Retak Bersama Angin
18 May 2012 Leave a Comment
in Curhat
Kusangka tak pernah terjadi
Perihnya hati yang tertusuk
Pada diriku yang
Mencintai dirimu selalu
Menyayangimu sepenuh hati
Dan kini kau pergi
Reff#
Sendiri menaatap bintang di langit
Tak ada teman yang menemani
Dan kau pun tak pernah peduli
Sendiri dalam gerimis dan hujan
Telanjang menggigil menantimu
Berharap kaupun menemani
Seperti dulu lagi..
Meskipun kini kau tlah pergi
Meninggalkan kusendiri
Tapi masih kuharap
Masih ada yang sudi menemani
Diriku yang tak terkendali
Menanti dirimu
Lirik lagu Sendiri dari Tere menemani saya malam ini. Meski sedikit meneteskan air mata ketika mendengarkan lagu ini, mau tidak mau ya berusaha menikmati sensasi musik Tere tersebut. Entah mengapa saya pengin banget denger lagu Tere itu di kala perasaan tercabik-cabik saat ini. Sebuah perasaan yang saya rasa agak dipermainkan, atau entahlah apa namanya itu. Saya harap tulisan ini bukan tulisan cengeng, meski yang nulis cengengnya minta ampun
Lagu di atas bikin saya flashback beberapa saat. Mengingat kejadian tanggal 15 April kemarin. Ini mungkin beberapa hal yang saya rasakan dan belum sempat saya katakan kepadanya, namun biarlah ia tidak perlu tahu. Ini juga bukan hal penting untuk dirinya ketahui. Cukup kalian yang membaca saja yang mengetahuinya. Tentunya hanya kepada Allah Swt saya titipkan perasaan ini, Dia tahu yang terbaik untuk hambaNya yang rapuh ini :’)
Jadi..minggu itu, 15 April, foto dp di bbm saya sama dengan Lova, teman sesama pegiat tur Jambi Punyo Crito. Dan yahhhh..siapa sangka foto dp saya tersebut dipake juga di dp bbm Lova dan dilihatnya. Siapa kira bakal ada kejadian orang yang tidak sengaja mengingat saya dan dekat dengan saya beberapa hari terakhir? Siapa coba yang bisa mengira hal itu bakal terjadi? Kalau tahu akhirnya seperti ini, mungkin saya nggak akan pasang dp itu di bbm kali ya, jadi Lova gak ikut-ikutan pasang di dp bbm-nya juga?!
Jadi dia mulai mengingat saya kembali, entah seberapa lama ia mengenal saya, yang pasti ia mengatakan mengenal saya sudah sejak lama, sejak masih di bangku kuliah dulu, sejak sama-sama menjadi pengurus di dua lembaga berbeda. Ketika itulah, ada perasaan yang diutarakan, dan saya mengatakan sebisa saya, yang tidak mungkin saya mengecewakan orang lain, yang menjatuhkan harapan orang lain kepada saya. Saya bilang pada diri sendiri, saya akan mencoba membuka hati ini, meski bukan untuk pacaran. Dengan yakin, ada komitmen juga yang sempat diutarakan, tapi bukan saya yang mengatakannya! Bukaaaannnnnnnnn!
Lalu sebuah kalimat-kalimat pengharapan saya dengar dan baca. Saya pahami bahwa itu bukan kata-kata manis yang keluar dari cowok liar yang tidak bisa memegang janjinya. Saya pahami ini bukanlah sebuah permainan drama dari teater musikal nan apik. Saya yakin bahwa ia serius, dan saya mencoba serius. Saya cukup bahagia dengan manisnya kalimat yang dilantunkan tersebut, meski dengan perasaan bingung, saya kerap bertanya, kenapa begitu cepat? Sekali lagi, itu bukan saya yang mengucapkannya. Saya hanya mendengar dan tersenyum, dan berterima kasih padanya.
Dengan latar belakang pengalaman hidupnya, saya tentu tidak mungkin berprasangka buruk bukan? Saya yakin ia mengatakannya secara serius dan bukanlah tipe cowok yang seenaknya mengumbar kalimat romantis dan kalimat pengharapan. Saya yakin bahwa ini tidak main-main. Saya pun membuka hati, membuka kepercayaan bagi orang yang saya yakini bisa membawa saya lebih baik dari saat ini. Tidak mungkin ia yang dulu memiliki latar belakang Islam yang kuat akan mempermainkan saya. Kemudian pengandaian pun berlanjut, atau itu tadi hanya mimpi yang dininabobokkan kepada saya? Ah entahlah. Yang jelas meski komunikasi tidak selalu hidup disampingnya, saya merasa nyaman. Bukan sebagai pacar untuknya, tetapi sebagai seseorang yang selalu mendukung kegiatan sehari-harinya. Itu lebih dari cukup bagi saya, dan mungkin juga untuknya.
Namun kondisi berbalik 360 derajat hari ini. Hari dimana ia merayakan hari lahirnya dan hari bahagianya. Sebuah pesan yang meyiratkan bahwa ia lebih ingin menaati apa yang Allah Swt perintahkan kepada hambaNya adalah hal terbaik yang akan dilakukan saat ini. Bahwa ia meminta kami berteman saja. Dalam hati saya berkata, bukannya selama ini kami berteman? Tetapi kenapa kata penekanan yang ia utarakan adalah “kedepannya kita berteman aja ya Bella” itu tampak seperti berbeda dengan kalimat-kalimat yang dulu pernah diutarakan? Kenapa mendadak berbeda dan berganti makna? Lalu menjalin komunikasi itu, jadi selama ini saya hanya diibaratkan sebagai penjalin komunikasi orang yang sudah lama tidak terlihat? Begitukah? Kemudian ada pula, “semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk kita.” Kalimat itu seakan berarti bahwa (saya dan dia) masing-masing akan menemukan jodohnya sendiri-sendiri. Tidakkah ia menyadari bahwa ia pernah mengucapkannya dulu?
Apa itu khilaf? Apa itu kebahagiaan semu dan semata-mata hanya terlintas pada saat itu? Jadi kan selama ini saya itu hanya sebaaaaaggggaaaaaiiiiiiiiiiii??? Oh Tuhan..sang pemilik jagad raya bumi ini, kenapa harus saya lagi? Tidakkah ia tahu bahwa saya baru dikecewakan orang, kemudian ia pula melakukan hal itu kepada saya. Bukankah ia tahu saya berusaha membuka hati kembali setelah disakiti orang lain? Bukankah ia tahu bahwa saya tidak ingin disakiti orang lagi, cowok lebih tepatnya? Kalau ia tahu bahwa ia jalan yang salah, kenapa menuturkan kalimat-kalimat itu kepada saya pertengahan April lalu hingga kemarin? Kenapaaaaaaaa????!!!!!!! Ini luka kembali menganga lebar Tuhan, saya harus apa jadinya? Harus tetap tersenyum gitu?
Dan saya diharapkan bisa mengerti tentang perasaannya. Ya saya mengerti. Tapi kenapa sejak pertama kali itu saya mendengar kata-kata yang mungkin membuatnya khilaf berkata? Kenapa saya yang mendengarnya, kenapa bukan orang lain? Lantas sekarang tidak ada perasaan apapun itu maksudnya apa? Saya selalu mengerti apapun kondisinya, tapi tidak terbersitkah di perasaannya bahwa ia mampu mengerti kondisi saya saat ini? Tidakkah ia menyadari bahwa ia telah merusak hati saya lagi? Tidakkah ia sadar bahwa hari lahirnya itu membuat seorang perempuan kecewa lagi? Atau memang itu tidak menjadi prioritas untuk dipikirkan saat ini?
Mungkin ada benarnya percaya bahwa jangan melakukan sesuatu 100% atau mencintai seseorang 100%, kata Mas Kelik dulu dan Melly tadi sore, sisakan sedikit paling tidak 0.1% dari perasaan itu supaya kalau jatuh nggak bego-bego amat. Nah saya ini yang sudah terlanjur percaya, 100% mencintai tanpa menyisakan sedikit ruang untuk saya bangkit jikalau saya kecewa dan marah terhadap seseorang. Ini saya yang bodoh kan? Iya kan???!!! Ada pula satu kalimat lagi yang saya ambil hikmahnya dari kejadian ini, kita jangan terlalu mempercayai omongan seseorang jika baru pertama kali kenal, atau bahkan ia mengenal kita sudah sejak lama, jangan terlalu percaya, jangan lantas terbuai dengan apa yang dikatakan. Karena memang benar adanya, apa yang saya prediksikan dari dulu terjadi. Ia mengatakan hal buruk yang saya pikirkan, dan semua hancur hari ini!
Kak..kakak tidak tahu kan kalo Bella sudah mempersiapkan sesuatu untuk kakak hari ini? Lalu kakak berkata seperti itu, dan Bella pun sedih kak, sedih banget. Kecewa, marah, dan mulai jengah kembali dengan namanya cowok. Bella sudah mempersiapkan semuanya kak. Sekotak kado di hari ultah kakak, yang Bella harap bisa Bella kasih hari ini, entah itu siang atau malam ketika kita bertemu. Namun itu urung aku berikan kepada kakak. Nggak jadi kak. Aku lemas dan tidak berniat melakukan apapun siang itu, termasuk lari dari tugas. Kakak nggak tahu kan kalau aku mulai membuka hati dan mulai percaya kembali kepada lelaki? Kakak nggak tahu kan betapa aku excited-nya menyiapkan hadiah ini untuk kakak. Lalu kakak dengan mudahnya mengatakan hal itu kepadaku? Singkat dan jelas. Kak, jadi kadonya mau apakan? Aku buang aja, aku kasih orang lain, atau aku simpan? Kak, kakak nggak tahu..sulit bagi Bella untuk mempercayai sesuatu hal yang merupakan kebalikan dari angka tinggi menuju angka rendah, dari 100 menjadi 0, dari perasaan cinta menjadi nanar? Aku seperti berada di negeri dongeng, aku lah pemeran utamanya disana, dan aku dipermainkan. Pada akhirnya, aku sendiri lagi, sendiri dalam kenangan yang pernah ada. Aku pun tidak mampu berkata apapun, aku hanya menjawab singkat dan dengan emoticon senyum, seolah-olah saya meyakinkan diri untuk nggak rapuh terhadap apa yang kakak katakan tadi. Meski akhirnya rapuh juga, aku berharap kakak nggak tahu, nggak usah tahu lagi kehidupanku saat ini, jangan perdulikan perasaanku.
Kini, aku tidak tahu kemana hatiku berada sekarang. Ia nanar. Ia hampa. Noktah kecil ini nggak mungkin sembuh seketika, karena memang aku yang bodoh, yang terlalu percaya 100% terhadap orang lain, pada akhirnya aku pun kecewa. Semuanya hancur kak, nggak bersisa. Ia retak bersama angin yang aku hirup siang tadi. Ia melayang terbang terombang ambing di langit biru, seolah-olah berkata bahwa saya hanya bermimpi mendengar perkataan kakak dahulu, bahwa itu hanya mimpi di siang bolong, dan saya begitu teramat bodoh mempercayainya. Sekarang retak lagi kan kak, kakak nggak tahu kan bagaimana perasaan Bella? Kakak meminta Bella untuk nggak marah dengan kakak. Lantas aku mesti bilang, aku nggak marah kok dengan kakak, iya begitu? Begitu yang kakak mau?!!
Phiuuhhhh..kakak selamat ulang tahun ya ke-24. Semoga selalu diberikang yang terbaik untukNya. Selalu sehat, semangat, selamat, bersyukur, bahagia, damai, penyabar, dan segala doa terbaik untukmu. Mulai sekarang aku nggak minta kakak untuk lebih perhatian kepadaku lagi kok. Kalau ada orang yang menurut kakak mesti diperhatikan lebih dariku, ya nggak apa-apa, perhatikanlah dia, jangan kecewakan dia, aku selalu berharap yang terbaik untukmu, kini dan nanti. Dengan atau tanpa kakak, percayalah aku insyaAllah kuat menjalaninya. :’)
Semangat Bersekolah, Semangat Merubah Hidup
14 May 2012 Leave a Comment
in Mutiara Hidup, Pendidikan dan Guru, Sahabat Ilmu Jambi
Pendampingan Sahabat Ilmu Jambi pada Sabtu lalu (12 Mei 2012) agak sedikit berbeda. Para relawan SIJ mengawalinya dengan pementasan drama bercerita yang bertemakan pendidikan. Kisah ini diangkat dari keprihatinan saya yang mendengar cerita dari bapak pemilik Panti Asuhan Darul Aitam yang berkisah bahwasanya beberapa anak panti asuhan suka bolos sekolah. Dan pasti sudah bisa diterka kan apa cerita drama pertama SIJ ini? Yup, seorang remaja yang terbujuk rayuan temannya untuk bolos sekolah, kemudian hal itu tidak terjadi karena ‘wejangan’ temannya yang lain yang mengajak mereka untuk tekun belajar dan melanjutkan pendidikan, bukan menyia-nyiakan perjuangan orangtua yang menyekolahkannya.
Drama itu diperankan oleh saya sendiri, Rikky, dan Rio, serta Amel sebagai narator. Kami memainkan peran lumayan seru, meski disana sini masih sedikit kacau dengan raut wajah yang menahan tawa
Tapi setidaknya drama itu mengena di hati mereka. Bahkan beberapa diantara adik asuh di Panti Asuhan Darul Aitam tersebut jujur kepada kami bahwa mereka (dulu) suka bolos sekolah. Kami pun mengajak mereka untuk menelaah siapa pemeran antagonis, protagonis, alur cerita, dan amanat dari cerita. Dari sekian banyak yang menjawab, akhirnya kami menyimpulkan bahwa drama bercerita ini bisa menumbuhkan karakter mereka untuk jujur, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, berani mengemukakan pendapat, tekun belajar, dan menghargai pemberian orangtua. Alhamdulillah pendampingan ini juga berjalan lancar di Panti Asuhan Madinatul Aitam. Glad to know that :’)
Saya percaya menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi seorang anak bisa membuat mereka percaya bahwa pendidikan mampu membuat kehidupan mereka berubah ke arah yang lebih baik. Hal itu pula yang saya beritahukan kepada Juki dan Ibnu, adik asuh saya di panti tersebut. Mereka merupakan siswa kelas I SMP N 16 Kota Jambi. Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Juki berasal dari keluarga yang kehidupannya bisa dibilang kembang kempis. Ia dan keluarganya menetap di Aur Gading, Sarolangun. Ia tinggal di panti ini hampir dua tahun, dimana kala itu keluarganya meminta Juki untuk berada di panti agar kelak ia bisa hidup lebih baik dan melanjutkan sekolahnya. Nasib Ibnu setidaknya lebih beruntung. Ibnu memiliki keluarga di kota Jambi. Ia sebenarnya bukan anak panti, namun ia sahabat karibnya Juki, dimana ia kerap diajak Juki untuk berkunjung ke panti. Setidaknya meski Ibnu tidak seberuntung mereka yang memiliki BlackBerry di usia remaja, tetapi Ibnu berada dalam kehangatan keluarganya, sedangkan Juki jauh dari keluarga (ia justru butuh waktu satu tahun untuk pulang kampung dan menuntaskan hasrat kerinduannya kepada orangtua).
Perbicangan kami Sabtu kemarin tidak terlepas dari drama bercerita, pentingnya pendidikan, dan mendeskripsikan gambar yang saya berikan kepada mereka. Setelah saya meminta mereka untuk mengambil kesimpulan dari drama bercerita dan deskripsi gambar yang saya berikan dalam bentuk tulisan, saya sedikit banyak memotivasi mereka agar tetap semangat bersekolah, meski kehidupan mereka terseok-seok. Awal cerita dimulai dari Juki. Saya seperti biasa selalu semangat mendengarkan anak bercerita tentang sekolah dan hidupnya, termasuk ketika Juki berkeluh kesah bahwa gurunya selalu marah-marah ketika belajar di kelas. Hal ini ternyata memicu Juki untuk bolos sekolah. “Gurunyo nak marah-marah terus kak kalo belajar di kelas kami, dak tahu ngapo, padahal kami dak ribut.” Begitu keluh Juki kepada saya. Lain halnya dengan Ibnu, anak pendiam ini tidak banyak omong, ia pun mengaku tidak pernah bolos, meski saya mendesaknya berulang kali apakah ia pernah membolos atau tidak. Hari itu perbincangan tentang pendidikan yang mampu merubah kehidupan keluarga mereka pun berlanjut. Saya menceritakan sesuatu kepada mereka.
Beruntung saya menonton kisah Kick Andy di Metro TV beberapa waktu lalu, yang menampilkan perjuangan anak SD yang hidupnya tidak mampu untuk bersekolah. Saya masih ingat betul tayangan di talkshow penggugah hati tersebut bahwasanya si anak SD setiap balik sekolah selalu mulung demi mendapatkan bayaran untuk melanjutkan sekolah dasarnya :’( Saya juga menceritakan perjuangan seorang pemuda yang sejak kecilnya ia juga berkerja dan juga memulung untuk menambah biaya sekolah, dikarenakan orangtuanya secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak mampu lagi menyekolahkan sang anak. Hingga saat ini, si pemuda yang saya dengar kisahnya di inspire-cast.com itu mampu menikmati jenjang perguruan tinggi dengan hasil keringatnya sendiri! Ia pantang menyerah. Disinilah saya menekankan kepada Juki dan Ibnu bahwa seberat apapun masalah keuangan dan kondisi keluarga yang mampu menghalangi kita bersekolah/meraih pendidikan yang lebih tinggi, itu akan sirna jika kita mau berusaha mencari jalan keluar untuk membiayai pendidikan itu sendiri. Si anak SD dan pemuda tadi adalah contoh nyata. Saya memberikan waktu luang bagi Juki dan Ibnu untuk berpikir, bukan hanya sekedar mendengar ‘ceramah singkat’ saya saja.
Lantas tidak berselang beberapa lama, timbullah suara parau Juki. Dengan mata yang agak berkaca-kaca, ia bercerita seperti ini kepada saya. Mendadak saya hening sejenak, begitu pula Ibnu. “Iyo kak, kehidupan kami tuh samo lah kayak anak SD itu. Orangtuo kami susah hidupnya di Aur Gading. Pernah kak dulu waktu kami SD, pas pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, kadang kami dak makan, karena dak katek duit orangtuo kami, jadi kami tetep berangkat lah ke sekolah. Kami jugo telat masuk SD kareno orangtuo kami nyari duit dulu baru setelah terkumpul kami bisa masuk SD, itupun di umur 7 tahun kak. Tapi kami jugo pernah ngebanggain orangtuo kami, waktu itu kami dapat rangking pas SD kelas 3, tapi malah nurun rangking setelah naik kelas. Dan parahnyo semenjak kami jauh tinggal samo orangtuo, kami jadi malas belajar kak, dak ado semangat karena jauh dari orangtuo. Meski begitu, kami selalu ingat apo kato ibu bapak kami kalo kami ke Jambi nih (tinggal di panti) ditujukan untuk serius sekolah, biar biso ngelanjutin sekolah ke jenjang SMP. Kalo dak ado yang bawa kami kesini, kayaknyo kami hanyo batas SD be lah sekolahnyo, karena orangtua gak ada biaya untuk nyekolahin kak. Waktu itu kami lamo nian berpikir apo mesti ke Jambi apo idak, karena kalo ke Jambi pasti jauh dari orangtuo, namun akhirnya kami milih untuk ngelanjutin sekolah jugo ke Jambi kak. Tapi dak tau ngapo, pas udah lamo disini kadang kami kangen orangtuo dan kami butuh semangat dari mereka supaya gak malas kak. Kami sadar kak kalo misalnyo belajar sungguh-sungguh, apapun rintangan/masalahnyo pasti bisa diatasi kalo kito semangat. Kami pengen kok kak membahagiakan orangtuo kami di Aur Gading,” kata Juki.
Begitulah kurang lebih yang Juki katakan kepada saya sore itu. Ibnu pun terdiam, entah karena nggak bisa ngomong apa-apa karena kisah sedih itu, entah karena emang dia yang terlalu pendiam. Yang jelas kisah jujur yang diutarakan Juki tadi semakin membuat saya ingin memacu semangat mereka untuk terus belajar dan bersekolah, meraih cita-cita dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar kehidupan keluarga mereka berubah ke arah lebih baik. Saya pun menyemangati Juki agar jangan menyia-nyiakan keinginan orangtuanya untuk melihat Juki berhasil suatu saat nanti. Begitu pula yang saya katakan kepada Ibnu, agar ia bisa terus semangat belajar meraih cita-cita. Saya pun mengatakan jika ada kesulitan belajar atau mau curhat, saya akan ada untuk mereka. Bagi saya mendengarkan orang bercerita itu bahagia sekali, saya memiliki pendengaran yang wajib saya berikan kepada mereka yang ingin bercerita hal-hal baik kepada saya. Tentu saja pemberian Allah Swt tersebut harus dimanfaatkan sebaiknya bukan? Jadi tidak ada kata yang lebih dari kata BAHAGIA saat itu ketika mendengar cerita Juki dan Ibnu bersamaan, cerita mengenai semangat mereka untuk bersekolah meski kehidupan tidak semulus di sinteron televisi.
Well, pendampingan hari itu ditutup dengan doa setulus hati agar setiap impian anak panti ini bisa tercapai demi kebahagiaan orangtua mereka. Selalu saja ada harapan atas apa yang saya dan teman-teman relawan ini lakukan untuk kebaikan adik asuh di masa depan. Tidak ingin meminta pujian, cukup dengan cerita mereka yang sudah sukses di masa depanlah yang akan membuat kami tersenyum. Ternyata membangun impian hidup mereka sejak dini itu perlu, agar mereka punya batu loncatan yang kuat agar percaya diri menatap masa depan. Berikut puisi Juki yang sempat ia tulis di buku harian saya mengenai gurunya. Semoga semua guru di Indonesia menyadari bahwa menginspirasi siswa dalam membangun cita-cita sama pentingnya dengan memberikan nilai baik di raport. Inilah puisi dari seorang anak laki-laki kelahiran Aur Gading, yang baru terihat bakatnya di bidang linguistik berkat sejumlah puisi buatannya selama di SIJ.
GURUKU
(Puisi ini didedikasikan buat guruku di sekolah, SMP N 16 Kota Jambi)
Guruku, aku sangat berterima kasih kepadamu
Karena engkau telah mendidik kami dan membimbing kami di sekolah
Engkau bagaikan matahari yang selalu bersinar
Engkau selalu mengajar kami, membuat kami pintar
Dan memberikan jalan terbaik bagi kami
Serta menjadi bekal bagi kami di masa depan hingga tua nanti
Guruku, kami akan selalu mengenangmu dan menyanyangimu
Karena kau telah mendidik kami
Terima kasih guruku, namamu akan selalu kuukir di hatiku hingga aku tua nanti
Ketika Nyinyiran Itu Datang
12 May 2012 Leave a Comment
in Curhat
Alkisah suatu sore saya ngobrol-ngobrol dengan seorang pemuda, yang masih satu jurusan dengan saya. Tanpa sengaja obrolan itu tertuju pada sebuah kenyataan yang sedikit mencengangkan. Pemuda itu bilang kepada saya bahwa ada kejadian yang ia dengar beberapa hari lalu. Pria ini pun mulai bercerita.
“Kak, beberapa hari yang lalu, aku ketemu orang di taman. Dia dulunya anak SIJ sih, tapi sekarang udah gak aktif lagi. Terus dia bertanya tentang perkembangan SIJ saat ini. Dan terakhir sebelum akhirnya aku kesal, dia bilang begini ke aku: “Kak, katanya kak Bella itu ngediriin SIJ karena mau ikut pertukaran pemuda ke luar negeri ya? Karena itu syaratnya?”. Aku marah lah kak, karena aku tahu kakak aja udah beberapa kali ikut kegiatan di luar tapi gak lolos, dan itu gak ada hubungannya dengan SIJ. Terus aku tanya, siapa yang bilang begitu, dia jawab dapat selentingan dari orang-orang. Akhirnya setelah aku marahin dia, aku suruh be dia pergi, aku pun dak jadi ngerjain tugas kuliah gara-gara dia tuh,” ujar pemuda itu.
Segelintir percakapan itu menohok hati saya. Dari mananya coba saya dikaitkan dengan mendirikan SIJ karena ingin lolos PPAN? Lalu saya menganggap mereka itu sebagai orang yang nggak tahu menahu apa yang melatarbelakangi SIJ berada. Saya mendirikan SIJ bersama kak Meila Rosianika, karena kami melihat bahwa teman-teman di sekitar jarang hobi membaca dan menulis. Kami juga memiliki passion di dua bidang itu, dan sangat mencintainya. Alangkah indah dunia jika setiap anak Indonesia hobi membaca dan menulis, yang menjadi bekal bagi mereka kedepannya. Jadi, sampai saat ini nggak ada alasan bagi diri saya pribadi untuk mendirikan SIJ sebagai sarana meloloskan diri sebagai wakil Jambi untuk mengikuti kegiatan pertukaran pemuda ke luar negeri atau konferensi internasional lainnya!
Oh well, andaikan mereka tahu perjuangan saya sejak 4 tahun lalu. Andaikan mereka tahu bahwa impian saya untuk bisa belajar di luar negeri sudah ada sejak SIJ belum didirikan. Andaikan mereka tahu bahwa proses menuju impian itu tercapai tidak ada hubungannya dengan SIJ, justru saya banyak mengalami kegagalan sebanyak 10 kali, dan hingga kini pun ketika saya mendirikan SIJ dengan kak Meila, saya masih belum diizinkan olehNya untuk belajar di luar, karena saya hanya bisa puas meraih nomor dua yang berarti cadangan? Apakah mata mereka tidak terbuka untuk mengenal saya dan apa yang saya lakukan lebih dekat? Apakah melihat seseorang dari satu sisi saja? Apakah mereka cukup puas dengan menjudge seseorang seperti itu?
Saya merasakan dinyinyirin seperti itu sudah sejak lama, bahkan sebelum ada SIJ, ketika saya masih di Trotoar dulu, kebanyakan bilang saya gak fokus kuliah lah, hanya mementingkan organisasi yang menurut beberapa orang gak ada untungnya lah, pokoknya nyinyiran lainnya. Tapi saya gak peduli, saya berusaha memaafkan mereka. Saya meyakini apa yang saya jalani saat ini sesuai keinginan saya, panggilan jiwa dan hati saya, passion saya, dan tidak ada paksaan dari siapapun. I do everything in my life with love. Saya tidak memiliki maksud akan menjadi sesuatu berdasarkan apa yang kerjakan saat ini. Saya tetaplah manusia biasa, yang melakukan ini hanya untuk mengharapkan ridho Allah Swt, untuk membantu orang lain dan daerah saya, karena saya gak mau berdiam diri dan hanya berada pada keegosian diri sendiri. I wanna do something for this nation, and I don’t care what people say to me.
Kadang kita memang butuh orang-orang nyinyir untuk membutktikan bahwa kita BISA! Kadang mereka menjadi cambuk bagi kita untuk berjuang semakin kuat membuktikan bahwa apa yang dilakukan saat ini suatu saat akan berdampak baik! Kadang kita mungkin harus berterima kasih terhadap tipe orang seperti itu agar mata mereka terbuka bahwa melihat orang itu harus lebih dekat, jangan hanya mendengar sesuatu dari segelintir orang lantas menjudge dari satu sisi. Apa jadinya kalau seorang guru hanya melihat anak muridnya dari satu sisi? Mungkin saja anak itu susah diatur, tapi jika si guru itu bisa melihat potensi kecerdasan anak yang mampu membuatnya mudah diatur, why not? Jadi bagi siapapun yang menyinyirin apa yang saya lakukan, sekali lagi saya katakan bahwa daripada sibuk menyinyirin orang, mending lakukan sesuatu yang berguna gak cuma untuk diri sendiri tapi orang di sekitar juga. Daripada menjudge seseorang tanpa fakta dan selidik terlebih dahulu, lebih baik omongannya diredam dulu, baru dibuktikan :’)
“Semakin tinggi naik ke puncak pohon, semakin kencang angin menerpa, jadi maafkan mereka.” Begitulah yang kakak bilang kepada Bella, well tentu saja saya akan memaafkan mereka :’)
Surat Untuk Pak Jokowi Dodo :)
12 May 2012 2 Comments
in Mereka Disekeliling Saya, My Thoughts
Jambi, 28 April 2012
Kepada Bapak Joko Widodo
Di tempat
Assalamualaikum wr.wb.
Selamat siang bapak Jokowi, bagaimana keadaan bapak hari ini? Saya doakan bapak senantiasa sehat walafiat ya, biar selalu semangat memberikan perubahan positif bagi Solo dan indonesia. Saya juga berharap bapak tidak letih memperbaiki hal-hal yang kurang baik di negeri ini menjadi lebih baik di masa kepemimpinan bapak.
Bapak, masih ingat ketika bapak menjadi pembicara di Parlemen Muda Indonesia di Jakarta dan Indonesian Young Changemakers Summit di Bandung tahun ini? Disanalah saya pertama kalinya bertemu dengan bapak, mendengarkan langsung sepak terjang yang bapak lakukan bersama petinggi Solo untuk memajukan daerah tersebut. Saya yang sebelumnya tidak mengetahui persis apa yang bapak lakukan, kini menjadi terkagum-kagum atas apa yang telah bapak lakukan.
Bagi saya Indonesia saat ini benar-benar kehilangan role model-nya. Kebanyakan pemuda (termasuk saya) sudah skeptis dengan aparat pemerintah yang tidak bisa mengayomi masyarakatnya. Kami terlihat apatis atas pekerjaan yang dilakukan pemerintah saat ini. Tidak adanya tindak tegas untuk memperbaiki keadaan yang semakin semrawut ini membuat kami hampir-hampir tidak percaya lagi kepada pemerintah. Saya tidak tahu mengapa kami, pemuda, tidak percaya dengan janji-janji pejabat berkepentingan itu? Seakan-akan mereka hanya semangat berbicara untuk melakukan apa saja saat berkampanye, nyatanya di kehidupan mereka sendiri, karakter mereka justru luntur di mata kami.
Saya bersyukur saya hadir pada dua acara kepemudaan tersebut. Dalam Parlemen Muda Indonesia yang digagas oleh Indonesian Future Leaders, saya sangat antusias mendengarkan bapak berbicara di podium kala itu. Saya terkesan dengan gaya berpakaian bapak. Saya terkesima ketika beberapa kalimat pelan namun tegas yang bapak lontarkan. Saya kagum dengan ketegasan dan keputusan yang bapak ambil dalam memimpin. Saya ternganga, ternyata ada pemimpin di Indonesia yang berani seperti bapak. Saya pun seolah tak percaya ketika bapak menyebutkan berhasil mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern di Solo, dengan tidak menghilangkan para pedagangnya, yang justru hal seperti yang bapak lakukan tidak bisa terwujud di Jambi. Saya juga kagum atas usaha bapak membangkitkan wisata dan budaya Solo dengan tema The Spirit of Java. Bahkan saya sangat berharap, akan lahir Jokowi-Jokowi lainnya, baik itu di kalangan pejabat atau pemuda, yang berani seperti bapak, yang tidak takut untuk mengadakan perubahan.
Kemudian pandangan skeptis saya tersebut berubah ketika melihat perjuangan bapak. Saya melihat role model baru bagi Indonesia di diri bapak. Saya melihat bahwa orang seperti bapak-lah yang kami perlukan untuk memimpin Indonesia kelak. Bapak tidak perlu kharisma dan pencitraan, karena bapak sudah melakukannya dengan baik. Bapak tidak perlu memperlambat sesuatu hal yang perlu diubah, karena bapak sendiri sangat cepat menangani hal itu. Dalam pembicaraan yang bapak sampaikan di dua forum yang saya ikuti tersebut, saya dan teman-teman terhenyak menyaksikannya. Bahkan tidak jarang kita sama-sama tertawa melihat apa yang bapak presentasikan. Saya pun mendapatkan inspirasi dari bapak. Ya, inspirasi untuk melakukan sesuatu bersama-sama demi membuat Indonesia lebih baik.
Satu hal yang saya kagumi dari diri bapak ketika memimpin masyarakat adalah mau mendengarkan curahan hati mereka. Ternyata mendengarkan curahan hati masyarakat saja tidak cukup. Apa yang mereka lontarkan harus diperbaiki di masa depan. Dan inilah yang membuat saya semakin kagum dengan bapak. Bapak mengadakan rembug kota, dimana setiap tahunnya bapak mengumpulkan 3500 warga Solo di sebuah lapangan untuk berbicara dalam forum yang bapak selenggarakan. Bapak mempersilahkan siapa saja yang ingin mengungkapkan pendapatnya tentang Solo. Dalam forum ini, ternyata banyak sekali keluhan para warga terhadap hal-hal jelek yang terjadi di Solo ketika masa awal kepemimpinan bapak. Tidak heran jika di tahun pertama bapak memimpin, 100% masyarakat marah dan komplain karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Saya ingat betul bagaimana ekspresi salah satu warga yang marah dalam slide show yang bapak tampilkan membuat kami tertawa.
Pada tahun kedua rembug kota diadakan, ternyata perubahan masyarakat yang marah dan komplain itu menurun drastis. Sedikitnya 35% warga yang marah dan komplain terhadap kepemimpinan bapak. Angka persentase yang menurun ini menunjukkan bahwa bapak sedikit berhasil memenuhi kebutuhan masyarakat yang dahulu komplain. Ini merupakan prestasi yang patut diacungi jempol, karena rata-rata masyarakat sudah merasakan dampak positif dari kepemimpinan bapak. Fantastisnya, pada tahun ketiga rembug kota diadakan, ternyata TIDAK SATUPUN warga Solo yang marah dan komplain lagi! Justru mereka berbalik arah, dari yang awalnya marah dan komplain menjadi memberikan ide/masukan untuk perbaikan Solo kedepannya. Pada tahap ini, saya benar-benar salut dengan bapak. Bapak hebat!
Apa yang bapak lakukan dalam mendengarkan keluhan masyarakat berjalan baik dan banyak yang mendukung. Partisipasi masyarakat pun dilibatkan. Bapak juga tidak hanya mendengarkan keluhan saja, tapi keluhan mereka tersebut berubah dengan membelikan fasilitas terbaik bagi masyarakat. Menurut bapak, ada dua cara untuk mendengarkan masyarakat, yakni mengajak masyarakat berpartisipasi dan bergotong royong. Bapak juga berkata bahwa pemerintah harus melayani masyarakat. Bapak Berkata, “Kalau ada masalah pada masyarakat, ya didengarkan, kemudian diselesaikan. Kita harus menjadi pemimpin yang mendengarkan masyarakat. Dan yang terpenting adalah harus menyelesaikan masalah yang ada pada masyarakat.”
Di kesempatan kedua saya bertemu dengan bapak, yakni Indonesian Young Changemakers Summit, penampilan bapak tidak berubah. Tetap memakai kemeja putih yang dipadukan dengan celana jeans. Tubuh bapak yang tidak terlalu berisi membuat kami tertawa saat bapak menceritakan bahwa orang lain yang melihat bapak mengira bahwa bapak adalah asisten walikota, padahal justru bapak sendiri walikotanya. Perawakan bapak, menurut saya, tidak mencerminkan pejabat. Kenapa? Karena seolah-olah perawakan bapak itu sama dengan masyarakat pada umumnya. Apa mungkin karena bapak banyak memikirkan masyarakat jadi kurang makan dan tidur? Oh well, saya berharap kesehatan bapak selalu terjaga ya, biar selalu berkarya bagi Indonesia.
Saya bermimpi, akan hadir pemimpin Indonesia yang wataknya seperti bapak. Saya berharap para pejabat pemerintahan itu tersindir dengan apa yang telah bapak lakukan. Saya pengin siapapun juga aparat pemerintahannya di Indonesia ini, bisa setegas bapak dalam bertindak. Saya juga berharap agar semakin banyak Jokowi-Jokowi lainnya yang mengadakan perubahan nyata untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Bahkan saya berpikir, bagaimana kalau para pejabat-pejabat itu studi banding ke Solo agar tahu bagaimana mengatur tata kelola yang baik, yang tidak meninggalkan budaya dan kelestarian alamnya.
Saya ingin semua pejabat dan pemuda negeri ini belajar dari bapak. Belajar bagaimana bapak berhasil mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern (bukan hanya sebagai wacana dengan berbagai total anggaran). Saya ingin petinggi negeri ini juga peka terhadap masalah masyarakatnya. Saya ingin agar kelestarian budaya tetap dijaga meski modernitas merasuki anak bangsa. Saya ingin alam Indonesia tetap lestari di tengah hancurnya hutan karena pembangunan. Saya ingin tidak banyak mal-mal atau bangunan yang tidak terlalu penting dibangun, yang justru hal tersebut menyingkirkan pendapatan masyarakat. Saya ingin para pemimpin berkaca terhadap kepemimpinan bapak, agar Indonesia nggak loyo, tegas, dan berani mengambil sikap. Ahh seandainya saja Indonesia ini dipenuhi oleh Jokowi-Jokowi lainnya, saya yakin semua rakyat pasti makmur! Tidak ada lagi masyarakat yang bekerja sebagai pemulung, tidak ada lagi anak kecil yang meminta-minta di jalanan, tidak ada lagi anak muda yang pengangguran, dan tidak ada lagi masalah di Indonesia. Andai saja kalau impian saya itu terkabul suatu saat.
All in all, terima kasih ya pak sudah mau membaca surat ini. Saya ingin meyakinkan bahwa saya tidak sedang didukung oleh partai politik lain untuk membanggakan nama bapak, karena surat ini lahir dari apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan dari bapak dan teman-teman. Saya berdoa agar bapak selalu semangat memperbaiki Indonesia ya! Jangan menyerah sebelum lilin benar-benar menyala terang dalam kegelapan. Terima kasih telah menyinari hati masyarakat dan pemuda yang hadir di dua konferensi itu. Wassalamualaikum wr.wb.
Salam pemuda,
Bella Moulina
Menerjemahkan Maul Dalam 154 Hari
04 May 2012 Leave a Comment
Mama dan papa tiba di rumah sore ini. Seperti biasa mereka berdua tampak kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh dari Mendahara Ilir menuju kota Jambi, yang ditempuh selama dua jam-an, belum lagi beberapa kawasan jalan sedikit rusak. Empat hari sekali pulang ke rumah, membuat saya tak pelak harus mandiri sejak Agustus 2011 lalu. Saya mau tidak mau membereskan semua pekerjaan diri sendiri dan rumah bareng dengan adik saya dalam kurun waktu delapan bulan ini. Pun begitu pula dengan kedua orangtua saya itu, mengemban tugas di Mendahara Ilir untuk memberi nafkah anak-anaknya. Pulang ke rumah dengan tidak mengalami sesuatu kejadian apapun selalu membuat saya bersyukur, mama dan papa tidak kekurangan suatu apapun hingga mereka tiba di rumah. Inilah yang selalu saya mohon kepada Allah Swt, lindungilah keselamatan kedua orangtua dan keluarga saya dimanapun mereka berada.
Lantas saya pun teringat kejadian siang tadi, mungkin lebih tepatnya teman saya sesama relawan di Sahabat Ilmu Jambi, Maulana Iman Satria. Dia menjadi relawan SIJ sejak Desember 2011 lalu. Meski terbilang belum lama, tapi sedikit banyak saya mengetahui kehidupan Maul, hingga sedihnya ia ditinggal almarhumah ibunda ke pangkuanNya pagi tadi, pukul 08:30 WIB, 4 Mei 2012. Seolah memposisikan diri seperti dia saat ini, entah apa jadinya hidup saya ketika orangtua telah tiada. Akankah kuat? Apakah bisa menerima kenyataan yang telah digariskan oleh Allah Swt? Apakah ikhlas?
Saya mengenal Maul (kalau nggak salah) sewaktu menjadi kru Xpresi Jambi Ekspres. Dulu bangeettt…pernah nanyain anak satu itu soal pendapatnya terhadap sesuatu, dan kemudian diterbitkan pendapat serta fotonya di halaman Xpresi. Sejak saat itu juga tahu kalau Maul adalah penyiar GSP (dulunya) dan sering menjadi MC di acara ternama. Kemudian selang beberapa tahun kemudian, Maul tanpa sengaja melihat twitter @SahabatIlmuJBI. Ia bertanya apakah mungkin bisa menjadi relawan, lalu saya jawab bisa saja. Lantas pertemuan dengan calon relawan baru pun diadakan pada awal Desember 2011 lalu di Kedai Kopi. Diantara banyaknya relawan, ada Maul disana. Ternyata pada hari yang sama, dia juga nampil sebagai comic di Stand Up Comedy Jambi. Dalam forum diskusi dan gathering itu, ternyata Maul menyampaikan hasratnya untuk menyediakan sekretariat bagi Sahabat Ilmu Jambi di warung milik almarhumah ibunya. Baru pertama kali dateng, dan langsung percaya terhadap SIJ membuat saya menaruh respect yang tinggi terhadapnya. Kemudian teman-teman menyetujuinya, dan akhirnya sekretariat itu telah berubah menjadi taman baca nan apik. Yang awalnya gudang dan tidak berpenghuni, akhirnya disulap menjadi tempat berkumpulnya SIJ. We should thanks to him :’) Thank you very much!
Ternyata cerita tidak berhenti disitu saja. Saya yang awalnya melihat Maul sebagai sosok ceria, hobi ngelawak dan ngeledek, dan terlihat selalu baik-baik saja, ternyata menyembunyikan sesuatu dalam hidupnya. Kami tidak pernah menyangka bahwa suatu hari ketika kami mengunjungi rumah Maul (saya, Yani, Fani, dan Ein) untuk melihat kondisi warung almarhumah ibunya yang nggak terpakai itu mendapatkan sebuah cerita yang tidak bisa dipercaya. Almarhumah ibu Maul menderita stroke sudah sejak lama, dan saat itu beliau terbaring lemah di kasur yang diletakkan di depan televisi rumah Maul. Dari pertama kali melihat ibu Maul hingga senin kemarin terakhir melihat almarhumah, saya melihat beliau tidur di atas kasur. Tidak berdaya dan tidak punya daya upaya. Saya kerap sedih melihat panggilan almarhumah ibu Maul ketika memanggil dirinya, Shinta, atau Kiki saat kami para laskar SIJ berkumpul disana. Kadang ketika saya melewati almarhumah ibunya untuk mengambil wudhu dan sholat, saya kerap menegur sapa, meski hanya dengan seyuman, atau bahkan mengamini perkataan almarhumah ibu Maul kala itu. Dan sejenak saya berefleksi kepada diri saya sendiri, bagaimana kalau disana adalah ibu saya? Apa perasaan saya? Lalu bagaimana perasaan Maul yang telah melihat kondisi ibunya dalam rintihan sakit untuk bisa bertahan hidup? Yang saya tahu, Maul selalu berkata lemah lembut sekali kepada almarhumah ibunya dengan begini: “Sayang, sayang mau apa? Mama mau ngapain?” Itulah kalimat yang kerap saya dengar, yang membuat saya terharu, yang membayangi saya di rumah besar itu setiap masuk ke rumah Maul. That’s so sweet, tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang ibu kepada anak, dan anak kepada ibunya. :’)
Lalu waktu berlalu. Dalam perjalanan mengenal sosok adik (karena Maul semester 6), meski sama-sama lahir di tahun 1990, saya melihat sebuah lika liku hidup Maul yang bikin saya seolah tak percaya. Ada beberapa cerita yang saya dengar sendiri dari dirinya bahwa bla bla bla. Bahkan ketika saya menghiburnya, Maul seakan mampu menutupi kesedihannya. Dia tetap tegar dengan perkataan yang baru saja ia ceritakan kepada saya tentang hidupnya dan keluarganya. Ia seolah berusaha tegar meski banyak rintangan di hidupnya. Atau bahkan ia tidak ingin menampakkan kesedihannya kepada orang lain? Atau dia hanya ingin kesedihan itu miliknya sendiri? Entahlah, yang pasti saya selalu berpesan kepadanya bahwa seorang lelaki harus mampu tegak diantara badai meski itu sulit, meski itu terseok-seok.
Suatu kali Maul pernah curhat kepada saya bahwa hanya ada dua wanita yang ia cintai saat ini dan selamanya, yakni ibunya dan Tasya (sang pacar?). Bagi Maul, mereka berdua adalah wanita yang ia cintai sepanjang hayatnya, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun. Ibunya yang membesarkannya, dan dulu terbaring lemah, dan ia pun merawat ibunya dengan telaten. Yang saya tahu, di rumahnya itu yang paling sering berinteraksi dengan almarhumah ibunya adalah Maul sendiri dan Shinta. Dimana kadang ketika ia bepergian ke luar kota, ia kerap cemas kepada ibunya. Bahkan ketika ibunya sulit untuk berkata dan Maul sudah terbiasa menerjemahkan keinginan ibunya, ia sudah tampak telaten memenuhi permintaan sang ibu. Bagi saya itu sudah cukup menunjukkan Maul sangat sayang kepada ibunya. Kemudian Tasya, sosok wanita yang bisa menaklukkan hati Maul setelah dulu ditinggal pacar, melengkapi hari-harinya, and he loves her very much. Meski Maul suka flirting nggak jelas, namun hatinya terpaut pada Tasya seorang (ceilahh). Ia bahkan menyayangi Tasya hingga saat ini, meski saya pun tidak bisa menerjemahkan hubungan mereka saat ini seperti apa, but I know that he loves her very much. Terbukti dari beberapa kali Maul sempat curhat bukan hanya tentang kegalauan hidupnya saja, namun juga tentang Tasya, saya menyadari bahwa ia sangat menaruh hormat yang tinggi kepada kedua wanita yang ia cintai.
Phiuuhh, saya jadi teringat kejadian hari Senin lalu, dimana saya menjaga taman baca di rumah Maul. Kala itu almarhumah ibunya sudah lama tidak bisa bergerak, dan saya menyaksikan ibunya terbaring lesu di atas kasur, sambil dililiti kain. Itulah terakhir kalinya saya melihat ibu Maul, sambil berdoa agar kemudahan dari penyakit yang diderita. Ternyata 4 Mei 2012 pagi tadi, almarhumah dipanggil menghadap Sang Kuasa. Saya dan Tasya tadi ikut memakamkan almarhumah ibunya di pemakaman di Kotabaru. Terdengar suara Maul yang mengazankan ibunya di liang lahat, saya pun teringat ketika kecil, kita yang masih bayi dan baru lahir diazankan oleh ayah kita, kini dia-lah yang mengazankan ibunya. Kemudian liang lahat itu perlahan-lahan tertutup oleh tanah, dan terdengar suara tangis Maul yang sampai sekarang masih saya ingat. Pesan saya hanya satu, “Mama Maul merindukan doa anak yang sholeh, doakan selalu mamamu, ingatlah selalu pesan ibu agar Maul sukses di masa depan. Doakan mama agar tenang bersamaNya di surga, amiiinnnn.”
Perjalanan Hidup Gadis Pembela Di Usia 22 Tahun
02 May 2012 2 Comments
in Curhat, Mutiara Hidup, My Dreams
Andai aku t’lah dewasa
Apa yang ‘kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah… Oh…
Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu
Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku
Andai aku t’lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s’lalu kucinta
Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu
Oh… Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s’lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku
Andai aku t’lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s’lalu kucinta
Lirik lagu Sherina di atas menuntun saya menulis cerita mengenai 22 tahun saya hidup di dunia ini. Sebuah perjalanan anak manusia yang lahir dari keluarga sederhana dan pantang menyerah. Andai Aku Besar Nanti selalu bikin saya menangis karena ingat salah satu lirik terakhirnya: “I love you Ayah, I love you Bunda.” :’) Lirik lagu ini selalu sukses bikin saya meneteskan air mata, dan malam ini terbukti. *tariknafas* Oh well, tulisan saya kali ini pengin nyeritain tentang alur hidup saya di masa lalu, sekarang, dan akan datang. Ini sedikit refleksi saya terhadap hidup yang diberikan oleh Allah Swt, atas nikmat dan karuniaNya yang berlimpah untuk seorang Bella Moulina, sekaligus persembahan untuk kedua orang tua saya (mama dan papa yang hebat!), kedua adik (yang ngegemesin tapi baik), serta keluarga besar dan orang-orang yang menyayangi saya. Semoga cerita ini bermakna untuk kalian ^_^
Past
Bella Moulina, that’s my name. Nama itu pemberian kedua orang tua saya yang memiliki makna sangat berarti di hidup saya. Bella bermaksud membela, sedangkan Mouli adalah gadis (dalam bahasa Komering, Palembang), lalu na adalah sisipan. Jadi intinya ayah saya yang tepatnya memberikan nama itu mengingkan saya untuk bisa membelanya, ya sebagai gadis pembela ayahnya, yang waktu itu ada sedikit trouble dengan sesuatu hal. Well, makna gadis pembela itu berasa banget sekarang. Rasanya pengen banget membela orang-orang kurang beruntung, tidak ingin melihat orang susah di dunia. Sampai saat ini, saya mengamini bahwa nama itu merupakan pemberian yang hebat oleh orangtua saya. I should thank to them! Ow ya, saya anak pertama dari tiga bersaudara dan satu-satunya cewek di keluarga ini J Jadi, sering banget kena bully adik-adik cowok (Iwan dan Sadi) kalo beradu mulut, haha..
Bella kecil sempat mengalami insiden kecelakaan. Bayangin anak usia 2-3 tahun waktu itu jatuh dari tangga di rumah neneknya di Palembang. Jatuh dari tangga yang nggak kecil dan menimpa semen lantai di bawahnya itu sempat bikin geger sekeluarga. Di waktu lain, ia jatuh lagi dari meja ketika ikut membantu neneknya bikin godo-godo dari pisang di umur yang hampir sama juga. Daaannnnn..waktu SD kelas 1 atau 2 gitu, pernah masuk RS Charitas Palembang karena Typhus! Saya yang waktu itu masih mendiami desa Nipah Panjang terpaksa bertolak ke Palembang untuk dirawat selama satu bulan! Sepertinya masa kecil saya suram ya? Hehe..
Ah tapi nggak juga kok. Saya memiliki masa kecil yang nggak bisa dilupakan hingga saat ini. Saya punya banyak teman dari tiga sekolah SD dan satu madrasah Islam. Kenapa begitu? Karena semasa SD saya kerap pindah sekolah sebanyak 3 kali. Pertama bersekolah di SD N 177 Nipah Panjang, lalu pindah ke SD di Palembang (lupa namanya), dan kemudian sejak kelas IV SD bersekolah di SD N 10/X Nipah Panjang. Lalu setiap siang harinya saya disekolahkan di Madrasah Ibtidayah Swasta di Nipah Panjang pula untuk belajar ilmu agama. Ditambah pula mengaji di rumah dengan adik, dan mengikuti les serta ekstrakurikuler di sekolah maupun di rumah guru. Bisa dibilang masa kecil saya banyak dihabiskan di Nipah Panjang. Ya karena di desa itulah banyak pengalaman berharga yang patut saya syukuri.
Di desa itulah untuk pertama kalinya seorang anak cewek hobi mengirim surat ke artis/penyanyi cilik, membuka tempat penyewaan buku seharga Rp. 100, dan menjual kertas file warna-warni kepada teman-temannya. Ikhwal menulis, membaca, dan berbisnis kecil-kecilan ternyata dimulai di suatu desa yang kata orang waktu itu ‘sedikit terpencil.’ Dimana saya sulit mencari buku atau majalah baru (selalu dapat yang bekas), jalan menuju kota Jambi yang sanggaaatttttt lama, sulit untuk ikut lomba apa saja, dan merasa bahwa impiannya untuk memiliki rumah besar dengan kolam renang yang luas kandas seketika! Haha, yang ada malah air sungai Batanghari di bawah rumah, karena memang rumah disana dekat sungai semua
Namun ada sesuatu yang membuat saya selalu kangen dengan masa kecil disana. Ternyata ia banyak memiliki andil besar bagi saya hingga berangsur menjadi pemuda. Ada pelajaran hidup yang nggak mungkin saya bisa lupakan disana. Saya mengenal teman-teman yang ramah, berjalan kaki menuju SD dan SMP (saya dulu hampir tamat di SMP N 1 Nipah Panjang, tapi pindah ke SMP N 11 Jambi buat numpang tamat doang hehe), hidup yang serba sederhana di desa, dan nggak mikir akan modernitas yang mendera orang-orang kota. Lantas saya jadi berpikir, enak ya kayaknya tinggal di desa? Nggak sehiruk pikuk di kota gini..
Masa remaja saya pun beranjak ketika SMP dan SMA. Dsinilah saya menyadari bahwa potensi semasa kecil yang seharusnya bisa ditempa, namun tidak berjalan begitu baik kala remaja. Saya didera rasa minder yang luar biasa, susah beradaptasi, serta merasa tidak pintar dan cantik. Memasuki masa SMP dan SMA hingga tamat, keminderan itu rasanya membuncah. Saya yang dulunya aktif mengikuti kegiatan waktu di Nipah Panjang saat masih SMP, lantas menjadi itik buruk rupa saat menamatkan SMP dan belajar di SMA di kota (SMA N 4 Kota Jambi). Saya merasa saya tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan, pun saya melihat ketidaksesuaian pikiran saya untuk mengikuti beberapa organisasi di kampus. Prestasi yang biasa-biasa saja, tampang yang amat standar, dan bukan tergolong mereka yang selalu up to date dengan gaya, membuat saya benar-benar linglung kala itu. Jujur saya tidak mampu mengembangkan potensi saya karena rasa minder itu. Hingga pada akhirnya, bahasa Inggris lah yang menyelamatkan saya. Perlahan-lahan saya mulai berani tampil berbicara bahasa Inggris di depan kelas ketika Mom Rofi, guru bahasa Inggris di SMA N 4 meminta siswa untuk maju ke depan. Lama kelamaan kebiasaan itu berbuah baik, saya mulai berani berbicara di depan orang banyak. Entah kenapa pada kelas 3 SMA itu-lah saya berubah. Berubah bahwa kalo selamanya minder dan nggak mau mencoba, artinya sama sekali nggak ada tujuan hidup!
Saya pun bersyukur semasa kecil mama dan papa selalu memberikan pelajaran hidup yang mengena banget di hati anak-anaknya. Mama mengajarkan untuk tidak menghambur-hamburkan uang (lebih baik ditabung), hidup sederhana (daripada pakai aksesoris berlebihan), menghargai orang lain, dan menekankan pendidikan agama serta karakter kepada saya. Pun papa juga begitu kok, kalo papa lebih membuat saya untuk bekerja keras sesulit apapun hidup ini, jangan mudah menyerah, tegas, dan tepat waktu dalam segala hal. Karakter tersebut setidaknya masih sangat melekat di otak saya, diantara beberapa serpihan kenangan yang saya lewati di Nipah Panjang, Palembang, dan kota Jambi, karakter itulah yang membentuk Bella Moulina menjadi gadis mama papa seutuhnya. Kadang saya merasa kesal ketika watak papa yang keras menurun kepada saya, atau bahkan ketika mama agak sulit mengeluarkan uang untuk anaknya, tapi saya sadar mereka berdua mengajarkan hal-hal baik untuk masa depan saya. So that, terima kasih mama dan papa, I love you all :’)
Now
Saat ini saya masih nggak percaya, masa-masa transisi remaja yang galau akan kecerdasan dan kemampuan berinteraksinya dengan orang lain berubah 360 derajat. Kini saya mantap dengan kecerdasan yang saya miliki, passion dan tujuan hidup yang saya jalani, serta komunikasi yang sangat baik dengan berbagai pihak. Tidak pernah terbayangkan saya bisa menjadi diri saya sendiri saat ini. No matter what people say about me, I just do the best based on what I love. Senang rasanya saya sudah mulai percaya diri, lebih terbuka kepada orang lain, tidak malu berkomunikasi dengan orang lain, mau mengembangkan diri, selalu belajar hal-hal baru dari setiap orang yang ditemui, serta pantang menyerah meski selalu gagal.
Kini saya berumur 22 tahun, merupakan seorang gadis dari keluarga mama dan papa. Usia yang kata mereka: “Sudah dewasa lho, Bella.” Ya usia ini menuntut saya untuk berpikir mau jadi apa saya kedepannya. Apa saja hal-hal yang harus dituntaskan dalam umur itu, dan bagaimana saya bisa menjadi cewek seutuhnya. Mama selalu berpesan agar saya tidak melupakan kodrat sebagai wanita (allright mom), beliau benar-benar membuka mata saya kalau cewek itu akan banyak bertanggung jawab pada keluarganya kelak. Mama pun bilang begini: “Kalo sukses di luar rumah, harus sukses pula di dalam rumah.” That sentence has deep meaning for me in the future, if I have husband and children someday ^_^
Well, saya bersyukur di usia 22 tahun ini saya tidak ragu akan keputusan-keputusan yang saya ambil, baik itu yang meyakitkan maupun menyenangkan. Saya juga mengetahui passion saya yang menjadi tujuan hidup kedepannya. Yup, passion saya di bidang pendidikan, lingkungan, wisata dan budaya, menulis, sosial, dan kepemudaan. Bagi saya selagi saya masih menjalani kelima passion itu, tidak ada alasan bagi saya untuk diam di tempat. Akan ada yang saya kerjakan dengan setulus hati jika itu selaras dengan passion saya. Terkait mengenai passion di bidang pendidikan, saya menyukai buku, anak-anak, mengajar, dan memberi ilmu. Untuk lingkungan, saya selalu mengajak teman-teman dan orang di sekitar untuk peduli dengan bumi dan lingkungannya demi kelestarian alam. Kalau wisata dan budaya, saya selalu semangat untuk jalan-jalan mengenal Indonesia, karena dengan mengenal Indonesia secara utuhlah saya bisa mencintai negeri ini. Menulis pun passion saya, dimana saya bisa mencatat perjalanan hidup saya di diary dan blog, entah itu untuk disimpan sendiri atau dishare via internet, itu membuat saya lega. Pada bidang sosial, saya aktif di beberapa komunitas sosial saat ini seperti Sahabat Ilmu Jambi dan Jambi Punyo Crito, dua komunitas yang berjalan di dunia pendidikan dan sejarah/budaya. Dan untuk bidang kepemudaan, saya suka mengikuti kegiatan kepemudaan yang berguna untuk saya, lalu ilmu yang saya dapat tersebut saya bagikan ke teman-teman agar mereka menyadari pentingnya peran diri mereka bagi kemajuan bangsa, seperti Pers Mahasiswa Trotoar, Independent Community of English, Aku Cinta Indonesia Detikcom, Forum Indonesia Muda, Care Environmental Organization, Parlemen Muda, dan Indonesian Young Changemaker Summit. Saya pun menyadari bahwa pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris dan wartawan/blogger merupakan pekerjaan yang saya minati, saya menjiwainya, dan saya mencintainya. Entah karena pengaruh saya lahir di Hari Pendidikan Nasional, atau karena cita-cita mama yang pengin jadi guru nggak tercapai, atau terinspirasi guru di sekolah, saya bercita-cita ingin menjadi guru, tidak mau yang lain. Inilah tujuan hidup saya, dan saya bahagia karenanya.
Masa menjadi Bella Moulina yang dewasa adalah hal istimewa. Dimana saya menemui banyak sahabat, teman, dan orang-orang terdekat. Mereka ada yang tetap berada di samping saya, namun ada pula yang pergi. Tidak menjadi masalah bagi saya. Toh setiap orang sudah ditakdirkan untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa paksaan orang lain. Saya bersyukur mengenal banyak orang yang memberikan ilmu secara gratis, menemukan role model di hidup ini, selalu menyemangati apa yang saya kerjakan, dan mampu menerima kekurangan serta kelebihan Bella Moulina. Dari merekalah saya ada, tanpa apresiasi mereka, Bella nggak bakal dikenang hehe. Atau bahkan kalau saja masih tetap merasa minder dan nggak pede-an, saya nggak bakal keluar dari zona nyaman. Orang-orang disekeliling saya-lah yang membuat hidup saya bermakna. Mereka berada di kehidupan kampus, organisasi, tempat kerja, maupun mereka yang luput dari perhatian saya. Terima kasih sudah ada di bagian hidup saya, tetaplah selalu ada untuk saya :’)
Anyway, sekarang saya tengah berjuang menuntaskan skripsi saya lho, haha.. Dengan semester 10, saya masih berjuang untuk menyelesaikannya dan wisuda September besok (insyaAllah). Hampir 5 tahun kuliah tidak membuat saya malu, toh saya tetap kuliah dan menyelesaikan skripsi di sela-sela aktivitas saya, namun memang terkadang rasa malas menerka. Tapi..selagi rasa malas itu bisa dibangkitkan lagi, pasti saya akan semangat mengerjakan skripsi kok. Nah sekarang saya lagi mikir, seandainya besok wisuda, gimana ya perasaannya? Ahh yang pasti membahagiakan sekali ya? *berimajinasi* Oh ya, selain masih berstatus mahasiswa semester 10 yang masih muda karena masih berumur 22 tahun (sedangkan teman-teman lain sudah 23 tahun), saya juga menjalankan dua komunitas yang bergerak di bidang sosial, yakni Sahabat Ilmu Jambi dan Jambi Punyo Crito. I don’t know why, kedua komunitas ini berharga banget di kehidupan saya, ia seolah-olah menampar muka saya ketika dulu saya masih nyaman dengan hidup, lantas kemudian ada sebuah pertanyaan: Apa yang sudah kamu berikan sebagai pemuda untuk membangun negerimu dan mengatasi masalah di bangsamu? Untuk itulah saya selalu semangat berada di tengah teman-teman yang juga selalu semangat mengembangkan kedua komunitas ini. Saya juga sering mengikuti kegiataan kepemudaan yang menambah wawasan, tidak terbatas pada bangku kuliah dan tidak hanya di Jambi saja. Wajib hukumnya bagi saya untuk menambah ilmu dari siapa saja, apa saja, dan dimana saja. Itu juga didukung dengan pekerjaan saya sebagai guru bahasa Inggris dan blogger, serta dulu pernah menjadi wartawan dalam rentang waktu yang cukup lama. Senang sekali saya mantap dengan pilihan hidup saya untuk berkembang. Meski capek, saya nggak berniat untuk melepaskannya, ada saya disana, dan saya tidak mungkin hilang dari lingkaran itu. ^_^
Future
Masa depan kata orang adalah sesuatu hal yang misteri, yang tidak bisa ditebak apa yang akan terjadi. Tapi saya percaya, jika dari sekarang kita sudah menyiapkan sesuatu untuk masa depan itu, tidak ada keraguan untuk menjalani hidup di masa depan. Orang yang memiliki tujuan hidup akan merasa aman saat melangkah dalam kurun waktu lebih dari lima tahun kedepan. Begitu pula dengan saya. Alhamdulillah Allah Swt memberikan saya akal, pikiran, dan nalar untuk berbuat baik yang saya sukai. Saya pun tidak ragu-ragu untuk memilih apa cita-cita kedepan, mau bekerja seperti apa kelak, memiliki suami dan membekali anak di masa yang akan datang, melakukan sesuatu dengan passion, serta memberikan sesuatu untuk negara meski hal itu kecil. Kalau Allah Swt tidak menghalangi saya di masa depan, insyaAllah itu akan tercapai. Jika kita menyiapkannya dari sekarang, insyaAllah itu akan dikabulkan atas izinNya. Kita yang merencanakan, sedangkan Allah Swt menentukannya.
Pencapaian yang akan diraih di masa depan? Cita-cita? Banyak sih sebenernya haha.. Saya ingin bisa mendapat beasiswa atau mengikuti konferensi di luar negeri. Tidak peduli mau berapa kali gagal dan jatuhnya, saya akan selalu mencoba hingga impian itu benar-benar direstui dan dikabulkanNya. Saya yakin Allah Swt sekarang memberikan saya proses yang manis untuk mendapatkan impian yang tertunda itu. Saya percaya bahwa suatu saat Ia akan mendengar doa hambaNya ini. Someday, I will get that dream, pray for me guys ^_^
Selain itu saya mau lulus kuliah S1 dan kalau bisa melanjutkan kuliah S2 di Jawa atau luar negeri dengan beasiswa di jurusan pendidikan. Lalu saya pengin jalan-jalan keliling Indonesia, mengenal wisata dan budaya serta alamnya yang indah dengan backpaker. Saya juga pengin menambah pengalaman dengan mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan. Saya ingin mengikuti seleksi Indonesia Mengajar, yang menempatkan lulusan dari setiap universitas untuk mengajar di daerah terpencil di Indonesia. Pun saya juga ingin mengajar di daerah terpencil di Jambi pula. Miris rasanya kalau semua guru bahagia ditempatkan di kota saja, lalu bagaimana nasib mereka yang terpinggirkan oleh zaman modernitas itu? Lantas saya ingin mendirikan sekolah berbasis multiple intelligences, sekolah alam, dan sekolah budaya. Pengin masukin anak-anak tidak mampu yang cerdas dan anak-anak yang susah dididik di sekolah itu. Saya juga pengin lho berbisnis yang mencakup dunia pendidikan bareng dua partner sejiwa, kak Meila dan Melly, yakni cafe buku. Saya juga bercita-cita membahagiakan orang tua dengan menaikkan mereka haji, membuat adik-adik sekolah sesuai keinginan mereka, membuat keluarga bangga terhadap Bella Moulina. Terakhir saya ingin menjadi wanita yang kelak membahagiakan suami dan anak-anaknya, yang menuntun mereka untuk bahagia di dunia dan akhirat, yang selalu ada di saat mereka senang dan sedih, oh hopefully :’) Tak terkecuali untuk negara dimana saya dibesarkan, saya ingin semua masyarakatnya makmur dan sejahtera, nggak ada lagi penjahat dan koruptor! Well kira-kira begitulah seorang Bella Moulina kedepannya,mungkin bisa dibayangkan betapa riweuhnya hidup saya nanti ya? Haha..but I enjoy it.
Last but not least, hari ini adalah hari yang membahagiakan buat saya. Banyak orang memberikan selamat ulang tahun kepada saya, doa-doa yang diutarakan, serta harapan mereka kepada saya. Semuanya membuat saya tersenyum hari ini, dan saya menyadari bahwa begitu bahagianya hidup ini ketika hidup kita berarti bagi orang lain. Terima kasih juga kadonya ya Dek Sadi, adik saya yang paling bungsu, yang ngasih cokelat Silverqueen, hehe..tumben nih. But, ada juga yang menyedihkan buat saya di hari ulang tahun yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional ini. Orang-orang terdekat seperti mama, papa, kakak, dan sahabat nggak ada disampingku. Mereka hanya mengirimkan pesan via sms atau social media, dan menelepon saya. Padahal saya sangat ingin sekali mereka ada disamping saya di hari berharga ini, namun apa mau dikata, mama, papa, dan kakak sedang banyak tugas yang nggak bisa ditinggalkan, dan sahabat pun sama. Tapi ya sudahlah, sejauh saya bisa mengerti kondisi mereka, it’s oke for me. Untungnya saya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, jadi meskipun sedih ya dibahagiain aja hehe
Ya Allah, Tuhan pemilik alam semesta yang megah ini. Itulah yang bisa Bella tuliskan untuk mereka yang menyayangi Bella. Terima kasih atas kesempatan hidup hingga umur 22 tahun ini untuk berkarya bagi diri sendiri, keluarga, orang lain, dan keluarga. Berikanlah saya kesehatan, panjang umur, ketentraman hati, dan semangat pantang menyerah untuk melanjutkan perjuangan hidup. Buatlah Bella Moulina selalu tersenyum di hidup yang kadang manis dan pahit untuk dijalani ini. :’)
Tantangan Berbahasa Indonesia Di Masa Kini
30 Apr 2012 Leave a Comment
in My Thoughts
Mengutip salah satu isi Sumpah Pemuda, dalam ikrarnya terkandung satu poin yang menyatakan bahwa untuk mempersatukan bangsa adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928 kala itu, isi ikrar Sumpah Pemuda pun menggunakan bahasa Indonesia. Poin yang tercantum didalamnya pun menunjukkan bahwa kita bersatu padu dalam menggunakan bahasa Indonesia. Berkomunikasi dalam bahasa Indonesia antar sesama teman contohnya, bukankah itu menunjukkan bahwa kita disatukan di negeri ini?
Sebagai penduduk yang lahir dan besar di bumi pertiwi ini, adalah suatu kewajiban menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia kini merupakan bahasa yang digunakan sebagai pengantar pendidikan di seluruh institusi pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan tinggi. Bahasa Indonesia juga masuk dalam daftar mata pelajaran yang akan diujikan, yaitu Ujian Akhir Nasional. Dimana dalam hal ini, pemerintah berupaya mengoptimalkan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat agar lebih baik.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan oleh Republik Indonesia. Hal ini telah disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Jika kita melihat sejarah, bahasa Indonesia adalah salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Bahasa Indonesia bisa dikatakan ‘lahir’ pada tanggal 28 Oktober 1928, sedangkan resmi diakui keberadaannya sehari setelah kemerdekaan Republik Indonesia, 18 Agustus 1945.
Meski perjalanan bahasa Indonesia terbilang sangat lama diakui keberadaanya, tetapi hanya sebagian kecil penduduk Indonesia yang setia menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kenyataannya penduduk Indonesia lebih memilih menggunakan bahasa daerahnya saat berbicara ketimbang bahasa indonesia Indonesia, seperti bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan lain-lain. Pengakuan dari berbagai pihak yang saya wawancarai, mereka menyatakan bahwa menggunakan bahasa daerah lebih kental rasa kekeluargaannya karena hal itu telah turun temurun pada komunitas mereka. Ketika berkumpul, umumnya mereka merasa lebih akrab apabila berbicara bahasa daerah. Meskipun begitu, mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia ketika berada dalam kondisi formal, pun termasuk berbicara lebih sopan kepada mereka yang lebih tua umurnya.
Tantangan untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan tidak berhenti disitu saja. Di sisi lain, menggunakan bahasa gaul menjadi tantangan Indonesia saat ini. Maraknya penggunaan bahasa gaul yang sering digunakan oleh remaja membuat bahasa Indonesia terseok-seok. Penggunaan bahasa alay lebih parah lagi. Hal ini marak saya saksikan di beberapa akun social media hingga percakapan sehari-hari. Tentu di satu sisi, penggunaan bahasa tersebut menambah kreativitas seseorang. Mereka mudah untuk mengeksplorasi diri dengan memberikan khasanah kreativitas dalam menciptakan sesuatu. Tetapi di sisi lain, perlu adanya kontrol diri untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia. Pernah suatu kali saya bertanya kepada mereka tentang apakah ada kebanggaan tersendiri jika menggunakan bahasa gaul/alay, mereka menjawab bahwa mereka akan diterima dalam suatu komunitas tertentu jika menggunakan bahasa tersebut. Kini saatnya kita bisa lebih bijaksana menggunakan bahasa gaul/alay, agar seimbang penggunaannya dengan bahasa Indonesia.
Pada suatu konferensi internasional, dimana warga dari seluruh dunia berkumpul, kita dituntut untuk bisa menguasai sekurang-kurangnya satu bahasa yakni, bahasa Inggris. Bahasa tersebut merupakan bahasa penghubung bagi kita dan warga luar negeri. Kita pun bisa berkomunikasi dengan lancar ketika mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik. Contohnya ketika kita ingin mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia, kita harus mampu untuk menerjemahkan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris agar mereka tertarik untuk berkunjung ke negara kepulauan ini. Bahasa pengantar ini pun merupakan keharusan bagi dunia kerja dan karir saat ini untuk memasuki era globalisasi. Jadi bukan saja bahasa Inggris memang diperlukan saat berkomunikasi dengan orang luar negeri saja, ia pun memiliki peran penting dalam kehidupan di masa modernitas saat ini. Tentu saja berbicara dalam bahasa Inggris ada konteksnya, dan kita tidak bisa melihat seseorang yang menggunakan bahasa Inggris berarti bahwa dia tidak mencintai bahasa Indonesia-nya sendiri. Ada suatu kesempatan dan kondisi dimana ia memang harus menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Bagi saya, mencintai Indonesia sama saja dengan mencintai kelebihan dan kekurangan bangsa ini, termasuk mencintai bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari pun menunjukkan kita menghargai bahasa Indonesia yang dipakai. Saya sendiri menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara dengan teman sejawat serta menulis di koran dan blog pribadi. Meski terkadang bahasa Indonesia dipadukan dengan bahasa daerah atau bahasa Inggris, tetapi saya tidak ingin menghilangkan esensi bahasa tersebut. Pun kita tidak bisa menutup diri bahwa penggunaan bahasa daerah seringkali dipakai ketika berada di suatu desa, atau bahkan ketika mengikuti konferensi internasional kita membutuhkan bahasa Inggris sebagai penghubung. Namun yang tidak boleh dihilangkan adalah penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri, dimana karakter bangsa terlihat pada bahasa Indonesia, yakni menghargai dan mencintai. Lalu, sudahkah anda bangga berbahasa Indonesia di masa kini? Sudahkah anda mencintai bahasa Indonesia dan mengoptimalkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Sahabat Ilmu Jambi dalam Liputan Media, Dare to Dream, dan Capacity Building
29 Apr 2012 2 Comments
in Mutiara Hidup, Sahabat Ilmu Jambi
Tahun 2012 bagi saya merupakan awal tahun yang baik bagi Sahabat Ilmu Jambi (SIJ), komunitas sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Kenapa saya katakan begitu? Karena pada awal tahun ini SIJ banyak menerima kabar baik dan banyak memberikan program terbabik bagi adik asuh dan relawannya. Rentang waktu antara Januari hingga April ini, saya banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak: liputan media elektronik DAAI TV dan JEK TV, liputan media massa Tribun Jambi, on air di Radio Boss Fm Jambi, mengadakan program Dare to Dream dan Capacity Building untuk pertama kalinya bagi adik asuh dan relawan, mendapatkan mini grant yang insyaAllah akan dikirim oleh pihak Indonesian Future Leaders melalui keikusertaan saya di Parlemen Muda Indonesia, hingga ditelpon mbak Hasanah (Pimred Tribun Jambi) dua hari yang lalu untuk berbincang-bincang mengenai saya dan SIJ. Selebihnya saya sangat bersyukur teman-teman masih berkomitmen berjuang, semangat mereka tetap menyala di tengah derasnya aktivitas yang mereka lakukan.
Pendampingan berjalan seperti biasa, kami melakukan pendampingan terhadap adik asuh di dua panti yakni Panti Asuhan Darul Aitam dan Panti Asuhan Madinatul Aitam. Pendampingan pada 24 Maret lalu sangat berkesan karena pertama kalinya kami diliput oleh televisi Jakarta, DAAI TV, dalam program Meniti Harapan. Saya yang pada akhir Januari lalu mengikuti Parlemen Muda Indonesia di Jakarta diwawancarai oleh Pak Hong Tjhin mengenai komunitas sosial yang dijalankan di Jambi. Kemudian pada 23-25 Maret lalu, kami kedatangan mbak Vince dan mas Bannu untuk meliput langsung kegiatan SIJ di Jambi. It’s truly an honour for us. Syuting selama dua hari tersebut juga sangat berkesan karena kami serentak meluncurkan program terbaru bagi adik asuh selain pendampingan, yakni Dare to Dream. Dare to Dream adalah sebuah program yang mengajak adik asuh untuk berani meraih cita-cita/impian mereka dengan mendatangkan anak muda berprestasi untuk ngobrol-ngobrol dan memberikan kemampuan. Ketika DAAI TV meliput kemarin, kebetulan kak Bona merupakan pembicara Dare to Dream pertama yang bersedia kami ajak untuk memberikan materi Melukis Mimpi. Kak Bona mengajak adik-adik untuk melukis sebuah profesi atau cita-cita yang ingin mereka raih suatu saat. Dare to Dream berjalan dengan sukses, adik-adik diharapkan berani bermimpi untuk meraih cita-cita mereka.
Selain DAAI TV, SIJ juga diliput oleh JEK TV dalam program Bincang Komunitas. Pada program ini, kami syuting di Jamtos. Beda halnya dengan DAAI TV yang banyak mengambil lokasi syuting, JEK TV hanya syuting di satu lokasi saja. Disana kami menceritakan apa itu SIJ kepada masyarakat. Disana saya juga tidak sendiri, tapi ditemani oleh Ein, Arif, Juki, dan Andi. Tayangan SIJ di JEK TV bahkan diputar berulang-ulang di stasiun TV swasta milik Jambi Ekspres tersebut hingga tiga kali. Senang sekaligus khawatir sih kalau-kalau pemirsa JEK TV bosen ngelihat kami melulu, haha. Ow ya selain media elektronik, kami juga diliput media cetak yakni Tribun Jambi. Mas Kelik lah sang inisiatornya buat ngeliput kami, setelah dulu pernah diliput di Jambi Eskpres juga, tahun ini SIJ kembali diliput media cetak dalam halaman Community. Tidak berhenti disana saja, SIJ juga diajak on air oleh radio Boss Fm dua minggu kemarin. Seperti biasa ketika komunitas diundang on air, kami diajak berbincang-bincang mengenai kegiatan SIJ. Dalam obrolan di radio ini saya bersyukur ditanyai harapan kepada pemerintah. Langsung deh panjang harapannya buat pemerintah hehe
Well, sebenarnya nggak nyangka SIJ bakal secepat ini diliput berbagai media, mengingat kami masih 8 bulan dan belum banyak memberikan kontribusi. Tapi kami yakin kalau suatu hal dikerjakan dengan konsisten dan komitmen, perubahan sekecil apapun akan terjadi. And we will prove it, meningkatkan minat membaca dan menulis serta berbagi ilmu dengan mereka yang kurang beruntung.
Anyway, SIJ sekarang sudah lebih PD untuk menjajaki perusahaan, seperti memasuki proposal ke Gramedia. Saya dan kak Meila beberapa waktu lalu memasuki proposal, kalau-kalau saja kan dapet sumbangan buku dari Gramedia, alhamdulillah. Untungnya kemarin sudah sempat bertemu dengan pihak Gramedia langsung dan mas-nya menyambut baik. Tinggal ditindaklanjuti saja mengenai perbincangan kemarin, mudah-mudahan SIJ bisa diberikan donasi buku oleh Gramedia. Tidak hanya dukungan dari perusahaan saya yang berusaha kami jajaki, kami juga akan diberikan kesempatan oleh Indonesian Future Leaders, organisasi kepemudaan independen yang menyelenggarakan Parlemen Muda Indonesia beberapa waktu lalu yang saya ikuti, untuk menggunakan dana sebesar Rp. 500.000 dalam menjalankan proyek sosial SIJ. Saya baru-baru ini mengirim email proposal kepada pihak IFL, semoga saja itu bisa cepat ditindaklanjuti oleh Iman dkk, agar kami bisa menggunakan uangnya untuk program pendampingan, Dare to Dream, dan talkshow ke sekolah-sekolah mengenai kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa.
Di sisi lain, impian untuk memiliki sekretariat dan perpustakaan sudah terkabul. Terima kasih untuk Maul sekeluarga yang meminjamkan tempatnya untuk SIJ, terima kasih juga untuk teman-teman yang sedari awal membangun sekre ini dari awalnya gudang hingga berubah menjadi sekre nan cantik. Kami pun mulai membuka taman baca karena banyaknya buku yang disumbangkan oleh donatur. Alhamdulillahnya, hingga saat ini sudah banyak kaum remaja dan dewasa yang meminjam buku disini. Kami meminjamkannya secara gratis, tapi ketika mereka lewat satu minggu mengembalikannya, kami terpaksa memberikan sanksi yakni berupa denda satu hari Rp. 1.000/buku. Anyway, rencananya kami akan membentuk klub buku bagi mereka yang suka meminjam buku, namun ini akan menjadi rencana kedepannya. Doakan saja banyak yang minjam buku disana, biar kami secepatnya membentuk klub buku. Ow ya bagi teman-teman yang mau menyumbangkan buku bekas atau baru, kami sangat welcome lho, ditunggu ya sumbangannya untuk SIJ ^_^
Nah, untuk Sabtu kemarin, tepatnya pada 28 April, kami mengadakan program capacity building dengan tema How to Find Passion and Live it! Pembangunan kapasitas diri ini dilaksanakan khusus untuk relawan SIJ di Taman Anggrek Jambi. Sebelum memulai acara, saya mengajak mereka untuk bermain games pengenalan diri dengan menjelaskan hal-hal unik yang ada pada diri mereka. Gamesnya seperti ini: Tiara misalnya, karena dia merasa jiwa penari ada di dalam dirinya, maka dia berkata “Halo, saya Tiara, saya seorang penari,” dia berkata seperti itu sambil menginterpretasikan gerakan yang menunjukkan dia seorang penari. Well, sounds interesting right? Teman-teman diajak berpikir keunikan mereka, dan teman-teman secara tidak langsung mengetahui keunikan masing-masing relawan. Ada yang menyukai band, model, baca, fotografi, dan wirausaha. Keren-keren banget kan relawan SIJ?
Well, disana saya memberikan materi passion kepada teman-teman. Senangnya bisa berbagi dengan mereka bagaimana kita sendiri harus mengetahui apa passion kita, dimana itu akan membawa kita lebih mudah menjalani hidup dari hal-hal yang kita sukai. Materi tentang passion ini bertujuan agar teman-teman bisa mengetahui passionnya dimana, kemudian bisa membawa mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai passionnya kelak. Disini saya memberikan pengarahan yang teratur dalam enam kertas. Yup, mereka harus menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan menyadari sesungguhnya siapa diri mereka, karena passion itu adalah proses pengenalan diri dan passion ada di diri mereka. Saya menanyakan siapa yang menjadi inspirasi mereka dan kenapa, tentang diri mereka, skill yang dimiliki, apa hal yang disukai dan dibenci, antusiasme diri terhadap sesuatu, hingga mau jadi apa mereka kedepannya (cita-cita). Dalam acara yang berlangsung satu jam tersebut, kami banyak berdiskusi mengenai passion. Saya juga berpesan kepada mereka agar menempelkan kertas yang telah ditulis di dinding kamar agar impian yang mereka tulis menjadi pemantik semangat mereka untuk mendapatkan impiannya. Nice chating with them, tired but fun! ^_^ Setelah materi passion berakhir, kami pun membahas pendampingan di dua panti, baik itu kendala maupun saran. Sesi ini diinisiasi oleh Ein, dia juga memberikan materi soal pendampingan bulan Mei yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Dalam kesempatan ini, masing-masing relawan juga saling memberi kritik dan saran. Mereka juga semakin terbuka wawasannya bagaimana menjadikan diri sebagai kakak asuh yang baik. Karena kalau sudah tune in dengan adik asuh, insyaallah visi misi akan tercapai bukan? Well, kegiatan kemarin ditutup dengan foto bareng dan makan ala kadarnya dalam suasana piknik. Terima kasih sudah dateng di capacity building yang pertama teman-teman, semoga tahap keduanya bisa lebih antusias lagi ya da dan bisa diikuti semua peserta!
All in all, satu kejutan yang bikin saya penasaran adalah dua hari yang lalu saya ditelepon oleh mbak Hasanah, pimpinan redaksi koran Tribun Jambi. Beliau mendadak menelpon saya untuk memberi tahu bahwa dia pengin mengobrol tentang saya dan SIJ. Suatu kabar yang mencengangkan dan membuat saya bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang diinginkan mbak Hasanah ya? Kata beliau sih mau dijadikan tulisan, tapi saya nggak tahu juga. Beliau pun bertanya kepada saya apakah setelah tanggal 13 Mei ada di Jambi, karena setelah tanggal itu beliau ingin mengajak saya mengobrol tentang hal itu. Jujur nih, saya nggak nyangka banget mbak itu mau menelepon dan mengajak mengobrol, secara sebelumnya saya nggak pernah kontak langsung dengan beliau. Palingan yah ama mas Kelik, mas Pras, dan mas Hanif doang bergaulnya. Dalam hati sih berharap pertemuan dengan beliau nantinya akan memberikan wawasan positif bagi saya. For sure, I can’t wait to meet her soon!
Segitu dulu deh laporan kabar baik untuk SIJ ya teman-teman. Doakan kami tetep semangat menjalani kegiatan ini, doakan kami tetep istiqomah ya untuk memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan di Jambi. Mohon doa restunya agar kami senantiasa kompak, karena kalo nggak kompak ya gak bakal ada SIJ di Jambi kan? Terima kasih atas doa dan dukungannya. Ayo menebar ilmu dan membuka cakrawala bersama kami ^_^
Surat Untuk Kakak…
29 Apr 2012 2 Comments
in Curhat
Di suatu terik matahari, di sebuah kamar bercat pink dengan aura temaram didalamnya..
Surat ini ditujukan kepada kakak dimanapun kakak berada
Hai kak, apa kabar? Selalu baik-baik saja dan selalu semangat dengan pekerjaannya ya? Oh as I wish for you, all the best for you brother. Kakak, aku masih ingat apa yang kakak message beberapa minggu lalu di Facebook. Awalnya aku bingung, siapa kakak? Tahu aku dari mana? Dan mengapa tiba-tiba minta pin BB? Kakak, masih ingat kan apa yang kakak katakan waktu itu kepada Lova? Lantas Lova bilang bahwa kakak minta pin BB aku dan dia tidak memberikannya. Dan kakak bilang kepada Lova, kakak suka cewek yang berkegiatan sosial seperti aku? Waktu itu aku hanya menganggap sebagai angin lalu. Meski tersenyum juga akhirnya ^_^
Kak, aku masih ingat betul apa yang kakak tulis di sebuah percakapan singkat melalaui text handphone beberapa waktu lalu. Bahwa kakak bukan sekedar orang yang mengagumi aku saja, kakak menaruh hati kepada Bella kan ya? Jujur aku berterima kasih sekali. Senang mendengarnya. Aku bahkan tidak percaya bahwa seorang kakak yang dulu notabene termasuk mahasiswa sangat alim di kampus bisa menyukaiku, entah itu asalnya dari mana aku gak tahu. Bahkan ketika kakak bilang bahwa jika aku jodoh kakak, kakak pengen aku menjalani hari-hari dalam bingkai kehidupan bersama kakak. Sampai disini, aku yang bingung, kenapa harus aku?
Kakak pernah bilang kalau kakak sudah tahu Bella sejak lama, sejak masih terlibat organisasi kampus ternama di sana. Kakak mengenalku dari potongan tulisan yang berserak di koran, status di facebook, dan pembicaraan beberapa orang mengenai diriku. Kemudian kakak kembali teringat kepadaku saat aku dan Lova terbit di sebuah koran. Kakak lantas teringat kepadaku, dan kakak mantap mengatakan hal di atas kepadaku. Meski aku merasa kakak mengatakannya begitu cepat, tapi aku salut atas keyakinan kakak terhadapku. Namun aku berharap kakak tidak salah pilih, aku takut suatu saat kakak salah pilih terhadap wanita sepertiku.
Namun kakak meyakiniku. Kakak menanyakan hal yang sama terhadap perasaanku. Dan aku menjawab akau akan menjalaninya tanpa sebuah ikatan pacaran, karena memang aku tidak ingin ada kata-kata itu di hidupku lagi. Aku sudah cukup mengalami kebencian yang teramat sangat, dan aku tidak ingin ketika jalinan yang diikrarkan itu hancur lagi. Aku mengatakan bahwa mungkin sebaiknya kita sama-sama mengenal diri masing-masing. Dan kakak pun mengiyakannya, yang berarti bahwa kakak akan tetap disampingku, yang akan menemai perjalanan ke Raja Ampat dan Lombok, serta Padang, yang selalu menyemangatiku untuk tetep berjuang bagi Indonesia.
Namun ada suatu masa yang aku sendiri bingung melihat kakak. Entah karena kakak sibuk bekerja, atau memang kakak tidak terbiasa untuk mendekati seorang cewek yang kakak sendiri perjuangkan, aku jadi bingung kak. Beneran deh. Aku bingung, kalau aku hubungi kakak, apa mengganggu pekerjaan? Apa kakak sibuk? Atau itu memang tipe kakak yang tidak biasa untuk mengajak mengobrol duluan? Atau memang harus aku terus yang menyapa kakak ya? Di titik ini, kadang aku bertanya-tanya, apa kakak benar-benar memilih aku? Atau memang hal seperti itulah yang bisa kakak berikan kepadaku, tidak mampu memberikan perhatian lebih yang aku inginkan kak? Aku selalu saja bingung, bimbang, dan galau memikirkannya. Since we are not in relationship, I do not want to force you to give something. Tapi ketika aku teringat kalimat yang dulu kakak BBM-in, aku jadi bertanya-tanya, are you really into me?
Tapi ya sudahlah kak, aku hanya bisa menjalaninya saat ini. Aku tidak menginginkan apa-apa saat ini. Aku tidak ingin kakak menganggapku anak-anak dengan meminta sejuta perhatian setiap harinya. Aku biarkan sajalah apa yang dilewati saat ini. Meski kadang aku juga kangen kakak, tapi aku nggak bisa berbuat banyak. Aku hanya menjalani apa yang telah Allah Swt gariskan untukku kak. Kalau kita berjodoh, ya artinya kakak akan jadi imamku kelak, namun kalau tidak berjodoh berarti kita bukanlah pasangan yang baik dimataNya.
Kakak perlu tahu, bahwa sama seperti kakak, aku yakin terhadap apa yang aku jalani. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang kakak dimataku. Kakak baik, selalu menyemangati, bekerja keras, dan peduli. Itu sudah lebih dari cukup meyakinkanku untuk sama-sama menjalani ini. Namun aku takut kak, kalau suatu hari kakak berpikir bahwa aku bukan orang yang tepat bagi kakak. Takut sekali, entah kenapa. Meski aku tahu, aku bukanlah wanita sebaik apa yang kakak lakukan, tapi aku akan memperbaiki diri untuk menghapuskan dosa-dosa di masa lalu agar aku yakin kakak untukku yang dikirimkan olehNya. Terima kasih telah ada untuk beberapa minggu ini, terima kasih telah peduli kepada hambaNya yang nista ini.
Jambi, 29 April 2012
Bella Moulina
Gaya Hidup Hijau Untuk Bumi Kita
29 Apr 2012 Leave a Comment
Suatu kali saya naik motor, di jalan tiba-tiba melintas sebuah mobil yang tidak begitu cepat melajunya. Tidak berapa lama, kac mobil bagian depan dibuka, dan tangan penumpang yang ada di dalamnya terjulur ke luar. Dia sembari memegang sebungkus plastik snack, kemudian tidak berapa lama bungkus plastik yang saya yakini merupakan sisa makanannya ia buang begitu saja di jalan. Seperti berasa nonton pertunjukan orang-orang yang nggak punya pikiran, saya misuh-misuh dalam hati. Well, seenaknya saja kalian memperlakukan bumi yang kalian tumpangi hidupnya? Sebegitu mudahkah buang sampah sembarangan, wahai kalian?
Perbuatan seperti itu bukan hanya tampak pada jalanan saja, namun seringkali saya lihat sampah yang kita hasilkan sering dibuang begitu saja karena tidak ada tong sampah. Kebanyakan orang yang saya lihat akan menyimpan sampahnya di kolong meja, membuangnya di tanah, dan meninggalkan sampah di sebuah tempat ketika mereka selesai bikin acara. Apakah kalian masuk kategori itu? Mungkin bisa dijawab masing-masing, dan menyadari apa yang telah dilakukan untuk bumi? Positif atau negatifkah? Merugikan atau bermanfaatkah bagi bumi?
22 April lalu, Bumi merayakan hari jadinya untuk kesekian kalinya. Yup, bumi yang kini sudah tua dan renta merayakan ulang tahunnya setiap tanggal tersebut. Dalam memperingati Hari Bumi itu, banyak yang melakukan kampanye lingkungan untuk menjaga bumi dari kerusakan. Komunitas atau organisasi peduli lingkungan menyuarakan aspirasinya, mengajak semua elemen masyarakat untuk bergaya hidup hijau agar mampu meminimalisir laju pemanasan global yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan manusia di bumi. Lalu seperti apakah gaya hidup hijau kalian?
Saya meyakini bahwa sesuatu hal yang kecil bisa berdampak besar jika dilakukan secara konsisten dan berkomitmen. Ini terjadi pada semua hal, termasuk melakukan hal-hal kecil untuk melindungi bumi. Jangan anggap remeh chargeran listrik yang sengaja tidak kalian cabut setelah mengecas handphone. Jangan anggap sebuah kewajaran jika membuang sampah sembarangan karena tidak ada tong sampah. Toh meski negara-negara berkembang memiliki andil besar dalam laju pemanasan global, toh meski aparat tetap saja membiarkan perusahaan-perusahaan menebang pohon kelewat batas, toh meski pemerintah tidak memberikan solusi terbaik dalam menanggulangi masalah lingkungan, singkirkan dulu skeptis kita terhadap hal itu. Pikirkanlah bahwa kita hidup untuk tahun-tahun berikutnya. Namun bukan saja kita yang hidup di dunia ini, tapi anak cucu kita kelak akan merasakan dampaknya. Jadi, apapun yang kalian lakukan terhadap bumi, bertanggungjawablah akan hal itu. Hal-hal kecil bisa berdampak baik bagi bumi dengan menerapkan gaya hidup hijau. Sebaliknya hal-hal remeh temeh yang tidak menjaga bumi pun akan merusak lingkungan.
Menurut saya, menerapkan gaya hidup hijau gak sulit dibayangkan kok. Disini saya mau share dengan teman-teman apa saja yang telah saya lakukan (dalam konteks gaya hidup hijau) untuk menjaga bumi. It starts from simple things guys, jadi jangan anggap itu sebagai hal yang sulit ketika dilaksanakan. Believe me, perubahan dimulai dari diri kita, dan perubahan gaya hidup hijau dimulai dari sekarang dengan melaksanakan gaya hidup hijau di bawah ini.
- Selalu bawa tumbler. Tumbler bagi saya merupakan cara ampuh untuk tidak mengkonsumsi air mineral dalam kemasan plastik. Saya memakai tumbler sejak dua tahun lalu. Pertama karena saya pikir jika satu hari saya minum dua botol mineral, satu tahun berapa uang yang saya habiskan untuk sekedar membelinya? Kemudian saya juga sadar bahwa botol minuman bisa menjadi gaya hidup yang meminimalisir penggunaan botol plastik. Meski memang kita harus hati-hati dalam memilih tumbler yang ramah terhadap kesehatan, kita pun juga harus tahu bahwa itu berkontribusi banget bagi bumi.
- Bawa tas belanja kemanapun. Dulu saya selalu bingung kenapa mesti bawa tas belanja sendiri dari rumah. Apa sih kerennya? Yang ada malah nyusahin, hehe. Tapi ketika saya tahu kalau plastik kantong kresek yang selalu kita terima di pusat perbelanjaan itu tidak bisa hancur di tanah untuk berjuta-juta tahun lamanya dan malah merusak PH tanah itu sendiri, saya lantas beralih ke tas belanja. Tas belanja kain itu pun selalu saya keluarkan ketika membeli sesuatu. Atau kalau yang saya beli sedikit, saya langsung masukin ke dalam tas, seraya bilang: “Saya gak ambil plastiknya mbak.”
- Bertanggung jawab dengan sampah. Yup, setiap hari kita pasti menghasilkan sampah bukan? Coba deh cek berapa banyak sampah yang kamu keluarkan setiap harinya, lalu hitung berapa lama kamu hidup di dunia, dan hasilnya pasti wooowww! Kita banyak sekali membuat sampah bertumpuk di TPA-TPA dan menjadi gundukan sampah yang baunya pun tidak sedap. Untuk meminimalisir sampah, saya selalu mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Atau bahkan kalau sudah berjudulkan ‘sampah’, saya akan selalu membuangnya di tong sampah. Misalnya tidak ada tong sampah di sekitar saya, sampah itu saya masukkan ke dalam kantong dulu, lalu kalo ada tong sampah saya buang disana. Pernah saya ditertawai teman oleh hal ini, tapi saya cuek aja. Toh saya harus bertanggung terhadap sampah sendiri kan?
- Hemat energi. Bukan tidak mungkin ketika pagi hari, kalian masih melihat lampu-lampu di jalan masih menyala, saya pun begitu. Bahkan lampu di rumah kita sendiri ada yang menyalakannya hingga siang hari! Oh my God. Ini kan nggak banget! Kalau ada sesuatu yang terbuang sia-sia dan kita tidak memaksimalkan potensinya, pasti suatu saat sumber tersebut akan habis seketika. Jangan kalian anggap bahwa tidak mencabut chargeran handphone merupakan hal yang biasa. You are totally wrong! Kalau sudah mengecas handphone atau lampu kamar tidak terpakai, ya mbok dimatiin kenapa? Saved the energy!
- One man one tree. Menanam pohon atau merawat tanaman di sekitar pekarangan rumah wajib hukumnya jika pengin rumah kalian adem ayem. Saya selalu senang banget kalau di suatu rumah ada banyak tanamannya. Bukan hanya sedap dipandang, namun juga berkontribusi dalam memberikan asupan oksigen kepada makhluk hidup serta menyerap karbondioksida dari polusi udara! Jadi kalau di rumah ada tanaman, yuk dirawat bersama-sama. kalau belum ada tanaman, yuk tanam pohon yang sekiranya selain bisa bermanfaat bagi bumi, juga bermanfaat bagi kehidupan dunia masak memasak setiap harinya, hehe.
Well, apapun yang kalian lakukan di hidup ini, lakukan dengan wisely. Bijak menggunakan sesuatu, bijak melakukan sesuatu, dan bijak merawat bumi untuk kelangsungan lingkungan alam yang baik di masa depan. Itu bukannya tugas kita sebagai khalifah yang diturunkan oleh Allah Swt ke bumi? Jadi sebagai utusan Tuhan, jagalah bumi dan lingkungannya. Pedulilah untuk merawatnya, jangan seenak perut saja menghancurkan bumi. Atau bahkan kita gak tahu kalau selama ini perbuatan kita merusak lingkungan? Wallahua’lam.

![IMG-20120517-00114[1]](http://gogreenbella.files.wordpress.com/2012/05/img-20120517-001141.jpg?w=300&h=225)
![IMG-20120512-00070[1]](http://gogreenbella.files.wordpress.com/2012/05/img-20120512-000701.jpg?w=300&h=225)

