Menjadi Relawan di Sahabat Ilmu Jambi

Kata Ibu Tri Mumpuni, sesuatu hal jika dikerjakan dengan konsisten, fokus, dan amanah, maka menghasilkan perubahan positif. And I believe what she says! Sama seperti apa yang telah teman-teman relawan lakukan di komunitas sosial Sahabat Ilmu Jambi, kegiatan pendampingan di panti asuhan yang bermula dari hal-hal kecil tersebut suatu saat akan mengalami peningkatan yang lebih baik, asalkan semua relawan dan adik asuh konsisten, fokus, dan amanah. Now, I wanna tell about Sahabat Ilmu jambi.

SIJ, satu hal yang dulu terpikir di benak saya untuk membuat komunitas dengan background pendidikan. Namun di sisi lain, saya takut nggak punya teman dan nggak dapat dukungan dari banyak orang. Hingga akhirnya setelah balik dari KKN di Desa Muaro Jambi, keinginan untuk membuat komunitas yang bergerak nyata di Jambi tidak bisa ditolerir lagi. Kemudian saya menyampaikan keinginan tersebut kepada kak Meila. Kami pun sepakat untuk mendirikan SIJ, nggak peduli apa bakal banyak orang yang mendukung atau malah mencemooh. The most important is, let’s start!

Terbentuk pada 5 Agustus 2011 di Unja Telanai, saya dan beberapa orang teman kala itu menyepakati keberadaan SIJ di Jambi. Kami ingin berbuat sesuatu yang buka sekedar wacana. Dengan keinginan tulus tanpa niat apapun, membuat anak-anak kurang beruntung bisa mendapatkan ilmu gratis dan cakrawala hidup bertambah. Menjelang 7 bulan kehadiran SIJ di Jambi, kami memang masih kecil. Pendampingan di panti asuhan pun perlahan-lahan ada kemajuan, sejak pertama kali pada tahun lalu kami masuk ke panti hingga melakukan pendampingan setiap minggunya, anak-anak sudah mulai dididik dan diajak hobi membaca dan menulis.

Sabtu kemarin, 25 Februari, kami mengadakan gathering kedua di Kedai Kopi (terima kasih mas Rahmad atas peminjaman tempatnya :D ). Gathering kedua merupakan tempat kami berkumpul dan mengevaluasi pendampingan selama tiga bulan terakhir (Desember-Januari-Februari). Hasil pemantauan saya terhadap perkembangan minat membaca dan menulis dari relawan yang menjadi kakak asuh adalah kami masih perlu meningkatkan tujuan menjadi 60% untuk melengkapi 100% tercapainya tujuan di dua panti yang kami bina.

Yup, semua butuh proses, saya percaya relawan sudah berusaha semampu mereka untuk mengenal adik asuh, mengetahui kecerdasan, meningkatkan minat membaca dan menulis, menambah ilmu pengetahuan mereka, memotivasi mereka untuk belajar lebih rajin, dan lainnya. Tentu saja apa yang kami lakukan tidak terlepas dari pribadi sang adik, saya berharap adik asuh di dua panti tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan berbagi ilmu yang kami berikan. Sesuai harapan saya dan teman-teman, meski mereka berasal dari kategori kurang beruntung, tentunya kehadiran SIJ dapat memotivasi mereka untuk mendapat ilmu lebih baik!

Btw, gathering di Keiko kemarin juga memberikan pelatihan kerelawanan dan program pendampingan adik asuh. Teman-teman sangat antusias mengajukan pertanyaan dan berdiskusi bersama-sama. Ini yang bikin saya semangat! Ternyata saya nggak sendirian, saya memiliki banyak teman-teman yang konsisten, fokus, dan amanah dalam menjalankan kewajiban sebagai warga negara: MENCERDASKAN ANAK BANGSA. Senang sekali rasanya jika kami bisa berkolaborasi dan memiliki visi misi yang sama. Saya yakin perjuangan ini nggak berhenti sampai disini saja. Ia akan berkelanjutan, SIJ akan terus ada, hingga semua anak-anak Jambi hobi membaca dan menulis ^_^

Guys, kami percaya SIJ nggak akan bisa berjalan tanpa dukungan dan kerjasama orang lain. So that, kami membutuhkan beberapa relawan untuk menjalankan visi misi di kedua panti asuhan. Nah, buat kalian yang tertarik menjadi relawan sekaligus kakak asuh untuk meningkatkan minat baca dan nulis mereka, so join us! What you have to do is peduli, berkomitmen dalam pendampingan sabtu sore jam 3-5, bisa diajak kerja sama, menyukai anak-anak, dan memiliki passion di bidang pendidikan, serta hobi membaca dan menulis. Interested to be part of our volunteer? Kebetulan banget nih, kita lagi mengadakan perekrutan relawan hingga kamis besok! So, send your curriculum vitae, riwayat organisasi dulu dan sekarang, serta alasan mengapa ingin bergabung menjadi relawan SIJ ke email: sahabatilmujambi@gmail.com.

Yang perlu kalian ketahui adalah kita tidak memberikan uang atas kebaikan dan jiwa sosial kalian dalam mentransferkan ilmu, but we give a place to contribute yourself in improving their anthusiasm on reading and writing, and sharing knowledge for Jambi kids. Untuk info lebih lanjut, bisa hubungi saya ya ^_^ Yuk menebar ilmu dan membuka cakrawala!

(NB: Para relawan yang telah lolos seleksi menjadi kakak asuh nantinya akan mendapatkan pelatihan setiap bulan, mendapatkan sertifikat untuk setiap periode yang telah disepakati, berkesempatan menjadi Volunteer of the Month, dan mendapatkan pahala atas kebaikan yang telah dijalankan, hehe)

Jambi Punyo Crito: Tur/Piknik Sambil Belajar Sejarah

Suatu sore, saya menerima sebuah obrolan di Facebook. Mas Kelik, wartawan Tribun menyarankan saya untuk melihat sebuah laporan berita dari temannya di Surabaya. Setelah dikroscek, laporan berita itu bikin saya berpikir, bagaimana rasanya berjalan kaki di luar negeri? *abaikan* *impiangalau*

Sebenarnya Mas Kelik ada rencana bikin komunitas yang dibuat dalam laporan berita itu. Napak tilas sejarah atau budaya Jambi, atau hal-hal unik yang dahulu kala pernah terjadi di Jambi dengan berjalan kaki pada akhir pekan! Woaa, saya menyambut baik dan excited, as usual, hehe.. Ternyata ajakan Mas Kelik serius, saya kira hanya wacana saja seperti pemerintah kita itu *bersungutkesal*

Dan..tadi sore, saya bertemu Mas Kelik dan Lova di Saimen Pasar. Membicarakan keinginan membuat komunitas pejalan ini di Jambi. Kami bertiga sendiri nggak punya background sejarah atau budaya di kehidupan masing-masing. Mas Kelik merupakan wartawan Tribun yang suka jalan-jalan dan menulis, Lova sendiri merupakan mahasiwi FE Unja dan menyukai Arkeologi, sedangkan saya adalah calon guru yang masih galau dengan hidup, haha.. Kami berkeinginan di Jambi juga ada komunitas yang isinya belajar sejarah, budaya, atau hal-hal menarik yang luput dari pandangan orang lain, sama seperti komunitas yang berada di Surabaya itu. Caranya? Para peserta akan menyusuri jalan sesuai rute yang telah ditetapkan untuk menuju lokasi yang sudah ditentukan. Mengeksplorasi lokasi tersebut dan saling berbagi cerita di Minggu pagi, dari pukul 06.00-11.00 WIB.

Anyway, lahirlah sebuah nama sore tadi dengan judul Jambi Punyo Crito. Nama ini awalnya dilontarkan Mas Kelik kepada saya, dan Lova serta saya menyetujuinya. Kenapa JPC? Karena JPC berusaha menghadirkan cerita-cerita sejarah, budaya, dan yang menarik dari perhatian orang lain. Ia dituangkan dalam tulisan bergaya feature, foto, dan video di blog (ini masih akan berjalan). Komunitas ini nantinya akan mengajak beberapa orang untuk ikut tur/piknik lho, jadi kalau teman-teman ingin bergabung dengan kami, free! Dalam komunitas ini, kita akan belajar dan mengenali Jambi dari hal-hal sederhana. Meski kita awalnya nggak tahu, tapi kita akan melakukan riset kecil-kecilan sebelum menuju kawasan tur. Untuk sementara ini, kami akan mencari tiga orang dari masing-masing kami untuk diajak tru. Do you wanna join us guys? ^_^

So, when it will start? Kata Mas Kelik sih, tur ini sebaiknya diadakan lebih cepat. Dua minggu atau satu bulan sekali tur juga lumayan bagus. Kami merencanakan tanggal 11 Maret 2012 melakukan tur pertama. Mau tahu rutenya? Kita akan memarkir motor sebelum jam 6 di RSUD Bratanata, kemudian jalan kaki menuju Mesjid Seribu Tiang “Al-Falah”, Menara Air disamping SD Al-Falah, Museum Perjuangan Rakyat, Bioskop Murni, Tugu Pers, dan Kuburan Belanda di Jembatan Makalam. Kita akan sama-sama mengeksplorasi daerah tersebut lho, jadi jangan khawatir nggak ngerti acaranya, hehe. Cukup siapkan energi untuk bangun pagi, air mineral, makanan secukupnya, dan tenaga buat jalan kaki. Seru kan tur kita?

So, do you interested to join us guys? Silahkan hubungi saya ya untuk info lebih lanjut. Saya akan mendata berapa orang yang bersedia ikut tur/piknik gratis ini. Psstt, tolong sebarkan juga info ini dengan teman-teman kalian ya! Yuk kenal Jambi dari hal-hal sederhana di pagi hari :D

Penelitian Skripsi, Semangaattt!

Sebel banget deh rasanya kalau ada yang nanya gini:

“Kok belum wisuda, Bel? Angkatan kalian emang belum ada satupun yang wisuda ya?”

                “Wisuda lah lagi, awak lah 5 tahun di kampus.”

Atau ini -> “Apo yang dikerjakan di kampus? Nanti kalo banyak ikut kegiatan, malah dak lulus.”

Terus, masalah buat loe? Salah gue? Salah ayah gue? Salah ibu gue? *dengannadasengit* Sebenarnya sih nggak pernah memperlambat masalah skripsi, yang berujung pada wisuda! Tapi saya yang berprinsip slow but sure ini, juga nggak mau terlena dengan berbagai aktivitas yang membuat malas mengerjakan skripsi. Buktinya saya bisa kok mengerjakannya! Memang sih jurusan bahasa Inggris agak lama wisuda, but it’s not problem for me guys. Yang terpenting adalah, setelah lulus kuliah, saya tahu mau ngapain dan saya tahu apa yang mau dikerjain sesuai passion. Nah masalahnya kan kadang kita pengen cepat wisuda tapi setelah itu bingung mau ngapain :D

Di sela-sela kegiatan sebagai jurnalis, guru, penggiat komunitas, dan suka mengikuti kegiatan di luar Jambi, tidak lantas membuat saya hilang arah dan menelantarkan skripsi. Benar kata Mom Deliata, pembimbing skripsi saya, beliau mengatakan kesibukan jangan membuat kita terlena dengan skripsi. Seharusnya itu jadi patokan bagi kita, bagaimana menyeimbangakan kegiatan di luar dengan skripsi. Akan lebih bagus lagi kalau semua itu seimbang ^_^ Saya pun mengangguk ketika suatu kali beliau menasehati saya.

Tentunya saya ingin wisuda cepet dong, tapi kalau setelah wisuda saya malah nggak ngapa-ngapain, at least kerjaan hanya di rumah doang, orangtua pasti nggak seneng dong? Maka dari itu, mulai dari sekarang, saya memperbanyak jaringan, teman, relasi, ilmu, dan kegiatan yang mengeksplorasi minat bakat saya. Saya belajar dari banyak orang untuk bisa melakukan aktivitas apapun dan menomorsatukan kepentingan di dalam keluarga. Justru ketika teman-teman mencemooh saya kapan wisuda cepat, saya sih senyum-senyum aja di dalam hati. Sambil tertawa keras, hahaha..dengan niat ingin menutup mereka pakai batu :D

Nah, selasa besok perjalanan dimulai lagi. Yup, saya mulai besok akan melakukan penelitian skripsi di SMP N 14 Jambi, sekolah dimana saya pernah melaksanakan teaching practice pada 2010 lalu, dan sempat pula mengantarkan saya menjadi 66 Petualang ACI Detikcom 2010. Meski terhambat selama satu bulan untuk mengerjakan penelitian (karena saya mengikuti Parlemen Muda Indonesia dan Indonesian Young Changemakers Summit selama tiga minggu di Jkt dan Bdg), saya nggak nyesel tuh. Malah setelah balik dari kegiatan itu saya semangat mengerjakan apapun di Jambi!

Well, doakan ya penelitian saya besok pagi yang dimulai pukul 07.15 bisa berjalan baik. Saya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari, sudah menghubungi sekolah dan mendapatkan izin, dan sudah mempersiapkan materi yang akan diajarkan. Semoga saja Allah Swt memberika kemudahan di hari pertama penelitian besok. Truly, I am proud being a teacher, ini profesi yang akan saya jalani hingga akhir hayat nanti! ^_^

Ada Cerita Di Indonesian Young Changemakers Summit

Ketika saya tahu saya lolos mengikuti kegiatan Indonesian Young Changemakers Summit pada 10-13 Februari lalu, terlintas di benak saya kejadian mendorong motor vespa bersama ayah tercinta saat kelas 2 atau 3 SD. Meski kejadian itu sudah lama, tapi saya masih ingat, yah mungkin karena diceritakan oleh orangtua juga kali ya? Intinya itu salah satu pengalaman berkesan selama di Bandung ketika masih kecil. Tentu saja keberhasilan mengikuti kegiatan itu membuat saya bisa bernostalgia lagi di Bandung ^_^

Hari Jum’at, 10 Februari, saya berangkat ke Bandung. Sendirian? Tentu saja. Saya memberanikan diri naik travel yang dijemput ke rumah mama mulkan dan mama sri di Bukit Cimanggu City. Sebelum subuh datang, saya bergegas bangun, dan menanti travel yang akan membawa saya ke daerah yang sudah lama tidak saya kunjungi itu. And the journey was started..

Indonesian Young Changemakers Summit, sebuah acara yang digagas oleh Goris Mustaqim aka Kang Goris, Pak Anies Baswedan, Kang Ridwan Kamil, Mas Sandiaga Uno, dan Ibu Tri Mumpuni. Kegiatan yang mengundang 200 pemuda se-Indonesia ini terbagi menjadi 100 changemakers (orang yang sudah melakukan perubahan paling tidak dua tahun) dan 100 observers (orang yang baru melakukan perubahan atau masih memiliki inisiatif perubahan). Saya salah satu dari 100 observers IYCS yang terpilih pada batch I.

Hari pertama kegiatan IYCS, pembukaan berlangsung di Saung Angklung Udjo. Ini adalah tempat yang dari dulu saya ingin kunjungi, seriously! Saya yang suka budaya pun seneng banget :D Pertunjukan budaya Sunda ditemani padunan suara angklung di tengah malam bersama panitia dan peserta membuat saya berasa lebih hidup. Penampilan Babendjo, komunitas musik tradisional di saung ini pun mempertunjukkan kemampuannya yang bikin saya terpesona, woowww it’s amazing! Sayangnya pertujukan itu dilaksanakan pada malam hari, jadi saya nggak bisa lihat souvenir yang dijual di tempat ini. All in all, pertunjukan malam itu juga terekam bersama makanan khas Sunda yang disantap bersama teman-teman. Agaknya lidah saya gak sesuai nih dengan makanan Sunda, hehe..

Bertemu dengan 199 orang yang memiliki visi sama, memajukan Indonesia dengan passionnya masing-masing, betul-betul membuat saya bahagia. Kenapa begitu? Karena saya yang notabene anak daerah punya kesempatan belajar dari orang-orang hebat yang telah melakukan perubahan. Sungguh suatu kesempatan yang jarang saya temui di Jambi. Maka dari itu, saya memanfaatkan pertemuan dengan mereka untuk berdiskusi, meminta saran, dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya.

Dari segi speaker,  nama-nama seperti Pak Anies Baswedan, Pak Sandiaga Uno, Kang Ridwan Kamil, Ibu Tri Mumpuni, Pak Dahlan Iskan, Pak Lendo Novo, Pak Joko Widodo, Prof. M. Yunus, dan lainnya membuka cakrawala saya. They give brief presentation, what we have to do as youth, and what should we give for better of Indonesia. Sempat pula saya berfoto dengan salah satu diantara mereka, sekedar say hello dan jika mereka ada waktu, saya sempatkan untuk berdiskusi. Selain itu, pertemuan saya dengan beberapa changemakers dan observers yang nggak bisa disebutkan satu persatu disini memberikan saya kekuatan bahwa BANYAK BANGET pemuda yang mau berkorban dan berjuang untuk Indonesia. Meski mereka awalnya ditentang, awalnya mengalami hambatan, tapi mereka tetap berjuang. Mereka percaya bahwa dari hal-hal kecil atas permasalahan yang ada di sekitarmereka, perubahan dapat terwujud jika dijalankan dengan konsisten, fokus, dan amanah.

Ow ya, kami juga dikasih materi open space discussion, sebuah materi diskusi yang baru saya ketahui. Dan yang kasih materi adalah salah satu petualang ACI detikcom 2010, mas Endro, eciee akhirnya mas ini eksis juga di kegiatan anak muda :D Setelah dulu pada tahun 2010 ketemu mas Endro dan kasih kopi bubuk AAA dari Jambi, kemarin ketemu lagi. Hari itu kami digembleng abis, diberi materi dari pagi hingga malam. Diberi kesempatan olahraga pagi bersama pak Dahlan Iskan di Sabuga. Dilanjutkan dengan tur di Museum Konferensi Asia Afrika (kedua kalinya kesini dengan rentang waktu yang cukup lama), dan berakhir di tempat penginapan Wisma Pendawa, Jl. Cimbeleuit :D

Keesokan harinya kami memiliki agenda yang bikin jiwa saya berdebar. Hari tersebut merupakan presentasi beberapa 100 changemakers, mereka berbicara mengenai proyek sosial yang telah mereka lakukan dan memiliki dampak positif di sekitar mereka. Sekali lagi, saya berdecak kagum melihat mereka. Banyak banget ide setelah saya melihat presentasi mereka dan ingin berbuat sesuatu lebih banyak untuk Jambi. Ada diantara mereka yang memberikan kredit mikro bagi masyarakat menengah ke bawah, memberikan pemahaman green lifestyle di kalangan masyarakat kota, berjuang mengadakan perbaikan hutan yang rusak, memberikan wirausaha bagi siswa pesantren, mendirikan komunitas relawan untuk ditempatkan di daerah bencana, membuat komunitas penggiat museum dan sejarah Indonesia dengan gaya yang asyik, menjadikan 890 permainan tradisional se-Indonesia dikenal masyarakat, dan lainnya!

Gedung Menggugat dimana hari itu kami berada seakan runtuh karena suasana yang semarak. Apalagi ketika kami mengikrarkan sumpah pemuda jilid 2.0, kami seakan diminta untuk benar-benar melakukan ikrar tersebut. Mau tahu apa sumpah pemuda jilid 2.0 pada 120212 kemarin?

  1. Kami putra putri Indonesia, bersumpah untuk menegakkan integritas dan kepedulian demi mewujudkan Indonesia adil dan sejahtera
  2. Kami, putra putri Indonesia, bersumpah untuk berkreasi dan berkolaborasi demi mewujudkan Indonesia unggul dan berdaya saing
  3. Kami, putra putri Indonesia, bersumpah untuk bekerja keras dan bertanggung jawab demi Indonesia lestari, selaras dalam keragaman

Malam harinya adalah malam penutupan di Gedung Sate, kantor gubernur Bandung. Saya seperti deja vu lho. Seakan ingat kembali mendorong vespa dari gedung sate itu bersama ayah, hehe.. Ow ya di gedung tersebut kami mengadakan perpisahan dan jamuan makan malam dari pemerintah setempat. Keesokan harinya kami berkunjung ke beberapa komunitas yang ada di Bandung. Saya sendiri memilih ke Komunitas Hong, ingin mengetahui dan bermain permainan tradisional Indonesia. Saya pun bermain bedil jepret, papan jakan, gasingan, dan momonyetan. Karena kelompok bermain saya mendapatkan poin terbanyak, jadi kami mendapatkan satu hadiah lho! *senangnya*

Satu kata untuk IYCS -> AWESOME! Terima kasih telah memilih saya untuk berada disana ^_^ Terima kasih atas kesempatannya untuk belajar dari orang-orang hebat!

Observers IYCS di depan Gedung Indonesia Menggugat

Catatan Dibalik Parlemen Muda Indonesia

Siang itu di bandara saya kasak kusuk menanti satu personil, Maya, untuk sama-sama berangkat ke Jakarta. Sudah lewat 12.15, dan yang dinanti tidak kunjung tiba. Jam di handphone bergerak cepat, seakan tidak sabar menuju ke 12.35, dimana pesawat Batavia Air akan membawa saya, Yunia, dan Maya ke Jakarta. Yup, Parlemen Muda Indonesia yang telah lama dinantikan akhirnya tiba juga. 28 Januari 2012 adalah permulaannya.

Sekelebat bayangan perempuan tinggi yang sedang mencari-cari saya dan Yunia akhirnya tampak! Well, ini bikin saya deg-degan abis. Pesawat 15 menit lagi akan meluncur tapi satu personil belum dateng. Rasanya gimana gitu ya. Alhasil ketika Maya sudah berada di sisi kami kala itu, langsung saja saya bergegas ke dalam ruang tunggu bandara, dan berpamitan dengan keluarga.

This is the journey! Saya selalu suka melakukan perjalanan dengan tujuan yang saya sukai, entah itu untuk jalan-jalan atau mengikuti kegiatan kepemudaan dan pengembangan diri seperti Parlemen Muda Indonesia. And I love to meet new people in my life ^_^ Setiap acara yang saya ikuti di tingkat nasional selalu punya kesan tersendiri. Semuanya keren dan bikin diri saya sadar bahwa Bella Moulina itu masih kecil, masih perlu banyak belajar dari mereka yang hebat-hebat. Dan Parlemen Muda Indonesia atau yang disingkat PMI membuktikan itu. I learn so much from this event!

Jujur, awalnya saya berekspektasi bahwa kata ‘parlemen’ identik dengan politik yang banget banget banget! Well, pandangan itu sedikit berubah ketika saya melihat website parlemenmuda.org dan indonesianfutureleaders.org yang menyatakan bahwa PMI merupakan tempat belajar politik dengan khas anak muda. Awalnya sih memang mengernyitkan dahi. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang nggak suka politik dan sedikit ‘apatis’. Benar kata Iman, pendiri IFL sekaligus direktur PMI, banyak anak muda yang apatis dengan politik, dan saya salah satunya. Saya sadari ini dikarenakan sikap politisi banyak yang bikin nyesek hati dan nggak menyentuh rakyat. Pandangan ini semakin diperkuat dengan carut marutnya pemerintahan RI. Lantas apa mau diam di tempat? Then let’s do something!

PMI membuat saya belajar banyak hal, nggak melulu soal politik kok. Saya yang suka bertemu dengan banyak orang tentu saja punya banyak teman setelah mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai karakter dan kehidupan yang berbeda. Setiap orang dari mereka memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata (ecieee..). Bahkan saya sudah menuliskan karakter mereka (30 delegasi dari 21 provinsi) dalam sebuah catatan sebelumnya. Saya belajar dari karakter mereka, yang pendiam, yang suka kasih kritik dan saran, yang slow but sure, yang suka menertawai dan dtertawai, yang ramah, dan yang aneh, haha.. Meski saya tidak banyak omong dalam kegiatan ini, bukan berarti saya nggak turut andil lho. Rasanya kalau sudah ketemu banyak orang, saya jadi pendiam dan jadi pengamat :D

Nah, nggak hanya teman dari beragam karakter saja yang saya temui. Para panitia dan pembicara yang saya temui pun hebat-hebat! Mereka bekerja dan berbicara untuk kami, para delegasi. Contohnya saja panitia PMI yang dari pagi sampai malam pontang-panting ngurusin 30 pemuda yang banyak cakap ini, kemudian dipastikan mereka lembur dalam menyelesaikan tugas yang belum terurus. Di sisi lain Iman juga pernah bilang satu bulan sebelum acar dimulai, dana belum ada. And guess what? Acara ini tetap berjalan lancar meski dana berada di ujung permulaan acara, hehe.. They work hard :D Sebagian panitia juga enak diajak ngobrol, seperti Berdi, Kiki, dan satu lagi mbak yang nyemangatin saya supaya cepet menyelesaikan skripsi (alahhh, haha..), saya lupa namanya siapa, yang jelas beliau rambut panjangnya berombak gitu. Kerja keras mereka terlihat dari kesempurnaan acara yang dari hari ke hari menyuguhkan tampilan menarik dan dikemas agar kami nggak kelimpungan.

Selain panitia, pembicara pun nggak kalah mengagumkan! Saya bisa ketemu langsung Pak Irman Gusman, Pak Anies Baswedan, Pak Joko Widodo, Kak Cea, Mas Leo, Mbak Ayu, Marshanda, Dik Doank, dan lainnya. They are inspiring, they are awesome, and they make me believe that Indonesia still has many heroes to give positive contribution for its country! Saya berandai-andai kalau saja Pak Anies Baswedan dan Pak Joko Widodo bisa disulap ke Jambi, atau mereka punya duplikatnya, alangkah indahnya negeri sepucuk nipah serumpun nibung itu ^_^ Atau semakin banyak pemuda yang berkontribusi bagi daerahnya seperti Kak Cea, Mbak Ayu, dan lainnya, maka makmurlah masyarakatnya! Oh well, yang jelas konferensi Meet the Leaders 29 Januari bikin semangat saya tumbuh lagi.

PMI juga memberi banyak kenangan bagi saya. Pertama saya diwawancarai oleh DAAI TV, dimana pak Hong Tjhin bertanya soal komunitas saya dan teman-teman gawangi di Jambi, yakni Sahabat Ilmu Jambi. Thanks to Iman for the chance, saya bisa memperkenalkan SIJ lebih luas. Sebenarnya nggak nyangka kenapa komunitas tersebut yang dipilih, dan saya rasa masih banyak komunitas atau proyek teman-teman PMI lainyang lebih bagus, tapi tangan Tuhan berkata lain. Saat wawancara saya ditanya banyak hal soal SIJ, mereka pun direncakan akan ke Jambi untuk mengambil gambar. Satu hal yang membuat saya agak riweh adalah dimake up! Rasanya udah berapa tahun gitu nggak dimake up, eh tahunya pas wawancara malah dimake up. :D

Ow ya pengalaman mengesankan kedua adalah saya bisa ketemu orang-orang yang sudah lama saya kenal via social media. Kak Cea contohnya, saya kenal beliau nggak sengaja, entah karena ngeadd kak Cea dari Gracia Paramitha, atau siapa yang ngeadd duluan saya udah lupa, hehe. Yang jelas tahun 2010 kalau nggak salah saya kenal kak Cea, kemudian berlanjut ke twitter, dan sempat banyak tanya soal KOPHI, eh nggak tahunya ketemu di PMI ketika beliau jd pembicara :D Ada juga si Angga, moderator di acara PMI, anak asli Kerinci Jambi ini bikin saya bangga bahwa dia bisa sejajar dengan teman-teman yang hebat di atas panggung. Saya mengenal Angga juga dari twitter dan nggak sengaja, hehe. We meet then finally! Nah, pertemuan yang nggak disangka itu terjadi pada saya dan sepupu, Tian. Ternyata Tian tahu saya ikut PMI dari facebook, kemudian ia memutuskan ikut seminar dimana saya dan teman-teman juga nimbrung di dalamnya. Tiba-tiba sebelum saya wawancara itu, ada cowok manggil Kak Bella, dan ketika menoleh Tian! Haha, antara shock dan nggak percaya kenapa bisa ketemu sepupu yang udah lama nggak ketemu di RRI. Meski nggak bisa ngobrol lama, rasanya PMI memberi saya keajaiban kala itu ^_^

Hari-hari selanjutnya diisi dengan sidang. Yup, sidang layaknya anggota DPR gitu, bikin otak saya panas sekaligus menegangkan. Ternyata merumuskan masalah dan mencari solusi yang dilakukan para anggota DPR itu nggak semulus dan semudah yang dikira. Kami saja yang diberikan tiga tema (pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup) harus membuatnya dalam tiga hari berturut-turut, non stop pula, phiuhh! Dalam tiga hari itu kami seperti anggota DPR beneran, saling kritik dan kasih saran, tanya jawab yang menegangkan, dan sejuta perasaan yang harus dibendung ketika rekomendasi yang dibuat nggak masuk dalam persetujuan. Ini pelajaran berharga selama sidang: lapang dada saat rekomendasi nggak banyak disetujui orang dan menghormati orang lain ketika berbicara. Pelajaran penting tersebut akan saya ingat sepanjang hidup. Betapa banyaknya kepala dengan segudang ide brilian siap dituangkan dalam satu kertas, namun hanya beberapa yang diambil, kita pun harus bijaksana dalam mengambil sikap. Untungnya nggak ada peserta yang saling menghujat tuh, mereka bekerja dengan hormat dan sopan. Senangnya kalau ingat sikap pemuda Indonesia seperti ini :’)

Selain sidang, kami juga diberikan materi di setiap malamnya. Dari berbagai orang penting itulah saya belajar. Bagaimana membangun karakter, membangun komunitas, membuat orang tertarik dengan apa yang dipresentasikan, menciptakan suasana nyaman antar anggota, berdiskusi, dan bertanya secara lugas. Pembicara tiap malam ini berbeda-beda, Mbak Dyah dari McKinsey, Mas Agni dari Ashoka Young Changemakers, Mas Arief Aziz dari TedX Jakarta, serta Iman dan Afu dari IFL. Totally, presentasi yang mereka bawakan membuka cakrawal saya. Dari yang nggak tahu menjadi tahu. Ilmu itu benar-benar nggak sebatas bangku kuliah saja lho, ilmu bisa didapatkan dari mereka baik yang sudah dewasa ataupun masih muda.

Di hari terakhir PMI, kami membawa rekomendasi dari tiga tema yang telah dirumuskan beberapa hari sebelumnya. Kami bersama-sama ke Kementrian Pemuda dan Olahraga, lalu dilanjutkan ke DPD RI Kementrian Pendidikan dan Budaya Nasional, Kementrian kesehatan, dan Kementrian Lingkungan Hidup. Parahnya ketika hari terakhir ini, saya dan teman sekamar malah telat bangun! Haha..alhasil nebeng mobilnya Maulana untuk mengejar peserta lain yang sudah sampai di kemenpora :D Ow ya saya sendiri kebagian berkunjung ke Kemendiknas, karena saya memilih kementrian ini yang sesuai dengan passion saya di bidang pendidikan. Ingin sekali suatu saat bisa jadi Menteri Pendidikan, pengin menyejahterakan semua anak Indonesia dari pendidikannya. I wish, I can make it happen insyaallah ^_^

At the night, peserta PMI berbondong-bondong ke Nasi Goreng Kemang, tempat paling hip buat anak gahol Jakarta gitu deh. :D Lebih kerennya, kami para peserta memakai pakaian adat masing-masing daerah. Bisa dibayangin datang ke Kemang pakai pakaian adat gitu? Tapi kita tetep PD dong! Kami hampir semua memakai pakaian daerah, meski ada juga yang memakai batik resmi. Saya sendiri memakai pakaian yang dibaluti kain batik Jambi, baju kurung, dan tengkuluk di atas kepala. Pakaian ini bikin saya bangga jadi pemuda Jambi, meski saya aslinya orang Palembang, hehe.. Malam itu bener-bener nggak akan dilupakan deh! Malam dimana kami senang bareng-bareng, banyak foto-foto dan makan-makan, serta joget bersama sebelum esok harinya kami balik ke daerah. Oh ya waktu joget bersama itu, teman-teman asli parah banget! Jogetnya ala alay-alay ada, yang nyanyi sambil teriak-teriak juga ada, yang diangkat badannya ke atas oleh teman-teman juga ada, dan lucunya si Iman tanpa malu-malu joget di tengah-tengah peserta :D Nggak nyangka seorang Iman bisa total dalam hal ini ya? Hehe.. Sayangnya inisiatif Iman ini nggak diikuti oleh panitia lain, kalo panitia rame joget kan seru tuh, kolaborasi antara panitia dan peserta jadinya :D

Daaannnnn..tulisan ini sudah tiga halaman ditulis di layar laptop malam ini. Sepertinya kalo mo jujur sih bisa sampai 10 halaman, tapi yang sekiranya penting sih hanya tiga halaman lebih sedikit ini. Kenangan satu lagi yang nggak terlupakan adalah Sigit. Seorang cowok yang hadir di acara Meet the Leaders, yang membuat peserta semakin akrab dan kompak ketawa bareng gara-gara dia, haha.. I still can laugh by myself if I remember this :D Saya berharap saya bisa bertemu dengan Sigit suatu saat nanti, dan bilang kepadanya bahwa dia lah yang membuat PMI berwarna. Karena kekonyolan dia yang memanggil Marshanda dan sok dekat dengan peserta PMI, kami tambah kompak. Thank Sigit, you are is our inspiration!

Kami, parlemen muda indonesia!

All in all, saya katakan pada Iman sewaktu acara penutupan di Nasgor Kemang dahulu bahwa saya nggak nyesal tiap kali ikut kegiatan nasional. Dan PMI benar-benar sukses bikin saya tersenyum malam itu. Nggak sia-sia selama ini meminta dukungan dengan orang-orang yang saya temui. Acara ini berjalan sukses, dan membekas paling baik di untuk saat ini. Terlepas dari segala omongan orang yang mencap bahwa ini tidak baik atau segalanya, Iman membuktikan bahwa PMI sangat berkesan di hati kami semua. Kami tidak peduli apa tanggapan orang lain, yang jelas setelah acara ini kami akan melanjutkan perjuangan di komunitas masing-masing, atau membentuk komunitas baru, dan bahkan membawa tiga rekomendasi yang telah dirumuskan tersebut ke pemerintah daerah. Dengan harapan tentunya suara pemuda ini benar-benar didengar. Nurani bangsa ini tercetus dari keanekaragaman peserta dan kesungguhan peserta untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Yup, because we are Indonesian youth, we are one, and we can make a change! “Parlemen Muda Indonesia, suara pemuda, nurani bangsa!” Sayup-sayup suara ini terngiang di kepala dalam ruangan kamar tidur di Bogor, 9-10 Februari 2012. ^_^ How I miss them so much!

Parlemen Muda Indonesia: Mereka Dalam Satu Paragrap

Ini untuk kesekian kalinya saya bertemu dengan beberapa pemuda Indonesia yang unik, aneh, dan bersemangat. Mereka tergabung dalam suatu acara yang diadakan oleh Indonesian Future Leaders, Parlemen Muda Indonesia namanya. Acara yang sebelumnya bikin saya mengernyitkan dahi dengan kata ‘parlemen’ dan tentu saja berhubungan dengan politiik, akhirnya berubah ketika bercengkrama dengan 29 delegasi dari beberapa provinsi ini.

Anyway, they are totally awesome! Saya nggak nyangka ketemu orang yang sedemikian aktifnya ngomong dan menertawakan sesuatu yang bikin perut sampai mules. Awalnya saya kira saya akan bertemu dengan orang-orang yang ngomongnya soal politik melulu, eh nggak tahunya yang diomongin malah Sigit. Nah lho? Haha..

Btw, berhubung saya kangen dengan semua teman-teman PMI, ini sedikit deskripsi singkat mengenai diri kalian ya. Nggak tahu sih bener ato nggak, cuma buat mengenang kekocakan kalian saja di hati saya #eciiieee. Silahkan disimak dengan senyuman menawan ^_^

1. Jaka: Delegasi dari Medan ini lumayan tinggi untuk ukuran cowok. Dia tipikal cowok yang irit omong dan ramah. Meski saya mengira orang Medan banyak yang galak, tapi Jaka nggak tuh. Dia malah suka senyum dan enak diajak ngobrol. Alhamdulillah dia nggak termasuk orang Medan yang suka bentak-bentak saya :D

2. Fadhil: Ini adalah delegasi cowok pertama yang saya temui di KFC bandara Soetta pada 28 Januari lalu. Baru ketemu aja saya udah menebaknya sebagai cowok metroseksual, suka bergaya dan narsis, haha.. Pasalnya nih anak pake kacamata dan menenteng kopernya saat masuk KFC, gaya banget deh! Dia juga yang pesawatnya ketinggalan pas mo berangkat ke Jakarta. Lain kali jangan diulangi lagi ya dek Fadhil  Ow ya, banyaknya foto-foto Fadhil di kamera dengan gaya ala model itu membuat saya percaya bahwa delegasi dari Medan ini akan lebih sukses jadi model L-Men :D

3. Ikbal: Dia orang Palembang, sama seperti saya. Kalo ngomong hidungnya suka naik-naik bersamaan dengan matanya. Cukup tinggi dan sulit dijangkau haha.. Ikbal tipikal cowok yang irit bicara juga, tapi kalo dia udah ngomong nyelekit banget lho. Pernah waktu dia gak setuju ama pendapat orang dalam sidang, kelihatan banget Palembangnya -___- Tagline unik dari Ikbal? Anda teman saya, saya teman anda. :D Kita semua berteman kok Bal, haha..

4. Puput: Cewek asli Kerinci yang kini menetap di Padang ini merupakan salah satu delegasi termuda di PMI. Secara masih SMA hehe.. Agak pendiam sih, tapi keterpendiamannya itu gak menyurutkan langkahnya untuk ikut PMI. Dia semangat banget nyeritain kisahnya ama saya sewaktu ikut PMI. Terbukti dia rela meninggalkan sekolahnya untuk sementara meski ia sebentar lagi akan UAN. Puput, apakah kau sadar hingga saat ini minyak anginmu dengan kakak? Ini jadi hak paten kakak sepertinya :D

5. Retno: Saya baru tahu kalau cewek yang jadi delegasi Riau ini asli kelahiran Lampung. Ia termasuk kategori cewek yang pendiam menurut saya. Retno awalnya saya kira masih SMA, tapi ia mengklarifikasinya setelah itu, “Saya udah kuliah kakak.” Btw, cewek ini nggak tahu kenapa bisa terdampar di Riau ya? Kamu bisa jelasin ke kakak Retno, kenapa terdampar jauh sekali ke Riau sana? ^_^

6. Wai: Berbadan imut bukan berarti berdiam diri. Cewek yang menjadi delegasi Jambi ini sangat kritis dan suka bercerita. Saya ingat betul waktu itu malam apa gitu, kami ngobrol di luar kamar hingga dua jam, padahal mata udah krenyep-krenyep lho, haha.. Seinget saya dari jam 10 an sampai 12 obrolan baru selesai dan kami mundur teratur ke kamar masing-masing. Haha..Wai emang banyak banget bercerita, apa aja, soal semasa SMA hingga ia menjadi wanita yang harus berkelana dan survive di Jakarta yang sangat keras ini. Terima kasih juga telah menumpangi saya tempat berteduh selama dua hari ya Wai 

7. Panji: Delegasi dari Banten ini kalo senyum bikin ngakak. Apalagi kalo udah ngajak ketawa, raut mukanya berubah seratus dua puluh lima persen! Entah lah, kalo ingat muka Panji ini saya jadi ingat muka warga suku Baduy beneran, haha.. Ditambah pula ketika ia memakai baju khas Baduy, lengkaplah sudah saya ingin nyuruh anak SMA ini jadi warga Baduy :D Selain itu, Panji adalah sosok adek yang enak diajak ngobrol dan mau bekerja keras. Semoga lulus SMA nanti bisa masuk UI ya!

8. Bunga: Dia adalah perempuan yang juga masuk kategori nggak banyak bicara dan merupakan delegasi dari Jogja, kota dimana aku pengin banget suatu hari bisa kesana. Meski irit bicara, namun sekalinya omongan Bunga keluar, mantep banget lho. Posturnya yang cilik nggak nunjukin kalo prestasinya cilik. Terbukti dia seringkali menjuarai lomba debat lho, sesuatu hal yang jarang banget saya sentuh dalam cabang lomba ini ^_^

9. Syifa: Postur badannya yang gede lumayan menarik perhatian kami. Saya dan Syifa emang jarang ngomong, hehe, kenapa ya? Tapi menurut saya Syifa itu mudah bergaul dengan siapa saja, suka menyuarakan pendapatnya dan nggak malu untuk bicara di depan banyak orang. Cewek delegasi dari Surabaya ini hobi nyanyi lho, tapi sampai sekarang saya nggak pernah denger dia nyanyi, tanya kenapa? :D

10. Rian: Awalnya saya mengira Rian beneran dari Bali, eh nggak tahunya asli Kalimantan! Haha.. Usut punya usut ternyata dia merantau ke Bali. Bagi saya merantau ke Bali itu bukan saja untuk urusan kuliah, namun juga jalan-jalan seumur hidup! :D Btw, Rian sempat minta tolong ke saya buat milihin tas untuk ibunya sewaktu jalan-jalan di Blok M kemarin. Pilihan tas itu jatuh pada bentuk yang simpel dan warna cokelat. Ibumu suka gak Rian pilihanku itu? Hehe..

11. Kak Ardhy: Sejak awal lihat kak Ardhy di ruangan pertama kali bertemu, saya udah bisa menerka bahwa dia orangnya aktif banget, dan bener sodara2 ;D Kak Ardhy emang tipikal yang nggak bisa diem. Ada aja jadi bahan pembicarannya, termasuk ngomentarin soal kegiatan sidang. Saya rasa otak kakak perwakilan Maluku ini penuh banget dengan informasi yang nggak habisnya! Transfer dong kakak ke otak saya yang agak lemot ini. Ow ya, setelah dipikir-pikir, kak Ardhy kok mirip Olga ya kalo lagi manyun dan ngelawak? ^_^

12. Miftah: Cowok ini punya segudang aktifitas yang bikin saya “ckckckck.” Perwakilan dari Nusa Tenggara Barat ini adalah partner saya ketika diwawancarai oleh DAAI TV. Kebetulan banget bisa ngobrol ama dia karena wawancara itu, bisa gali ilmu dari dia, dan anaknya ramah banget. Dia juga udah pernah nelurin buku yang bikin saya pengen bikin buku juga! Mungkin suatu saat kalau saya bikin buku, bikinnya di publishing dia aja deh hehe.

13. Iona: Cewek asli Makassar yang saya pikir adalah asli Sunda. Nggak tahunya beneran Makassar! Perawakan sih gak nunjukin anak Makassar, ngomong pun lemah lembut, hehe.. Saya pernah dapet cerita dari Iona soal praktek bullying di SMA nya dulu. Ckckck, untung cewek secantik Iona gak kena bullying ya, kalo nggak cowok-cowok di PMI gak bakal ketemu kamu Iona :D

14. Rezha: Paling gokil asli! Nih cowok emang membawa nama Sulawesi Tenggara, meski ia sendiri kuliah di Jogja. Rezha cukup membuat saya terkesima dengan suaranya yang melengking dan serak basah. Ketika ngomong pun menggebu-gebu banget, kayak mo makan orang aja, sumpah haha.. Apalagi waktu dia nunjukin data pas sidang dengan angkat laptop, saya takut laptop itu dihempaskannya ke lantai gara-gara kesal :D Aduh Rezha, saya masih inget nih tangisanmu sebelum bis itu membawa kalian pergi dari wisma. Beda banget ekspresinya dari biasanya :D

15. Azwar: Dikenal ama anak-anak PMI sebagai orang yang loyal. Kata mereka sih perwakilan dari Kalimantan Timur ini suka traktir gitu, sayangnya sampai sekarang saya belum pernah ditraktir makan ama Azwar, haha.. Cowok ini lumayan tinggi dan irit bicara. Suka manggil dengan adinda, dan kalo ngegombal bikin ngakak :D Anyway, karena saya belum pernah ditraktir, jadi Azwar traktir saya ke Derawan aja someday ya!

16. Kak Yuza: Selain kak Ardhy yang merupakan senior di PMI, kak Yuza juga senior yang baik hatinya, nggak sombong, dan mau berbagi ilmu. Dari penampilannya sih udah ketahuan kalo kak Yuza delegasi dari Bandung ini punya banyak ilmu, terbukti dari idenesia.tv yang ia buat lho! Cara ngomongnya juga pelan, gaya khas Sunda, dan paling jago bikin advokasi di PMI menurut saya. Eh bener nggak sih? Hehe..

17. Yudha: Saya lumayan shock banget pas lihat Yudha lebih dahulu tidur daripada anak-anak cowok lainnya ketika ngintip ke kamar, haha.. Kayaknya waktu itu dia capke banget jadi lebih dahulu tidur daripada yang lain hehe. Mewakili Semarang yang kotanya multikultural membuat Yudha cepat beradaptasi, dan saya rasakan betul dari dia. Doakan saya bisa berkunjung ke kotamu setelah wisuda ya Yud ^_^

18. Vanya: Ngeliat cewek yang mewakili Kalimantan Barat ini serasa melihat kanjeng mami di global tv itu :D Awalnya takut sih ngeliat Vanya, takut dimarahin :D Eh setelah tahu dia hobi ngebanyol, hilang deh rasa takut saya. Dia hobi banget ketawa, dan kalo udah ketawa seisi bis ngikik ngikutin ketawanya dia! Haha.. Vanya juga jago make up lho, dan ini bikin saya berbanding terbalik dari dia. Junior lebih jago make up-an gila!

19. Azhar: Cowok yang mewakili Kalimantan Selatan ini jarang banget bicara. Ini perasaan saya lho, atau saya yang nggak pernah bicara ke dia? Hehe.. Azhar, saya yakin setelah ikut PMI ini kamu akan lebih banyak omong terutama ngomongin Sigit :D

20. Anthony: Well, dia adalah cowok yang menurut saya pendiam, dan dia juga lah cowok yang nggak dateng dari hari pertama sidang sampai penutupan. Sedih rasanya -____- Karena hari pertama dan kedua PMI dia datang, tapi sewaktu sidang hingga hari terakhir dia nggak bisa hadir karena kerja. Semoga bisa ketemu lagi nanti ya Anthony, delegasi dari Jakarta 

21. Candra: Nama ini bukan nama cowok. Dia murni cewek! Dan dia menjadi wakil provinsi terbaik di PMI ini lho. Candra aktif di kegiatan pendidikan dan tipikal cewek yang nggak banyak bicara, namun sekali bicara, wuidihhh ngena banget ^_^ Candra adalah perwakilan Lampung yang sepertinya menganut sistem: Diam adalah emas :D

22. Maulidia: Cewek yang tinggal dan asli Aceh ini logatnya agak beda dari yang lain. Saya butuh waktu untuk mencerna kalimat yang diutarakan Lidia dalam logat Aceh itu. Lidia juga sempat menginap di kamar saya bersama Iona dan Fera. Meski pendiam, tapi sebenarnya Lidia adalah cewek yang banyak tanya karena selama ini menurut saya dia lumayan banyak menanyakan berbagai kepada saya hehe..

23. Maya: Teman seperjuangan dari Jambi bersama Yunia, mencari dana bersama-sama untuk berangkat ke Jakarta. Maya lumayan banyak omong dalam sidang PMI kemarin, dan ia lumayan kritis, agak beda dengan saya ya? Eh well perjuangan kita belum selesai kan May di rektorat? Hehe..

24. Yunia: Saya lihat cewek ini paling cepet akrab dengan cowok-cowok dibandingkan saya dan Maya, entah karena kharismanya atau sesuatu? Hehe.. Yunia juga banyak bicara selama sidang, backgroundnya yang belajar di fakultas Hukum membuat Yunia punya modal besar untuk berdebat panjang. Dan lagi-lagi ia berbeda dengan saya hehe.

25. Aris: Cowok asli Lampung ini merupakan duplikat Sigit! Dia total banget berakting menjadi Sigit kedua haha.. Tampangnya lumayan lucu buat dijadiin bahan tertawa maka dari itu penamaan Sigit kedua jatuh kepada dia ;D Meski galau di hari terakhir PMI, ia akhirnya memutuskan balik ke Lampung setelah galau siangnya balik atau nggak, dasar Sigit! :D

26. Ega: Cewek yang katanya mau jalan-jalan keluar dari Palembang tapi nggak tahu ama siapa dan takut nggak diizinin ama orangtua ini lumayan nggak banyak omong. Ia ternyata terlibat aktif dalam sejumlah kumpulan cerpen lho. Nah suatu saat kalo jadi jalan-jalan, kita pergi barengan ya Ga, biar ortumu percaya kalo anak ceweknya nggak jalan-jalan ke tempat yang aneh-aneh haha..

27. Fera: Dia adalah cewek pertama yang saya temui di KFC Soetta setelah dia tiba. Awalnya dia hanya berguyon mau sekamar dengan salah satu dari saya, Maya, atau Yunia, eh akhirnya guyonan tersebut emang bener. Kami satu kamar! Fera rupanya aktif banget di kegiatan karya tulis ilmiah, bahkan pernah sampai ke Makassar Juni kemarin. Anyway, saya tahu kalau Fera sayang banget dengan adiknya lho ^_^

28. Firman: Delegasi undangan juga dari Jakarta ini merupakan seorang peneliti yang gaya bicaranya menurut saya khas banget! Otaknya pun encer banget deh, terbukti dia pernah beberapa kali menjuarai penelitian dan proyek sosialnya dinobatkan sebagai proyek sosial terbaik oleh PMI! Saya merasa, Firman agak jarang bergaul dengan cowok, eh bener nggak ya atau hanya kegalauan saja? :D

29. Kris: Pagi tadi barusan ketawa haha hihi dengan kris lewat telepon. Karena itulah dia bikin saya pengin nulis soal PMI ^_^ Ternyata dia ngidolain seseorang sodar2, ehm haha.. Dan Kris nggak salah lho, wajar banget kalo kita punya idola. Saya pun juga punya idola di hidup ini. Kris, kakak doain semoga kamu masuk UI ya hehe.

30. Josuke: Saya mengira Josuke dari foto merupakan cowok bertubuh semampai, tapi pas lihat langsung ternyata ia paling kecil dibanding teman-teman cowok lainnya hehe. Joko sudah sejak lama mengenal Iman ternyata, dan sudah sejak lama pula terlibat aktif dalam kegiatan anak. Meski nggak banyak omong pas di PMI, saya yakin Josuke pasti punya segudang ilmu yang siap ia bagikan!

31. SIGIT: Ini nama yang bikin peserta ngakak selama beberapa hari, meski ia sendiri bukan menjadi peserta PMI. Berawal dari kelakuan cowok yang nyeletuk saat konferensi PMI yang Meet the Leaders, hingga celetukan dia soal suami Marshanda itulah yang bikin kami keluarga PMI jadi makin akrab. Awalnya saya nggak ngeh siapa Sigit ini, tapi setelah tahu pelakunya adalah dia, haha..saya langsung ikut ngakak! Tetapi dia sempat berbaik hati lho mengambil gambar saya dengan kak Cea, ah Sigit..terima kasih banyak, semoga suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi :D Guys, segitu dulu cerita tentang kalian, kalo ada salah kata-kata mohon dimaafkan ya, ini sekedar sharing dan pelepas kangen dengan kalian. Kalo mo nambahin deskripsi teman-teman lain, yuk monggo :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.