmati udara pagi hari. Saya berjalan menuju Detroit River di belakang kantor General Motors, menyusuri sungai dan menatap Kanada dari negeri seberang ini. Disini saya mendengar irama musik pagi hari yang berbeda dengan negara saya, riuhnya suara para bule, deburan air sungai yang jernih, dan tertibnya lalu lintas.

Layaknya manusia, ia justru butuh untuk berkicau. Dan itu, alangkah lebih tepatnya jika ia berkicau hanya kepada Sang Maha Besar, Allah Azza Wajalla. Saya menganalogikan kicauan ini sama seperti musik pagi hari yang saya dengar di beberapa tempat di atas. Kicauan manusia itu seperti musik. Iramanya kadang rendah, dan tak jarang tinggi. Saya memang jarang menikmati pagi hari yang tidak tergesa-gesa, tapi saya tentu tak akan melewatkan momen kicauan saya bersama Allah Swt setiap harinya. Ayo jangan kalah dengan irama musik pagi hari ini ya!

Cerita Dibalik Perjalanan ke Amerika #1

New Journey Will Come
Saya mengemasi barang-barang di koper dan tas ransel. Saya memastikan tak ada satupun barang yang tertinggal. Pakaian, makanan, peralatan mandi dan berhias, peralatan sholat, oleh-oleh, dan makanan, semuanya ‘dipaksakan’ masuk ke dalam koper yang kupinjam dari papa. Sambil melirik pemintai waktu di arloji yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, saya merasakan waktu berjalan lambat. Tak sabar ingin memulai perjalanan baru dalam hidup saya, sesuatu yang telah lama ditunggu.

 

Dikepung Asap
Pagi itu saya merasakan semangat yang mengalir dalam nadi melesat hingga 100%. Bangun pagi tak pernah semenarik ini, pikir saya. Semangat pagi yang saya rasakan dipompa oleh impian yang perlahan-lahan semakin mendekat. Pagi itu saya menyiapkan diri untuk memulai petualangan baru. Saya mengecek kembali perlengkapan yang akan dibawa. Tak lupa pula mengingatkan orangtua untuk mengantarkan saya ke bandara pukul 09.30 WIB.
Pesawat ternama di Indonesia itu akan mengantarkan saya ke provinsi dengan magis yang kuat. hedonisme Jakarta menanti saya pada hari itu juga. Jadwal penerbangan dengan maskapai yang tergabung dalam Sky Team itu diprediksikan akan berangkat dari Jambi pukul 11.00. Itu artinya saya sudah harus berada di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Tiket itu saya simpan di bagian belakang ransel, karena akan sangat mudah diambil ketika dibutuhkan.
Saya mengedarkan pandangan ke luar jendela kamar dan teras samping rumah, yang keduanya terletak pada lantai dua. Hati ini risau. Hati ini bimbang. Mungkinkah Allah Swt menundanya lagi kali ini? Mungkinkah Allah Swt sebenarnya tidak merestui saya ke negara super power itu? Mungkinkah kali ini saya harus merelakan lagi? Akankah saya harus mengubur impian itu kembali? Seribu prasangka berkecamuk dalam pikiran saya. Seiring itu pula, status update dari beberapa teman di BBM seolah-olah melumpuhkan harapan, “Asap tebal di Jambi membuat banyak penerbangan dibatalkan.”

 

Keputusan Dalam Situasi Tersulit
Dari 10 skala kepemimpinan yang saya ketahui saat menjadi bagian dari Pengajar Muda, salah satunya ialah decision making yang membuat saya harus belajar lebih banyak. Belajar mengaplikasikan pengambilan keputusan. Ya, siapapun pasti tak ingin di-php-in, terluntang-lantung di bandara tanpa kepastian. Berharap pesawat akan mendarat pukul 11.00, dan membawa saya beserta penumpang lainnya ke Soekarno-Hatta. Namun harapan itu sirna seketika setelah 4 jam menunggu, sebuah pengumuman diberitakan, “Garuda membatalkan penerbangan siang dan sore.”
Dengan handphone di tangan, secepat kilat saya menghubungi beberapa teman-teman di kontak BBM, yang saya pikir tahu jadwal keberangkatan mobil travel ke Palembang. Ya, saya memutuskan ke Palembang! Awalnya saya masih berharap Garuda Indonesia akan mendarat pada sore hari di Jambi, namun dikarenakan pengumuman itu, saya semakin tidak yakin pesawat sekelas Garuda akan mendarat di Jambi pada malam hari. BBM saya banyak dibalas teman-teman, namun kebanyakan menginformasikan mobil travel yang penumpangnya telah penuh ketika papa menghubugi terlebih dahulu.
Saya duduk di kursi tunggu penumpang sambil tetap fokus pada keajaiban orang-orang yang mungkin menginformasikan saya mobil travel yang masih bisa dipesan untuk berangkat pukul 19.00. Tiba-tiba saya melihat BBM seorang teman, Windy, yang menginformasikan travel di dekat Simpang Kawat berikut dengan kontaknya. Secepat mungkin saya menghubungi nomor tersebut, dan betapa bahagianya saya saat orang di seberang telepon mengatakan bahwa kursi masih ada!
Situasi sulit itu hampir saja membuat saya melelehkan air mata. Meski mata sudah berkaca-kaca dan menatap ke langit-langit bandara, pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam. Kerasnya perjuangan meraih mimpi mengeraskan tekad saya untuk tetap berdiri meski diterpa badai. Saya melayang pada perjuangan itu.
Saya bahkan sempat berpikir, kenapa Allah Swt memberikan cobaan sesulit ini untuk keluar dari Jambi? Kenapa asap harus datang pada awal September di saat saya mau berangkat? Kenapa saya harus capek-capek berangkat ke Palembang naik travel selama 6 jam untuk menjangkau Jakarta? Badan ini sudah letih, ya Allah.. Pikiran saya sudah capek sekali. Hingga akhirnya seorang penumpang menyadarkan lamunan saya sembari bertanya nomor telepon mobil travel yang baru saja saya telpon.

 

Right or Wrong Decision?
Saya bersyukur di saat saya sedang down karena batal berangkat dari Jambi, Allah Swt memberikan pertolongan lewat teman saya, Dhanny. Pria keturunan Tionghoa ini menawarkan bantuan kepada saya untuk mencari mobil travel ke Palembang. Letak rumahnya yang dekat di bandara dan waktu pulang kerja yang sudah seharusnya membuat saya tak bisa menolak bantuannya.
Awalnya saya sungkan merepoti orang lain, tapi karena satu koper dan satu ransel yang saya bawa tak mungkin dibawa dengan motor, maka Dhanny adalah penyelamat saya waktu itu. Sedangkan orang tua sudah di rumah dan letak antara rumah dan bandara yang jauh, tidak mungkin saya meminta orangtua kembali ke bandara. Meski begitu, saya bertemu dengan papa di loket keberangkatan travel, ia membawakan botol minuman dan obat-obatan dari mama.
Palembang adalah satu-satunya jawaban untuk memutus rantai kesulitan hari itu. Akhirnya setelah diantar Dhanny ke loket, berangkatlah saya menuju Palembang. Di tengah jalan saya bahkan berharap keajaiban, kalau saja pesawat mendarat di Jambi malam itu, saya akan membatalkan keberangkatan menuju Palembang, dan mengubah jadwal penerbangan lagi dari Jambi ke Jakarta pada waktu Subuh. Saya membuang pikiran itu jauh-jauh. Pikir saya itu adalah hal yang mustahil karena asap masih mengepung Jambi.
Guess what? Ternyata penerbangan dari Jakarta ke Jambi malam itu mendarat! Saya yang baru tahu informasi tersebut setelah 30 menit perjalanan langsung lemas. Saya tidak mungkin meminta berhenti mobil, apalagi membatalkan perjalanan sedangkan mobil sudah berjalan. Saya hanya menghela napas panjang. Mungkin Allah Swt sedang menguji saya melalui keputusan yang saya ambil. Tak ada definisi mutlak salah dan benar dalam hal ini, jadi saya pikir, “I have to enjoy my life.”

 

Akhirnya Meninggalkan Sumatera
Tiba tengah malam di Palembang bukan perkara mudah, apalagi saat itu jam tangan menunjukkan pukul 02.00. Saya harus waspada, pikir saya. Bagaimana tidak, ada seorang perempuan satu-satunya di mobil travel, yang diantar paling akhir dan rumah keluarganya agak jauh dari pusat kota. Kadang kalo ingat ini, saya nggak habis pikir sama diri sendiri, terlalu berani atau terlalu penakut ya? Hehe..
Tiba di rumah ombai dan akas adalah kebahagiaan pada tengah malam itu. Saya langsung bergegas mengangkut ransel dan koper menuju pekarangan rumah. Matiar, oom saya, membukakan pintu toko bagian bawah. Melihat ombai yang terbaring di sisi adik sepupu perempuan saya, bergegas saya menyalami tangan beliau. Saya melihat akas yang berada di kamar sebelah, akas sudah tertidur pulas. Biarlah esok pagi saya bercengkrama dengan akas, batinku.
Pagi hari, seisi rumah akas melontarkan banyak pertanyaan dan kesalutan yang tak biasa yang dilakukan oleh cucu pertama dari keluarga ibu saya. Perjalanan yang harus dilakukan sebelum malam nanti berangkat ke Amerika, hingga cuaca di Jambi yang tidak memungkinkan saya untuk berangkat, saya ceritakan semuanya. Akas, yang sudah sepuh, meski sudah saya jelaskan berulang kali kenapa harus ke Amerika, tetap bertanya. Maklum, akas saat ini tidak memiliki pendengaran yang baik, jadi saya harus berulang kali menjelaskan jawaban yang sama.
Setelah berjam-jam mengobrol dengan akas, ombai, oom, tante, dan adik sepupu, akhirnya saya harus berangkat dari rumah khas Palembang itu. Diantar oleh sepupu oom saya, satu mobil penuh dengan keluarga oom dan adik sepupu yang mengantar. Mau meleleh rasanya air mata melihat perjuangan orang-orang di sekitar saya yang membantu saya hari itu. Mungkin kalau tidak ada saudara di Palembang, mungkin saya sudah tidur di pelataran bandara tengah malam itu.
Pesawat pun menerbangkan saya ke Bandara Soekarno Hatta pukul 11.00. Saya tak henti berdoa dan bersyukur karena telah diselamatkan oleh orang-orang baik di sekitar saya. Jika tanpa seizin Allah Swt, pertolongan itu tidak akan menghampiri saya. Burung besi yang masuk dalam jajaran maskapai penerbangan terbaik se-dunia itu membawa saya meninggalkan tanah Sumatera, memberangkatkan saya ke Tangerang bertemu dengan peserta International Visitor Leadership Program lainnya. (bersambung)

happy faces

Bersama keluarga di Jambi, sebelum berangkat ke Jakarta (yang pada akhirnya berangkat dari Palembang)